-->
Cari Berita

Breaking News

Soal Ide Bangun Tanggul di TNWK: Cuma Solusi Jangka Pendek

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Kamis, 22 Januari 2026

 

H. Ma'ruf Abidin, MSi

INILAMPUNGCOM - Rencana Pemprov Lampung membangun tanggul pengaman sepanjang 11 Km sebagai pembatas permanen Taman Nasional Way Kambas (TNWK) -dan ide itu disampaikan ke Dirjen SDA Kementerian PU- senilai Rp105 miliar, diyakini Gubernur Rahmat Mirzani -bahkan katanya Presiden Prabowo pun mendukung- sebagai solusi struktural dan jangka panjang. 


Tanggul pengaman sebagai barrier fisik itu, menurut Gubernur Mirza dalam rilis yang ditayangkan banyak media, untuk membatasi pergerakan gajah liar agar tidak keluar zona konservasi sekaligus melindungi habitat satwa dan memberi rasa aman bagi masyarakat yang berdomisili di desa penyangga TNWK.


Ide itu bakal diwujudkan di daerah Way Jepara. Karena wilayah ini merupakan salah satu daerah yang tingkat konflik manusia dengan gajah tertinggi di Lampung. 


Tepatkah ide membuat tanggul permanen itu sebagai solusi jangka panjang mengatasi konflik manusia dan gajah yang terus berulang di sekitaran TNWK? "Buat pagar atau tanggul itu untuk solusi jangka pendek, okelah saya memahami. Tapi tidak untuk jangka panjang," kata H. Ma'ruf Abidin, MSi, Rabu (21/1/2026) petang.


Diketahui, saat membuat tesis S2 di ITB Prodi Biologi tahun 2008 silam, Ma'ruf Abidin yang tinggal di Tegal Yoso, Purbolinggo, Lampung Timur, melakukan penelitian bertajuk: "Konflik Gajah dan Manusia di TNWK Lampung Timur."


Cukup lama -dan tentu saja serius- pria berstatus PNS itu melakukan penelitian. Apalagi memang domisilinya berdekatan dengan TNWK. 


Apa saja yang dikatakan tokoh Muhammadiyah Provinsi Lampung ini terkait dunia pergajahan di TNWK yang kembali mendapat perhatian serius pasca tewasnya Kades Braja Asri, Darusman, 30 Desember 2025 lalu? Berikut petikan wawancara inilampung.com:


Berdasarkan pengalaman Anda saat melakukan penelitian dulu, apakah pembuatan tanggul atau pagar bisa menjadi solusi mengatasi konflik gajah dan manusia di TNWK?

Soal buat pagar atau tanggul, cuma solusi jangka pendek, tapi oke-lah. Namun ide itu nggak bisa dijadikan solusi jangka panjang.


Kenapa begitu?

Dulu, pagar dialiri listrik saja bisa dilewati kok sama gajah. Yang perlu dipahami, gajah itu hewan cerdik dan daya ingatnya kuat sekali.  


Bagaimana cara dia melewati pagar beraliran listrik? 

Begitu dia jalan dan tersengat aliran listrik, dia mundur. Kemudian cari tanaman dan dirobohkan di atas kawat berlistrik itu. Barulah gajah-gajah tersebut jalan di atas kawatnya. Cerdas kan mereka. 


Bagaimana kalau dibuatkan siring sebagai pembatas?

Sama saja. Siring dengan kecuraman sekian drajat misalnya, gajah dengan berbagai cara bisa membuat siring itu landai, dan dia tetap bisa nyebrang. Maka saya bilang tadi, mau buat tanggul, pager atau siring sekali pun, hanya solusi jangka pendek. Tapi oke-lah kalau itu yang mau dibuat pemerintah. Namun menurut saya, tetap tidak solutif.


Saran Anda agar pemerintah bisa menemukan solusi jangka panjang seperti apa?

Harus duduk bareng. Pemerintah, masyarakat, dan pengelola TNWK. Utamanya buat mengedukasi masyarakat. 


Konkretnya bagaimana?

