Oleh: Junaidi Jamsari
Kisah perjalanan Isra Mikraj Rasullullah SAW, terlebih dahulu diawali dengan mempersiapkan rohani. Dalam hadis sahih disebutkan bahwa Malaikat Jibril datang, lalu membersihkan dada Nabi Muhammad SAW, mencucinya dengan air zamzam, dan memenuhinya dengan iman serta hikmah. Hal ini menandakan bahwa perjalanan menuju kemuliaan dan kedekatan dengan Allah harus diawali dengan kesucian hati dan kebersihan jiwa.
Manusia terbagi menjadi dua kelompok: baik dan buruk, beriman dan kafir, taat dan durhaka. Hati yang sakit adalah orang yang tidak suka menjalankan ajaran Islam, perintah agama, atau tidak merasakan kenikmatan saat menjalankannya, hatinya dihinggapi penyakit.
Kita semua ingin memiliki hati yang sehat. Karena dari hati yang bersih dan akhlak yang lurus, kita akan menjadi orang yang beruntung. Allah SWT berfirman:
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10)
Qur'an menyebutkan beberapa ciri hati yang sakit.
Pertama: selalu menolak kebenaran Islam. Hatinya seolah-olah tertutup, sehingga tidak mau beriman dengan segala pembuktiannya. Firman Allah: "Sesungguhnya orang-orang kafir sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci mati hati mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Bagi mereka siksa amat pedih. (Q.S.2:6-7)
Kedua: suka menipu, baik dengan ucapan maupun perbuatan. Bisa jadi ucapannya baik, tetapi dibalik itu ada rencana jahatnya.
Ketiga: suka melakukan perusakan di muka bumi, baik perusakan akhlak maupun moral manusia. Atau perusakan lingkungan hidup. Semua mereka berdalih dalam rangka pembangunan.
Firman Allah: "Dan bila dikatakan kepada mereka, janganlah kamu melakukan kerusakan di muka bumi ini, mereka menjawab, sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tapi mereka tidak sadar." (Q.S.2:11-12)
Keempat: buruk sangka berlebihan terhadap orang-orang beriman, sehingga menuduh orang beriman itu sebagai orang-orang bodoh dan keimanan merupakan jalan kebodohan yang harus diberantas. Mereka amat tidak suka kalau mendengar, apalagi melihat kemajuan kaum muslimin.
Kelima: bermuka dua dengan maksud mengolok-olok kaum muslimin. Didepan menyatakan berpihak kepada kebenaran dan dibelakang mereka berpihak kepada yang batil.
Keenam: tidak mau menerima kebenaran dan petunjuk. Sebaliknya, yang diinginkannya kesesatan, dan mereka membiarkan kémunkaran.
Tasawuf mengajarkan cara untuk menyucikan diri, meningkatkan moral dan membangun kehidupan jasmani dan rohani guna mencapai kebahagiaan abadi. Abu’l Hasan Nuri berkata: Tasawuf adalah penyangkalan atas semua kenikmatan untuk diri sendiri.
Keterangan di atas maknanya melepaskan kenikmatan jasmani yang tak sesuai dengan hukum Islam. Seorang sufi biasanya bebas dari ketamakan dan keinginan serta mengetahui bahwa “selama ia menjadi korban keinginannya, ia sesungguhnya terpenjara.” Firman Allah Qur'an: 17 “Dan jangan diikuti keinginan (hatimu), karena keinginan-keinginan itu akan menyesatkan mu dari jalan Allah.”
“Dalam diri manusia terdapat segumpal daging, bila benda itu dipelihara secara menyeluruh, maka tubuh secara keseluruhan akan tetap sehat, dan kalau daging itu membusuk, maka tubuh itu secara keseluruhan akan membusuk; daging itulah hati.” (Bukhari).
Dalam konteks Islam, definisi hati bukan hanya merupakan organ tubuh, tetapi juga pusat perasaan, niat, dan keimanan seseorang. Menurut Islam, penyakit hati adalah gangguan pada hati dan perasaan seseorang yang dapat mempengaruhi perilaku dan perbuatannya, seperti riya’ (beramal untuk pamer), iri dan dengki (merasa tidak senang atas kebaikan orang lain), hasad (menginginkan hilangnya nikmat orang lain), dan kemarahan/kebencian (menyimpan dendam). Hal tersebut dapat mengganggu hubungan kita dengan Allah dan sesama umat manusia.
Kesucian hati perlu dijaga, karena hati adalah "panglima" bagi seluruh anggota tubuh, mempengaruhi kualitas ibadah, ketenangan jiwa, dan hubungan sosial.
Hati yang bersih akan menghasilkan perbuatan yang baik, sementara hati yang kotor oleh penyakit seperti iri, dengki, dan sombong akan merusak seluruh kehidupan dan menghalangi keberkahan dari Allah SWT.
Cara memelihara kesucian hati dalam Islam:
Memperdalam tauhid, membaca Al-Qur'an, mengamalkan ibadah dan zikir, menghindari penyakit hati, membangun lingkungan yang baik, dan senantiasa bersyukur.
Dengan menjaga kesucian hati, seorang Muslim akan mendapatkan ketenangan di dunia dan meraih keberuntungan di akhirat, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an bahwa hanya orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih (qalbun salim) yang akan selamat pada hari kiamat. (*)
*) Junaidi Jamsari, Alumnus Fakultas Ushuludin UIN Raden Intan


