-->
Cari Berita

Breaking News

Hidup Itu Panah Waktu

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Jumat, 23 Januari 2026

 


Oleh : Junaidi Jamsari


Apakah arah jarum jam berputar mundur? Pernahkah kita membayangkan dunia yang berjalan mundur? Bayi tumbuh menjadi janin, air panas tiba-tiba memadat menjadi es, atau dedaunan kering yang telah gugur kembali menyatu dengan rantingnya? Semua itu terdengar mustahil.


Namun, justru di sanalah pertanyaan pentingnya mengapa alam hanya mengenal satu arah waktu ke depan.


“Begitulah adanya”. Di balik keseharian yang tampak biasa, teori fisika menyimpan satu konsep kunci yang diam-diam mengatur hampir seluruh proses alam, termasuk kehidupan dan kecerdasan manusia yang tak lepas dari entropi. 


Dari konsep inilah kisah besar tentang waktu, evolusi, dan kemampuan berpikir manusia, bermula.


Entropi keseharian, kita akrab dengan satu pola sederhana keteraturan cenderung memudar. Kamar yang rapi perlahan menjadi berantakan, es batu mencair, dan kertas yang terbakar berubah menjadi abu. Fenomena ini bukan semata akibat kelalaian manusia, melainkan konsekuensi dari prinsip dasar alam yang dikenal sebagai Hukum Termodinamika Kedua atau Entropi. Hukum ini menyatakan bahwa tingkat ketidakteraturan alam akan selalu meningkat.


Ketika entropi meningkat, waktu pun bergerak maju. Inilah yang disebut sebagai panah waktu. Kita tidak pernah menyaksikan pecahan kaca kembali menyatu dengan sendirinya, sebab proses tersebut menuntut penurunan entropi, sesuatu yang secara alami sangat tidak mungkin terjadi. Dengan kata lain, waktu mengalir ke depan karena itulah jalur yang paling longgar, paling mudah, dan paling alami bagi alam semesta. 


Bagaimana dengan pengabdian kita? Pengabdian merupakan bagian dari misi kita untuk membumikan ilmu pengetahuan demi kesejahteraan masyarakat. Tetapi kita semua memiliki batas waktu untuk memberikan kontribusi. Pengabdian kita tidak hanya tentang waktu, ruang dan tempat, tetapi tentang kualitas dan dampak yang diberikan, sebagai amal jariyah yang terus mengalir pahalanya dan terus memberikan manfaat bagi orang lain.


Dalam perjalanannya, seseorang pasti pernah mengalami perpindahan atau rotasi. Bahwa rotasi jabatan merupakan hal yang lazim dalam organisasi sebagai bagian dari pembinaan personel melalui mekanisme tour of duty dan tour of area. Selain sebagai sarana penyegaran organisasi, rotasi jabatan juga bertujuan untuk meningkatkan kinerja satuan secara berkelanjutan, terencana, dan terarah, juga tujuan pergantian jabatan dan penyesuaian organisasi tersebut merupakan bagian dari pembinaan dan pendayagunaan sumber daya manusia guna menjaga kesinambungan kepemimpinan serta meningkatkan peran dan fungsi dalam menghadapi dinamika lingkungan strategis yang terus berkembang.


Perpindahan dari satu jabatan ke jabatan lain dalam satu organisasi, yang biasanya dilakukan secara horizontal. Perpindahan jabatan secara berkala dan sistematis, dilakukan sebagai bagian dari strategi pengembangan karier.  


Konsep alih tugas, mutasi promosi mengatakan jabatan bukan sekadar kehormatan atau kekuasaan, melainkan kepercayaan besar yang menuntut tanggung jawab penuh, kejujuran, keikhlasan, dan kerja keras untuk melayani, bukan untuk memperkaya diri, serta akan dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat. Ini berarti orientasi utamanya adalah kemaslahatan umum dan pelayanan kepada masyarakat, bukan fasilitas pribadi atau status sosial.


Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS al-Qashash [28]: 26).


Kuat (profesional) untuk setiap pemimpin, tergantung dari medannya. Kuat dalam memimpin perang adalah keberanian jiwa dan kelihaian dalam perang dan mengatur strategi. Kuat dalam menetapkan hukum di tengah masyarakat adalah tingkat keilmuannya, memahami keadaan yang diajarkan Alqur'an dan hadits, sekaligus kemampuan untuk menerapkan hukum. 


Allah SWT berfirman: “Karena itu, janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS al-Maidah [5]: 44).


Khalifah Umar bin Khattab pernah mengadu kepada Allah perihal kepemimpinan; “Ya Allah, aku mengadu kepada-Mu, orang fasik yang kuat (mampu) dan orang amanah yang lemah.”


Jika demikian, diperlukan sebuah skala prioritas dalam menentukan kepemimpinan. Dalam posisi tertentu, sifat amanah itu lebih dikedepankan. Namun, di posisi lain, sifat kuat (mampu) dan profesional) yang lebih dikedepankan.


Dalam konteks ini Allah berfirman: “Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka: “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab: “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan.” (QS. Fushilat: 20-21)


Imam Ahmad, ketika ditanya, jika ada dua calon pemimpin untuk memimpin perang, yang satu profesional tetapi fasik, dan yang satunya lagi saleh tetapi lemah. Mana yang lebih layak untuk dipilih? Jawab Imam Ahmad, orang fasik yang profesional, kemampuannya menguntungkan kaum Muslimin.

Sementara sifat fasiknya merugikan dirinya sendiri. Sedangkan, orang saleh yang tidak profesional, kesalehannya hanya untuk dirinya sendiri, dan ketidakmampuannya dapat merugikan kaum Muslimin. Maka itu, dipilih perang bersama pemimpin yang profesional meskipun fasik.


Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.” (QS. Al Zalzalah : 4)


Rasul lalu bertanya, “Apakah kalian tahu apa yang diceritakan oleh bumi?”

Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

”Sesungguhnya yang diberitakan oleh bumi adalah bumi jadi saksi terhadap semua perbuatan manusia, baik laki-laki maupun perempuan yang telah mereka perbuat di muka bumi. Bumi itu akan berkata, “Manusia telah berbuat begini dan begitu, pada hari ini dan hari itu.” Inilah yang diberitakan oleh bumi. (HR. Tirmidzi no. 2429.

Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini dha’if. Namun hadits ini punya penguat dalam Al Kabir karya Ath Thobroni 4596, sehingga hadits ini dapat dikatakan hasan sebagaimana kesimpulan dari Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali dalam Bahjatun Nazhirin, 1: 439).


Oleh karena itu, pengabdian yang sesungguhnya melampaui masa jabatan. Saat jabatan berakhir, warisan kebaikan (legacy) yang kita tinggalkan adalah wujud pengabdian yang abadi, yang akan terus "hidup" dan disaksikan oleh semesta. Wallahu a’lam bisshowab.


*Penulis Domisili Di Lampung Barat

LIPSUS