-->
Cari Berita

Breaking News

Esok, Isbedy dan Dzafira Sepanggung Baca “Kenduri Sumatera”

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Rabu, 14 Januari 2026



INILAMPUNGCOM - Isbedy Stiawan ZS dan putrinya, siswi SMP Muhammad Ahmad Dahlan (SMP MuAD) Kota Metro akan sepanggung membaca puisi-puisi dari buku “Kenduri Sumatera” di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung, Kamis 15 Januari 2026 pukul 13.00 sd selesai.


Penampilan Isbedy dan Fira - sapaan akrab Dzafira, setelah peluncuran antologi puisi “Kota Kelabu” yang menghimpun penyair generasi 6 Komunitas Penulis Muda Lampung (KPML) di panggung yang sama.


Isbedy rencananya akan membaca puisi-puisi dari buku tersebut yang bertema bencana Sumatera. “Akan diawali oleh Fira, mungkin 1 atau 2 puisi sebagai pembuka,” jelas Isbedy di Bandar Lampung.


Dikatakan penyair yang produktif ini, acara ini bertajuk Baca Puisi Kenduri Sumatera. Sebagai bagian tradisi dia baca puisi tunggal. Meski tunggal, kata Isbedy, ia melibatkan seseorang atau beberapa. “Tak jarang melibatkan pemusik. Misal, dengan Komunitas 100 Bulan, dengan Entus (alm), juga Muhammad Alfariezie,” jelas Isbedy.


Dzafira yang bersekolah kelas 9 SMP MuAD Metro adalah pemenang lomba baca puisi di beberapa event. Selain permah berkolaborasi dengan Isbedy di Festival Puisi Esai Jakarta ke 2, PDS HB Jassin Jakarta, dan Pekan Kebudayaan Daerah Lampung tahun 2025.


Sebelumnya diberitakan, KPML dan Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS meluncurkan antologi puisi “Kota Kelabu” dan pembacaan puisi “Kenduri Sumatera” oleh Isbedy Stiawan dan Dzafira Adelia. 


Dikatakan Isbedy, puisi-puisi yang akan dibacakan dalam “Kenduri Sumatera” merupakan karyanya bertema bencana, khususnya Sumatera. Sebanyak 29 puisi dan diterbitkan Siger Publisher. Buku ini akan dijual di acara tersebut.


Isbedy menjelaskan buku puisinya ini karena Lukman Hakim Daldiri yang menyarankan agar menerbitkan buku puisi bertema bencana seperti “Negeri Sepatu” yang bertema Orde Baru jelang Reformasi dulu.


“Kebetulan sudah banyak saya punya puisi tema bencana. Saya pikir kenapa tidak saya sepakati saran Lukman itu, jadilah buku ini,” ujar Isbedy yang juga bersamaan menerbitkan kumpulan esai “Noel di Jalur Whoosh, dan Catatan Lain”. Esai-esai tersebut telah ditayangkan di Lontar.Co sebagai Catatan Isbedy selama 5 bulan, dan terhimpun 20 esai.


Sementar itu, Anggi Farhans, pelaksana acara, menjelaskan bahwa peluncuran antologi puisi ‘Kota Kelabu” sebagai bentuk penghargaan dan apresiasi bagi para anggota Generasi 6 Komunitas Penulis Muda Lampung.


Anggi yang juga bertindak sebagai editor antologi tersebut menjelaskan, pada acara peluncuran nanti akan ada pembacaan puisi oleh para anggota Generasi 6.


“Diharapkan kehadiran para penyair muda ini akan menambah ‘barisan’ penyair Lampung di khasanah sastra Indonesia. Mereka adalah kader generasi baru sastra di Lampung,* harap Anggi.


Sejumlah nama dalam antologi “Kota Kelabu” yang diharapkan kelak menjadi generasi baru di khasanah kepenyairan Lampung dan Indonesia, seperti Nada Ayunda Safira, Qv (Cykal Qv Ichiya Putri), Salwa Pramesti Maharani Tauqan Kiram Jaya Prawira.


Kemudian, Fitria Novita Rahma, Nurul Arifah, Kansa Maida, Reni Jayanti, Lutfi Maulidia, Vira A. Safitri, Kyra Nura, Holiq Bae, Siti Dewi N.W., Siti Hardila, Nurfa, Any, Zii, Boemi Nala, dan Anggi Farhans.(zal/inilampung)

LIPSUS