Oleh: Junaidi Jamsari
Perkembangan dunia digital membuat masyarakat, terutama anak-anak, tumbuh dalam lingkungan yang terhubung secara online, sehingga informasi dapat diakses kapan saja dan di mana saja. Namun tidak semua informasi tersebut benar, aman, sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Bagaimana mendampingi anak dalam penggunaan teknologi digital? Inilah sebabnya masyarakat, khususnya orang tua, guru, dan lingkungan sekitar seringkali merasa bingung.
Dalam konteks inilah perpustakaan memiliki peran strategis: menyediakan ruang belajar yang aman, nyaman, mendidik, serta menjadi pusat pendidikan yang mampu membekali anak dengan keterampilan literasi digital agar mampu menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggungjawab serta mampu menggunakan teknologi digital dengan aman, cerdas, dan beretika, mengakses berbagai sumber digital, memahami dan menilai manfaat serta kebenaran informasi, menekankan kemampuan berpikir kritis, memilah informasi, bersikap etis dalam berinteraksi online, dan menjaga keamanan pribadi di dunia maya.
Tantangan dunia digital saat ini cukup besar. Data menunjukkan bahwa 94% anak usia 5–17 tahun di Indonesia sudah menggunakan internet dan separuhnya mengakses internet tanpa pendampingan. Banyak anak terpapar konten tidak pantas, seperti kekerasan atau ujaran kebencian, dan sebagian mengalami cyberbullying.
Penyebaran hoaks di Indonesia juga cukup tinggi, bahkan termasuk salah satu yang terbesar di dunia. Selain itu, screen time anak-anak rata-rata mencapai 5–7 jam per hari, jauh di atas batas sehat yang direkomendasikan. Keamanan data pun menjadi isu penting, karena banyak anak menggunakan kata sandi yang mudah ditebak dan rentan terhadap pencurian akun. Semua tantangan ini menunjukkan pentingnya pendampingan serta ruang yang aman bagi anak dalam menggunakan teknologi.
Sebagai pusat pendidikan, perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat meminjam buku, tetapi terus berkembang menjadi pusat belajar sepanjang hayat bagi masyarakat. Perpustakaan menyediakan akses informasi yang terpercaya, ruang untuk belajar dan bereksplorasi, fasilitas digital yang edukatif, serta menjadi tempat interaksi sosial dan edukasi keluarga.
Konsep perpustakaan ramah anak hadir untuk memperkuat peran ini. Perpustakaan ramah anak adalah perpustakaan yang dirancang agar anak merasa aman, nyaman, dan bebas mengekspresikan diri. Fasilitas, desain ruang, koleksi, serta pendampingan disesuaikan dengan kebutuhan tumbuh kembang anak. Konten digital maupun konvensional dipilih sesuai usia, dan anak memperoleh pendampingan dari pustakawan maupun orang tua.
Selain itu, perpustakaan ramah anak juga harus mampu menjaga hak dan privasi anak serta memadukan teknologi digital dengan aktivitas fisik agar pengalaman mereka lebih seimbang.
Dalam penggunaan teknologi, etika digital menjadi aspek penting yang harus diajarkan di perpustakaan. Anak-anak perlu dibiasakan untuk bersikap sopan saat berinteraksi di dunia maya, menghindari ujaran kebencian dan kata-kata kasar, serta menghargai privasi dan hak cipta.
Mereka juga perlu memahami pentingnya tidak menyebarkan hoaks, tidak melakukan atau membalas cyberbullying, serta menggunakan identitas digital dengan bertanggung jawab.
Selain etika, aspek keamanan digital juga tidak kalah penting. Anak-anak harus diajarkan membuat kata sandi yang kuat, memperbarui aplikasi, berhati-hati terhadap tautan mencurigakan, serta tidak membagikan data pribadi secara berlebihan.
Mereka juga perlu memahami cara mengatur waktu penggunaan gadget, agar tetap seimbang antara aktivitas digital dan kehidupan nyata. Dan anak-anak akan mengenal risiko sejak dini, sehingga lebih siap menghadapi ancaman dunia digital.
Literasi digital memiliki empat pilar utama: aman, cerdas, kreatif, dan beretika. Pilar “aman” berfokus pada cara menghindari risiko digital, sementara pilar “cerdas” menekankan kemampuan memilah informasi dan berpikir kritis. Pilar “kreatif” mengajak anak untuk memanfaatkan teknologi dalam membuat konten positif, dan pilar “beretika” mengarahkan mereka untuk berperilaku sopan serta bertanggungjawab di ruang digital.
Pendekatan yang dapat dilakukan, ada banyak upaya antara lain menyediakan teknologi interaktif seperti games edukatif, flipbook digital, dinding interaktif, atau aplikasi pembelajaran berbasis AI untuk menarik minat belajar anak. Selain itu, perpustakaan dapat menyediakan ruang digital yang lengkap dengan e-book, audiobook, perpustakaan virtual, serta platform pembelajaran yang memungkinkan anak berkarya. Yang terpenting adalah pendampingan dan bimbingan.
Perpustakaan juga dapat membangun keterampilan digital anak dengan mengajarkan cara mencari, mengevaluasi, dan menganalisis informasi, melatih berpikir kritis, serta membantu anak membuat karya digital yang sederhana. Selain itu, menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan seperti menyediakan sudut baca nyaman, ruang seni, kombinasi aktivitas digital dan fisik, serta storytelling dengan pendekatan menarik akan membuat anak lebih menikmati keberadaannya di perpustakaan.
Lingkungan sekitar juga memegang peran penting dalam mendukung penggunaan literasi digital. Orang tua, guru, dan masyarakat perlu menjadi teladan dalam menggunakan gadget, mendampingi anak saat online, membatasi screen time, berdiskusi mengenai konten digital yang ditemukan anak, serta ikut terlibat dalam program perpustakaan.
Literasi digital dapat dilakukan di rumah maupun di perpustakaan, bertujuan untuk memberikan manfaat pada anak. Anak menjadi lebih percaya diri menggunakan teknologi, terlindungi dari konten negatif, lebih kritis memilih informasi, dan terdorong untuk membaca serta berkarya.
Perpustakaan menjadi lebih hidup, relevan, dan berperan besar dalam membangun budaya literasi keluarga, bila perpustakaan bukan hanya tempat untuk menyimpan buku, tetapi tempat menumbuhkan harapan, kreativitas, dan masa depan.
Perpustakaan diharapkan mampu mencetak generasi yang aman, cerdas, dan beretika.
*Penulis : Wakil Ketua Tim GLD Kabupaten Lampung Barat 2022-2027.


