Oleh: Junaidi Jamsari
Pada awal Islam, Nabi Muhammad SAW mencari cara untuk memanggil umat Islam ke shalat berjamaah. Beberapa sahabat menyarankan menggunakan lonceng, tetapi Nabi SAW tidak menyukainya. Kemudian, ada yang menyarankan menggunakan terompet, tetapi Nabi SAW juga tidak menyukainya.
Menurut riwayat, Abdullah bin Zaid bin 'Abd Rabbihi, seorang sahabat Nabi SAW, bermimpi bertemu dengan seseorang yang memberinya instruksi tentang adzan. Ketika Abdullah bin Zaid menceritakan mimpinya kepada Nabi Muhammad SAW, spontan Baginda Rasulullah SAW menyetujui dan memerintahkan Bilal bin Rabah, muadzin pertama, untuk mengadopsi adzan tersebut.
Adzan yang kita kenal sekarang, yaitu 'Allahu Akbar, Allahu Akbar...' diyakini telah digunakan sejak zaman Nabi Muhammad SAW dan menjadi salah satu simbol penting dalam agama Islam. Adzan ini kemudian disebarkan ke seluruh dunia Islam dan terus menjadi panggilan untuk shalat hingga saat ini.
Nama Bilal, punya sejarah. Bilal bin Rabah, sahabat Nabi Muhammad SAW, adalah orang pertama yang mengumandangkan adzan di Islam. Dia berasal dari Habshah (Ethiopia) dan dulunya adalah budak, tapi kemudian dibebaskan oleh Abu Bakar As-Siddiq.
Bilal dikenal karena suaranya yang merdu dan kuat, jadi Nabi Muhammad SAW memilihnya untuk menjadi muadzin (orang yang mengadzani).
Bilal juga dikenal karena keteguhannya dalam Islam. Dia pernah disiksa habis-habisan oleh tuannya karena masuk Islam, tapi tetap kuat dan tak pernah mau meninggalkan agamanya.
Nama Bilal menjadi simbol keberanian dan kesetiaan dalam Islam, dan banyak orang yang namanya Bilal berharap bisa mengikuti jejak sahabat Nabi yang hebat ini.
Bilal Bin Rabah (Maret 580 — Maret 640), adalah salah satu Sahabah (sahabat) dari Nabi Muhammad. Ia lahir di Mekah dan dianggap sebagai mu'azzin pertama dalam sejarah, yang dipilih oleh Nabi Muhammad sendiri. Dia meninggal pada tahun 640, sekitar usia 60 tahun.
Itulah Bilal. Ia terus meningkatkan amalnya. Suatu pagi setelah shalat Subuh, Rasulullah berkata kepada Bilal: Wahai Bilal, ceritakan kepadaku amalan paling utama yang engkau lakukan dalam Islam, karena aku mendengar suara terompahmu di depanku di surga!
Bilal menjawab dengan rendah hati:
Tidak ada amalan yang lebih kuharapkan (pahalanya) daripada aku berwudhu (bersuci) pada malam atau siang hari, lalu aku salat dengan wudhu itu sebanyak yang ditakdirkan untukku. (H.R. Al-Bukhari)
Subhanallah. Amalan sederhana namun konsisten menjaga wudhu dan salat sunah setiap kali bersuci. Itulah yang mengantarkan langkahnya terdengar di surga.
Kisah yang terkenal dalam sejarah Islam, muadzin pertama, seorang sahabat Nabi SAW yang sangat dicintai oleh Rasulullah. Ketika Bilal meninggal, Nabi SAW bersabda: "Aku mendengar suara terompah Bilal di surga".
Makna dari riwayat di atas adalah bahwa Bilal telah mencapai derajat yang tinggi di sisi Allah SWT, sehingga suara terompahnya yang digunakan untuk adzan di dunia terdengar sampai ke surga. Ini menunjukkan bahwa amal ibadah Bilal, terutama adzannya, telah diterima oleh Allah SWT dan membuatnya mendapatkan pahala yang besar.
Dalam riwayat lain, Nabi SAW juga bersabda: "Bilal adalah orang yang paling dulu masuk surga." (HR. Tirmidzi). Ini menunjukkan bahwa Bilal adalah salah satu dari orang yang paling dekat dengan Allah SWT dan telah dijamin masuk surga.
Jadi, terompah Bilal yang terdengar sampai ke surga adalah bahwa Bilal telah mencapai derajat yang tinggi di sisi Allah SWT dan telah dijamin masuk surga karena amal ibadahnya yang ikhlas dan diterima oleh Allah SWT.
Kita bisa menciptakan "Bilal-Bilal" di zaman sekarang dengan meneladani sifat-sifatnya, seperti: Keteguhan Iman. Bilal tidak pernah menyerah dalam menghadapi penyiksaan dan tekanan. Kebebasan Hati, Bilal membebaskan dirinya dari perbudakan dengan imannya. Kita bisa membebaskan diri kita dari perbudakan hawa nafsu dan dosa. Pengabdian Tanpa Pamrih. Bilal mengabdikan dirinya untuk Islam tanpa memikirkan kepentingan pribadi. Kita bisa belajar mengorbankan kepentingan pribadi untuk kebaikan orang lain.
Siapa Bilal sekarang? Bilal-Bilal di zaman sekarang bisa jadi adalah Aktivis Kebaikan, orang-orang yang berjuang untuk kebaikan dan keadilan, tanpa memikirkan kepentingan pribadi. Pengajar dan pendakwah, orang-orang yang menyebarkan ilmu dan kebaikan, tanpa memikirkan pujian atau imbalan. Pahlawan kemanusiaan, orang-orang yang berjuang untuk kemanusiaan, tanpa memikirkan kepentingan pribadi atau kelompok.
Kita semua bisa menjadi Bilal-Bilal di zaman sekarang, dengan meneladani sifat-sifatnya dan berjuang untuk kebaikan.
Kehidupan Bilal bin Rabah adalah sumber inspirasi yang tak pernah kering. Dari kisahnya, kita belajar banyak hal penting yang relevan hingga hari ini. Semoga!
*Penulis tinggal di Lampung Barat.