Kenapa saya bilang perlu duduk bareng dan mengedukasi masyarakat? Karena selama ini masyarakat punya asumsi bahwa apa yang mereka lakukan sudah benar. Apalagi merasa sudah menempati wilayah tersebut cukup lama. Sudah menanam berbagai tanaman untuk kebutuhannya. Kan begitu. Tapi ada yang terlupakan.


Apa itu..?

Harus juga masyarakat memahami bahwa ada home range atau daya jelajah gajah. Pahami sejarahnya, daerah yang mereka diami itu memang wilayah jelajah gajah. Jadi harus paham, dan tidak salah juga kalau suatu saat gajah akan turun. 


Edukasi terpenting kepada masyarakat yang ada di wilayah penyangga TNWK menurut Anda apa?

Masyarakat mesti diberi pemahaman agar tidak lagi menanam jagung atau padi. 


Memangnya kenapa..?

Karena kedua tanaman itu ibaratnya makanan siap saji bagi mereka (gajah). Mereka tidak perlu cari‐cari lagi. Begitu masuk kebun, bisa makan kenyang. Ini menurut saya yang penting untuk diedukasi dan dipahamkan kepada pemerintah, masyarakat, dan TNWK.


Kayaknya masyarakat keberatan kalau tidak boleh menanam padi dan jagung, menurut Anda?

Ya itu justru masalahnya. Masyarakat kan tidak mau tahu, karena masyarakat memang butuh itu. Tapi kalau mau bicara jangka panjang dalam mengatasi konflik gajah dan manusia, ini salah satu solusinya. Ke depan ini harus tegas, masyarakat yang ada di desa penyangga jangan lagi menanam padi dan jagung. 


Bagaimana dengan kebutuhan pakan gajah di TNWK?

Ini masalah kedua dan lebih serius ya. Kapasitas pakan di Way Kambas memang tidak lagi mencukupi kebutuhan. Waktu saya penelitian tahun 2008, jumlah gajahnya ada 200-an ekor. Padahal waktu itu, dengan potensi pakan yang ada, optimumnya hanya untuk 8 sampai 15 ekor saja. Kalau sekarang berapa jumlah gajah di TNWK, saya tidak update lagi.


Benarkah gajah yang sering keluyuran ke kebun-kebun warga itu bukan asli gajah Way Kambas?

Iya bener itu. Berdasarkan penelitian saya, gajah asli Way Kambas sangat jarang keluar. Yang sering keluar itu gajah-gajah giringan ketika Gunung Madu dibuka. Dari hutan dijadikan perkebunan tebu. 


Jadi daya dukung pangan di dalam TNWK kuncinya, begitu?

Iya. Itu kuncinya. Selain mengedukasi masyarakat dengan serius. Karena daerah itu memang home range-nya gajah. Jadi bagaimana pun juga, ada saatnya gajah akan balik lagi. Ke wilayah jelajahnya. 


Anda setuju dengan ide pemerintah membuat tanggul di TNWK?

Untuk solusi jangka pendek, oke. Tapi, masyarakat juga harus diedukasi, meski kebutuhan, jangan lagi menanam makanan yang disukai gajah, seperti padi dan jagung. 


Tanaman apa yang bisa jadi pengganti padi dan jagung sebagai kebutuhan masyarakat?

Ya itu yang harus dipikirkan ke depan ini. Begitu juga daya dukung pakan di dalam, harus diperbaiki dan dimaksimalkan. Tanpa dua hal ini, tanggul-tanggul itu tetap akan bisa dilewati. 


Apa benar bahwa sebenarnya gajah itu tidak mau berkonflik dengan manusia?

Bener itu. Gajah sebenarnya memang tidak mau berkonflik dengan manusia. Tapi, ketika mereka masuk untuk cari makan kemudian diusik, mereka pasti akan melawan. Dan ada satu hal yang harus diketahui, daya ingat gajah itu kuat sekali. Sehingga kalau ada orang yang menyakiti, dia akan kejar sampai kapan pun. (kgm-1/inilampung)

LIPSUS