INILAMPUNGCOM – Inisiatif Lampung Sehat (ILS) menggelar Diskusi Pemberdayaan Kampung Kreatif Berbasis Ekonomi dan Kesehatan di Gedung Pesantren Wirausaha Payungi, Minggu (11/1/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari Rapat Besar ILS yang diikuti peserta dari berbagai daerah di Provinsi Lampung.
Diskusi menghadirkan Dr. M. Rafieq Adi Pradana, Wakil Wali Kota Metro, serta Rama Doni Yunanto, S.Pt., M.M, Anggota Komisi II DPRD Kota Metro. Kegiatan ini dipandu dan dibuka langsung oleh Direktur Inisiatif Lampung Sehat, Sudiyanto, S.Sos.
Dalam sambutannya, Sudiyanto menyampaikan bahwa diskusi ini diinisiasi untuk menumbuhkan semangat pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal. Ia berharap gagasan kampung kreatif yang dibahas dapat direplikasi oleh peserta Rapat Besar di daerah masing-masing.
“Semangat pemberdayaan ini kami harapkan bisa dibawa pulang oleh peserta dan dikembangkan sesuai karakter serta potensi wilayah masing-masing,” ujarnya.
Pada sesi diskusi, Wakil Wali Kota Metro Dr. M. Rafieq Adi Pradana memaparkan pentingnya keterpaduan antara pembangunan ekonomi kreatif dan kesehatan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa Pemerintah Kota Metro baru saja meluncurkan sebuah aplikasi berbasis data bernama Tanah Harapan, yang berfungsi layaknya Google Maps versi Kota Metro.
Melalui aplikasi tersebut, pemerintah dapat memetakan secara detail kondisi sosial masyarakat, mulai dari data kemiskinan, kesehatan, sebaran pasien TBC, kasus stunting, hingga ketersediaan listrik di setiap wilayah.
“Metro memiliki 22 kelurahan. Dari pemetaan data tersebut, terlihat satu kelurahan yang mengalami persilangan persoalan ekonomi dan kesehatan paling tinggi, yakni Kelurahan Hadimulyo Barat. Di wilayah ini, jumlah masyarakat tidak mampu, kasus TBC, dan stunting tergolong tinggi,” jelas Rafieq.
Ia menegaskan bahwa kondisi kesehatan masyarakat sangat mempengaruhi keberhasilan pemberdayaan ekonomi kreatif.
“Ketika masyarakat tidak sehat, mereka mau berusaha kreatif pun tidak akan mampu. Orang pintar itu banyak, tetapi orang kreatif sangat tergantung pada ekosistem yang dibangun,” tegasnya.
Lebih lanjut, Rafieq mengakui bahwa berbagai program kesehatan di Kota Metro telah berjalan, namun belum sepenuhnya maksimal. Hal tersebut disebabkan oleh keterbatasan anggaran, sumber daya manusia, hingga sarana dan prasarana kesehatan.
“Alat kesehatan yang diberikan oleh Kementerian Kesehatan ada yang sudah rusak. Ini wajar karena digunakan terus-menerus, sementara kemampuan daerah untuk pengadaan dan perawatan masih terbatas,” ungkapnya.
selanjutnya, Rama Doni Yunanto, S.Pt., M.M juga menyoroti keberhasilan Kampung Kreatif Payungi sebagai contoh nyata pemberdayaan berbasis masyarakat. Menurutnya, keberhasilan kampung kreatif tidak hanya ditentukan oleh kegiatan ekonomi, tetapi juga oleh kesiapan masyarakat, adanya tokoh penggerak, serta pembangunan sumber daya manusia secara berkelanjutan.
Payungi secara rutin menggelar pembinaan mingguan, pengajian, serta peningkatan kapasitas masyarakat dengan menghadirkan tokoh-tokoh kompeten. Pendekatan ini bertujuan menyamakan persepsi, menumbuhkan rasa senasib sepenanggungan, serta membangun kemandirian masyarakat agar tidak bergantung pada pemerintah.
Dari sisi ekonomi, kampung kreatif di Kota Metro menunjukkan dampak signifikan. Sejumlah pelaku UMKM mampu meraih omzet Rp10–15 juta per gelaran, bahkan ada yang mencapai Rp40 juta dalam dua tahun, sementara Kampung Kreatif Payungi mampu menghasilkan sekitar Rp100 juta dalam satu kali gelaran.
Selain penguatan ekonomi, Payungi juga mengembangkan konsep Payungi Sehat melalui pengelolaan bank sampah dan terminal sampah plastik untuk didaur ulang. Bahkan, telah muncul gagasan mengganti kemasan plastik dengan bahan organik, seperti kertas daun pisang, sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan lingkungan.
Melalui diskusi ini, ILS bersama Pemerintah Kota Metro berharap konsep kampung kreatif berbasis ekonomi dan kesehatan dapat menjadi solusi nyata dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.(rls/inilampung)


