-->
Cari Berita

Breaking News

Dibalik Coretan Tinta Merah: Syamsul B. Nasution sang Guru Jurnalis

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Rabu, 18 Februari 2026

Syamsul B. Nasution

Oleh: Abdul Majid

Kalau mengingat Bang Syamsul, dada saya selalu penuh oleh campuran rasa takut, hormat, dan rindu.


Sebelum beliau benar-benar datang ke Lampung pada awal 90-an, namanya sudah lebih dulu mengguncang ruang redaksi Harian Lampung Post. Setiap hari, satu bundel tebal catatan koreksi tiba di meja kami—penuh coretan kesalahan judul, kalimat, tanda baca, hingga susunan lead. Tak ada yang luput. Dari halaman utama sampai halaman terakhir, semuanya seperti habis dihakimi tinta merah.


Nama itu tertera tegas: Syamsul Bahri Nasution. Kami merasa kecil. Kerdil. Bodoh. Di benak saya, beliau seperti “dewa redaksi” yang mengerikan—dingin, galak, tak kenal kompromi.Namun takdir mempertemukan kami.


Ketika akhirnya beliau dikirim untuk memperkuat redaksi Lampung Post, bayangan seram itu runtuh seketika. Di balik ketegasan koreksi, ternyata berdiri sosok yang rendah hati, lembut tutur katanya, dan mengayomi. Beliau bukan dewa yang menakutkan, melainkan guru yang sabar.


Saat “BS”—begitu kami menyapanya—menjabat Redaktur Pelaksana, saya adalah Asisten Redaktur yang nakal. Sering membuatnya jengkel. Pernah saya menjebol password komputernya, membongkar folder rahasia berisi film pilihan, lalu menyalinnya ke komputer saya. Saya juga kerap mangkir dari rapat budget sore, padahal itu kewajiban.


Beliau marah? Tentu. Beliau pasti marah juga. Tetapi  tidak pernah sekali pun beliau menjatuhkan saya. Kedekatan kami justru tumbuh dari situasi-situasi genting.


Ketika Bang Syamsul membangun rumah di Perwira, Rajabasa, para tukangnya dipalak. Beliau menghubungi saya. Tanpa pikir panjang, saya datang bersama seorang jawara dari Kampung Pelita, Enggal. Masalah selesai.


Tahun 1998, saat gelombang reformasi mengguncang negeri, rumah beliau kembali terancam. Spanduk bertuliskan “Tanah Milik Rakyat Rajabasa” terpasang di depan rumahnya. Bersama almarhum Bang H. Effendi Rambe, kami membagi tugas menemui aktor-aktor di balik layar.


Satu per satu saya datangi mereka—diam-diam, saat suasana sepi. Pengintaian lebih dulu saya lakukan. Tegang? Tentu. Tapi syukur, rasa takut masih tersisa dalam diri mereka. Spanduk pun turun. Rumah itu aman hingga hari ini.


Di situlah saya tahu: Bang Syamsul bukan hanya redaktur yang lihai mengoreksi kata, tetapi kepala keluarga yang sedang mempertahankan harga diri dan masa depan.


Dari sosok yang dulu saya bayangkan sebagai “dewa mengerikan”, beliau menjelma menjadi guru, pemimpin, sekaligus orang tua. Jasa beliau terhadap saya tak terhitung—terutama saat saya berada dalam kesulitan finansial. 


Beliau membantu tanpa banyak bicara, tanpa pernah mengungkit kembali.


Kini, Bang Syamsul telah pergi.Tapi setiap kali saya melihat tanda baca, judul berita, atau sekadar membuka layar komputer, saya seperti mendengar kembali suaranya—tegas namun lembut—mengingatkan bahwa kata-kata harus dijaga, dan harga diri harus dipertahankan.


Selamat jalan, Bang....

Di balik tinta merah koreksimu, ada cinta yang tak pernah kami sadari sepenuhnya. ***

*Abdul Majid adalah mantan wartawan Lampung Post

LIPSUS