-->
Cari Berita

Breaking News

Baca Puisi Syaifuddin-Isbedy Satu Komal, Alhamdulillah Lancar!

Dibaca : 0
 
Kamis, 01 Januari 2026



INILAMPUNG.COM, Bandar Lampung -- Baca Puisi Dua Penyair Satu Komal di Tik Tok, Isbedy Stiawan ZS (Lampung) dan Syaifuddin Gani (Kendari, Sulawesi Tenggara), Rabu 31 Desember 2025 malam, meski suasana hujan di luar yang mengkhawatirkan akan mengganggu koneksi internet, alhamdulillah berjalan lancar dan sukses.

Acara yang dipandu Kata Hati Mala, seorang tiktoker yang kerap menghelat pembacaan puisi di Tik Tok, dikunjungi netizen. Ada yang cuma mampir sebentar, selewat, tapi banyak ngejogin hingga selesai. 


Tiga penanya mendapat hadiah karena pertanyaannya yang dinilai baik dan edukatif. Mereka adalah Eros, Mustofa Sidik, dan Alip Putra Siprama. 


Sesi baca puisi yang ditaja Lamban Sastra dan Pustaka Kabanti ini ditutup dengan kehadiran Catatan Biru dari Habbats Drink Bandung sebagai sponsor acara, dan penyair Bode Riswandi.


Bode mendukung acara baca puisi di Tik Tok dalam upaya apresiasi untuk mengenalkan karya puisi di masyarakat. Sementara Catatan Biru mendukung kegiatan sastra di dunia maya seperti Tik Tok. “InsyaAllah jika masih mampu, saya dukung,” katanya. 


Berikut ini, pendapat penyair Syaifuddin Gani diambil dari status FB-nya, Kamis 1 Januari 2026. 


Alhamdulillah Live TikTok bersama bang Isbedy Stiawan Z S semalam, berjalan lancar.  Kegiatan yang bertajuk "Dua Penyair Satu Komal" ini dipandu seorang host yang juga dikenal sebagai tiktoker, Kata Hati Mala dari Sidoarjo. Mala memulai dengan pembacaan biodata kami, diteruskan dengan pembacaan puisi secara bergantian antara Bang Isbedy dan saya. 


Sesi yang cukup seru adalah tanya-jawab. Peserta yang bertanya diundang langsung hadir satu frame dalam layar dengan kami.


Tiga penanya terbaik mendapat hadiah.


Di ujung acara, penyair cum sutradara Bode Riswandi diundang ke dalam layar, memberikan pandangan juga soal sastra.


Sponsor kegiatan ini adalah Habbats Drink Bandung. Pemilik akun bernama Catatan Biru dari Habbats Drink, hadir lalu memberikan pandangan soal keterlibatannya mendukung acara-acara sastra-seni, termasuk live TikTok kami semalam.


Bang Isbedy yang dikenal sebagai Paus Sastra Lampung, berkisah soal proses kreatifnya. Saya juga sedikit bercerita tentang pekerjaan di BRIN. Hal paling banyak mengemuka adalah menjawab pertanyaan dari peserta soal ihwal tema personal dan sosial dalam puisi, tegangan konvensi dan inovasi, kiasan dan ketaksaan dalam bahasa puisi, kesaksian penyair, memasyarakatkan dan apresiasi puisi, antara yang benderang dan yang gelap dalam puisi, dan kepekaan penyair atas situasi sosial yang mengitarinya. 


Secara pribadi, ini adalah live TikTok Komal perdana saya, yang langsung disambut baik Isbedy ZS Stiawan ketika kami berbincang di TikTok sehari sebelumnya. Saya harus mencari arti "Komal" saat disebut Bang Isbedy, yang sudah malang-melintang dalam jagat digital untuk penyebarluasan puisinya.


Atas bantuan AI, saya jadi mengerti apa itu komal. Istilah "Komal" di TikTok adalah singkatan dari Kolaborasi Massal atau Komunikasi Massal, yang merujuk pada fitur di mana pengguna dapat "naik" (join) ke sesi live streaming orang lain untuk meningkatkan visibilitas akun mereka, menambah followers, dan berpotensi mendapatkan gift atau diamond. Fenomena ini membuat akun terlihat aktif di live orang lain, sehingga menarik perhatian pengguna lain untuk mampir ke akun mereka juga.


Dalam konteks live TikTok semalam, Komal hadir dalam bentuk naik atau joinnya para peserta yang bertanya dan langsung mendapat tanggapan dari kami pada saat itu. Hmm, ini pengetahuan dan pengalaman baru dan dunia pertiktokan.


Bahkan, Kata Hati Mala, host yang juga toktoker harus memandu kami untuk mengklik fitur tertentu saat Komal berlangsung. 


Masih ada pertanyaan di kolom komentar yang tak sempat kami jawab. Begitu juga, ada sapaan yang bergerak ke atas, tak sempat terbaca. 


TikTok memberi ruang  bagi sosialisasi puisi. Ada percakapan intim di sana. Gen Z dan Gen Alpha, banyak beredar di platform digital ini. Di sini, puisi dapat menemui salah satu generasi pembaca dan atau penontonnya.(bd/inilampung)


 



LIPSUS