Oleh: Junaidi Jamsari
Seseorang yang berpuasa atau perutnya dalam keadaan kosong, meskipun jasmaninya terpenjara, namun secara ruhani sebenarnya ia telah bahagia. Karena sayap-sayap jiwanya menembus cakrawala.
Ungkapan ini sering dikaitkan dengan Maulana Jalal al-Din Rumi, yang dalam ajaran tasawufnya menekankan makna batin dibalik setiap ibadah.
“Berpuasalah dengan hati, bukan hanya dengan tubuh” mengingatkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Tubuh mungkin berhenti makan, tetapi hati masih bisa “rakus” pada amarah, iri, sombong, atau riya.
Jika hanya fisik yang berpuasa, maka yang berubah hanya jadwal makan. Namun jika hati ikut berpuasa, yang berubah adalah kualitas jiwa.
Lapar akan hilang saat azan maghrib berkumandang. Tetapi, ketakwaan -kesadaran- bahwa Allah selalu melihat dan membersamai, itulah yang seharusnya tinggal dan tumbuh setelah Ramadhan berlalu.
Dalam perspektif sufistik, puasa adalah latihan membersihkan ruang batin. Mengurangi yang duniawi agar yang Ilahi lebih terasa. Menahan diri bukan sekadar disiplin, melainkan cara mendekat.
Pesannya sederhana namun dalam:
jangan hanya menahan perut, tetapi juga jaga lisan, pikiran, dan niat. Karena yang membuat puasa bernilai bukan sekadar kosongnya perut, melainkan hadirnya Tuhan di dalam hati.
Imam Ali bin Abi Thalib bertanya kepada Rasulullah: "Amalan apa yang paling afdhal di bulan Ramadhan?" Kata Rasulullah: "Amalan yang paling utama di bulan Ramadhan adalah wara".
Wara itu menjaga diri (menahan diri), zuhud juga begitu. Zuhud itu sama dengan wara'.
Bedanya, kalau wara' melarang kita dari apa yang diharamkan oleh Allah SWT, zuhud justru melarang diri kita dari yang mubah, menahan diri kita dari yang memang dibolehkan Allah SWT.
Buat Tuhan, tidak ada persoalan apakah kita melakukannya atau tidak. Tetapi kita yang menahan diri untuk melakukannya.
Menyingkap tabir menuju Ilahi, jika lambung dan kepalamu terasa terbakar karena berpuasa, apinya akan menghembuskan rintihan dari dadamu. Melalui api itu akan terbakar seribu hijab dalam sekejap, kau akan melesat naik seribu derajat dalam jalan dan cita-citamu.
Bagi Rumi, rasa (dzauq) puasa ini bagaikan api yang dapat membersihkan jiwa seseorang. Ketika seseorang berpuasa, ia melakukan upaya-upaya untuk melepaskan diri dari dominasi syahwat dan hawa nafsu, serta keinginan diri yang tidak sesuai dengan kehendak Allah yang sejatinya adalah upaya meniadakan diri, seperti menahan lapar dan haus, mengendalikan diri dari tingkah laku yang tidak terpuji.
Hal itu sebagaimana kata Imam al-Ghazali bahwa makan dan minum adalah bahan bakar untuk menggerakkan mobil hawa nafsu seseorang, dan perut kenyang itu dapat menggerakkan dua syahwat yang berbahaya, yaitu syahwat farji dan dan syahwat lisan.
Sebaliknya, ketika puasa, seseorang dapat mematikan keinginan-keinginan nafsu ammarah (dari yang memerintahkan keburukan).
Mengutip Syeikh ‘Abdul Qadir Jailani, sikap berlebihan dalam urusan makan dapat mematikan hati, memadamkan api rindu kepada Allah, dan meredupkan cinta yang hakiki kepada-Nya. (Tafsir al-Jailani, Juz I, hlm. 158).
Dengan demikian, menurut Rumi, rasa lapar menjadi kendaraan yang mengantarkan tersingkapnya segala hijab yang telah menghalangi masuknya cahaya Ilahi. Hilangnya hijab itu menandakan tak ada yang menghalanginya lagi. Karena ia sudah terlepas dari kendali hawa nafsu dan syahwat, akan mudah bagi seorang ‘abid melakukan perjalanan menuju Allah.
Inilah yang dimaksudkan Rumi, puasa adalah jalan untuk menjadi orang yang bertaqwa (QS. al-Baqarah [2]: 183), dengan kata lain hamba yang taqwa adalah hamba yang telah "kosong" dari selain Allah. Menjadi hamba yang bertaqwa. Al-Quran menyebutkan bahwa misi akhir puasa adalah supaya seorang hamba bertaqwa.
Rumi telah menggambarkan bagaimana hakikat puasa yang merupakan salah satu bentuk pengosongan diri dapat mentransformasi jiwa seseorang yang hasilnya akan mewujud dalam dimensi spiritual transendental, juga dimensi sosial.
Pengertian al-Muttaqin (hamba yang takwa) di tataran batin adalah ia yang mencerminkan sifat-sifat Ilahi dalam laku hidupnya, hamba yang sepenuhnya sesuai dengan kehendak Allah, dan telah sepenuhnya Allah jaga agar senantiasa ada di atas petunjuk-Nya.
Maka, takwa merupakan puncak ketinggian rohani mereka. (QS. al-Anfal [8]: 29).
Pada ayat yang lain, Allah berfirman, Surat (At-Thalaq [65] ayat 2-3 (sering disebut Ayat Seribu Dinar) menekankan pentingnya bertakwa dan bertawakal kepada Allah dalam menghadapi kesulitan, termasuk urusan rumah tangga/rezeki. Allah berjanji memberikan jalan keluar dan rezeki tak terduga bagi yang bertakwa, serta mencukupkan kebutuhan orang yang berserah diri (tawakal).
”Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka."
Dan kemudian dikatakan kepada orang yang bertakwa: "Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Kebaikan."
Bagi orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (balasan) yang baik. Dan sesungguhnya negeri akhirat pasti lebih baik. Dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa. (QS. An-Nahl 16: Ayat 30).
Sia-sia menahan lapar dan dahaga: "Barang siapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatan keji, maka Allah tidak butuh (atas usahanya) dalam menahan rasa lapar dan dahaga." (HR Al-Bukhariy: 1770)
Jika demikian, Allah menjamin kehidupan dan masa depan orang bertakwa, lantas alasan apa lagi yang membuat kita tidak bergegas untuk menempuh jalan taqwa, yang tidak lain adalah sungguh-sungguh dalam berpuasa; berupaya mengosongkan diri, menafikkan kehendak-kehendak nafsu dan syahwat. Wallahu a’lam.
*Penulis tinggal di Lampung Barat.


