-->
Cari Berita

Breaking News

Membedah Tiga Golongan Orang yang Shalat

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Jumat, 09 Januari 2026

 


Oleh: Junaidi Jamsari

   

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami perkenan lah doaku.” (QS. Ibrahim (14):40).


Ada tiga golongan orang dalam beribadah melaksanakan kewajiban sehari-hari, golongan itu oleh Allah SWT akan mudah diberikan rezeki dan nikmat-Nya kepada hamba yang benar-benar tulus ikhlas dalam melaksanakan ibadah kepada-Nya.


Golongan yang pertama adalah orang yang beribadah kepada Allah ketika mendapatkan kesulitan atau kesedihan saja. Namun ketika seseorang itu mendapati kebahagiaan, ia akan lupa kepada Allah SWT.


Ada orang yang shalatnya, beribadah, dan juga berdoa kepada Allah itu hanya ketika sedih, ketika dalam masa sulit. Itu mereka baru ingat dengan Allah, baru mencari Allah. Baru mau tahajud dan lainnya. Tapi kalau lagi bahagia, pasti lalai dengan perintah Allah.


Padahal, salah satu hikmah shalat yang luar biasa adalah kemampuannya membersihkan jiwa dan menghapus dosa-dosa kecil. Rasulullah SAW bersabda: “Bagaimana pendapatmu jika ada sungai di depan rumah seseorang yang ia mandi di dalamnya lima kali sehari, adakah masih tersisa kotoran pada dirinya?” Para sahabat menjawab, “Tidak ada sedikit pun.” Rasulullah SAW bersabda: “Begitulah shalat lima waktu, Allah menghapus dosa-dosa dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Kemudian, golongan kedua adalah orang-orang yang mengingat Allah ketika mendapatkan kenikmatan saja. Saat orang tersebut merasakan kebahagiaan menghampiri kehidupan mereka,  seketika mereka akan mengingat Allah. Akan tetapi, ketika mereka mendapatkan kesulitan, mereka  akan marah dan tidak mau beribadah kepada Allah.


Orang-orang seperti inilah yang akan dijauhi oleh Allah dari kenikmatan-Nya. Jauh dari rasa bersyukur dan sabar, tidak akan bisa merasakan kenikmatan yang diberikan oleh Allah SWT.


Orang-orang yang tidak bersyukur adalah orang-orang yang selalu iri dan dengki melihat orang lain diberikan kebahagiaan.


Rahmat Allah akan tetap jauh dari kita, kalau kita masih termasuk ke dalam orang golongan pertama dan kedua. Orang bersyukur adalah orang menyadari segala kebaikan dan kenikmatan yang datang pada dirinya murni diberikan Allah SWT, maka itu dia bersyukur.


Kemudian, ketika seseorang mendapatkan kesulitan, musibah dan banyak masalah dalam hidup, orang tersebut terus bersabar dan yakin bahwa Allah SWT akan membantunya untuk menyelesaikan masalah tersebut.


Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.” Shalat adalah bentuk tertinggi dari zikir kepada Allah, sehingga hikmah shalat secara langsung membuat hati tenteram dan hidup menjadi lebih bermakna.


Inilah golongan orang ketiga, orang yang ikhlas beribadah tulus, dan terus bersyukur setiap mendapatkan kenikmatan. Dan tidak pernah mengeluh ketika mendapatkan kesulitan, selalu bersabar dan terus bersabar. Artinya, mereka selalu menyertai Allah dalam setiap kehidupan dan kesehariannya.


Saat sujud, seorang hamba menyadari bahwa segala cobaan adalah bagian dari takdir Allah SWT yang harus dihadapi dengan sabar dan tawakal.


Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 45: “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.” Ayat ini menegaskan bahwa shalat adalah sumber kekuatan ketika manusia diuji. Hikmah shalat membantu seorang muslim menenangkan diri, berpikir jernih, dan tidak mudah berputus asa.


Mari kita berusaha untuk menjadi golongan orang ketiga. Orang yang melupakan dunia ketika sudah tiba waktunya azan, dan menyegerakan shalat. Orang yang selalu berdzikir, membaca Alqur'an, dan orang yang rajin melaksanakan ibadah sunnah.


Orang-orang seperti itulah yang akan selalu Allah berikan kenikmatan, dan pertolongan dari setiap kesulitan. Sebab orang yang demikian itu tidak pernah lupa untuk menyertai Allah SWT dalam setiap urusannya.


Kemudian, ada golongan umat muslim dalam melaksanakan shalat. Pertama golongan khasyi’un, artinya  mereka yang mendirikan shalat dengan sungguh-sungguh (khusyu’), mengetahui ilmu shalat, ikhlas dalam mendirikannya, menjadikan shalat sebagai kebutuhan. Shalat golongan ini berpengaruh terhadap perilakunya, yaitu dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Kemudian Golongan Sahun maksudnya adalah mereka yang melakukan shalat dengan lalai, sering (atau sengaja) lupa karena tidak merasakannya sebagai kebutuhan, dan menganggap shalat sebagai beban.


Terakhir, golongan yuraa’un, yaitu mereka yang melakukan shalat dengan niat yang tidak ikhlas, ibadah shalatnya ternodai perasaan atau keinginan dipuji atau dilihat orang lain. Motivasi shalatnya bukan karena kesadaran.


*Penulis:  Anggota Dewan Pertimbangan MUI  Lampung Barat.

LIPSUS