Oleh: Junaidi Jamsari
"Di tengah hiruk pikuk dunia, kita sering lupa panggilan ibu."
Seorang ibu tidak pernah meminta atau menuntut banyak hal dari anak-anaknya. Mereka hanya ingin yang terbaik untuk anak-anaknya dan rela berkorban tanpa mengharapkan imbalan.
Ibu hanya ingin anak-anaknya bahagia, sehat, dan sukses. Anak-anaknya tumbuh dan berkembang dengan baik.
"Dalam kelembutan, tersimpan kekuatan yang tak terhingga."
Seperti dikutip dari berbagai sumber, situs Lembaga Fatwa Mesir menyebutkan kalau riwayat al-jannatu tahta aqdāmil ummahāt disebutkan dalam Kitab Al-Kāmil fi Dhu’afā’ir Rijāl karya Ibnu ‘Adi dengan jalur sanad dan matan selengkapnya sebagai berikut: Artinya, “Dari jalur Musa bin Muhammad bin ‘Atha’, dari Abu al-Malih, dari Maimun, dari Ibn ‘Abbas RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, ‘Surga di bawah telapak kaki ibu. Siapa yang dikehendaki (diridhai) para ibu, mereka bisa memasukkannya (ke surga); siapa yang dikehendaki (tidak diridhai), mereka bisa mengeluarkannya (dari surga).”
Rasulullah menegaskan: “Surga itu berada di bawah telapak kaki ibu.” (HR. An-Nasai, dinilai sahih oleh Al-Albani).
"Surga di bawah telapak kaki ibu" (Syurga dibawah telapak kaki ibu) yang berasal dari hadits, adalah kiasan betapa pentingnya menghormati, mencintai, dan berbakti kepada ibu.
"Berbakti kepada ibu, jalan menuju surga." Menempatkan ibu pada posisi yang sangat tinggi dan terhormat dalam masyarakat dan agama, meskipun secara harfiah tidak ada "langit" di bawah kaki ibu, adalah ungkapan metafora yang kuat untuk menyampaikan pesan moral dan etika yang mendalam tentang pentingnya menghargai orang tua, khususnya ibu.
Kisah Uwais Al-Qarni: Tidak Dikenal di Bumi, Dikenal di Langit. Uwais al-Qarni namanya harum dalam sejarah Islam. Ia bukan sahabat Nabi, karena tak pernah bertemu langsung dengan beliau.
Tapi Rasulullah menyebut namanya dan berpesan kepada Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib: “Jika kalian bertemu dengan Uwais, mintalah doa darinya.”
Keistimewaan Uwais al-Qarni; ia merawat ibunya yang lumpuh dan mengidap kusta dengan penuh cinta dan kesabaran. Bahkan, ia menolak tawaran haji karena sang ibu tidak bisa ditinggal. Kisahnya diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim.
Memuliakan orang tua dan lansia adalah perintah yang jelas. Allah SWT berfirman: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau keduanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS. Al-Isrā’ [17]: 23).
Psikolog keluarga, Anna Surti Ariani, MPsi, menyebutkan:
“Kehadiran anak, walau hanya sebentar, memberikan efek positif bagi kesehatan mental orang tua. Terasa seperti vitamin jiwa.”
Tulis seorang penyair: “Jangan biarkan sungai rahim itu kering oleh kelalaian. Sebab, siapa yang memutus tali kasih ini, akan kehilangan rahmat-Nya. Tapi siapa yang menjaganya, Allah akan membalas dengan rezeki, panjang umur, dan surga yang didamba."
Maka, sebelum suara ibu tak lagi terdengar, sebelum matanya tak lagi bisa memandang, sebelum tangannya tak lagi bisa membelai, katakan: “Terima kasih, Ibu. Aku ada karena doamu.” Aamiin.
*Penulis: Domisili di Lampung Barat.


