-->
Cari Berita

Breaking News

Makna Kehadiran Forum Literasi Lampung

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Senin, 16 Februari 2026

 


Catatan Lepas, Gunawan Handoko 


MENGAWALI tulisan ini, saya ingin menyampaikan ucapan Selamat atas pelantikan dan pengukuhan Forum Literasi di 15 kabupaten dan kota se-Provinsi Lampung oleh Bunda Literasi Provinsi Lampung, Purnama Wulan Sari Mirza, pada hari Sabtu, 14 Februari 2026, di Gedung Pusiban Kantor Gubernur Lampung. Mereka bukan wajah-wajah baru di dunia literasi, tapi merupakan pegiat dan relawan-relawan tangguh yang selama beberapa tahun telah mendedikasikan dirinya secara mandiri di wilayah masing-masing. Pasca digelarnya kegiatan Gerakan Literasi Nasional oleh Forum Literasi Lampung (FLL) pada Juli 2025 lalu, banyak para pegiat dan relawan literasi dari berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Lampung yang meminta kepada FLL untuk dibentuk kepengurusannya. Boleh jadi, hal ini termotivasi dengan hadirnya Bunda Literasi Lampung dalam acara Gerakan Literasi Nasional tersebut. Yang bukan hanya mengapresiasi kiprah FLL selama ini, namun juga ajakan Batin Wulan untuk bekerjasama dalam gerakan yang sama, yakni menanamkan budaya literasi dan menumbuhkan minat baca bagi masyarakat. Keinginan dibentuknya Forum Literasi di kabupaten dan kota bukan untuk menoreh nama dan popularitas di media, atau untuk berharap bantuan dari pemerintah kabupaten dan kota. Tetapi dilandasi kesadaran bahwa literasi yang kuat harus ada kerja sama dari semua komponen dalam masyarakat, termasuk pemerintah daerah tentu saja.


Literasi butuh gerakan bersama dalam setiap komunitas, bukan dilihat sebagai geliat kelompok atau perorangan.


Dihadapan Bunda Literasi Lampung, Ketua FLL Dr. Eni Amaliah kembali menyatakan komitmennya untuk terus berjuang, menjadikan Lampung sebagai provinsi literasi menuju Forum Literasi Lampung semangat untuk mewujudkan Lampung sebagai Provinsi Literasi menuju Lampung Maju.


Dibentuknya Forum Literasi tingkat kabupaten dan kota ini menjadi momentum penguatan gerakan literasi daerah sebagai bagian dari upaya membangun sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.


Gayung pun bersambut, Batin Wulan bukan hanya memberi apresiasi dan harapan besar kepada Forum Literasi, namun juga mengajak untuk bekerjasama dan berkolaborasi dalam menjalankan tugas mulia ini.


Literasi merupakan pondasi utama dalam membangun sumber daya manusia, bukan sekadar membaca dan menulis. Batin Wulan menilai, ditengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi, kemampuan literasi menjadi kunci agar masyarakat mampu untuk berpikir kritis, bijak dalam menyerap informasi agar terhindar dari disinformasi. Menyimak dari apa yang disampaikan Bunda Literasi Provinsi Lampung dan Ketua FLL, bisa ditarik kesimpulan bahwa literasi selalu bergerak solider kepada sesama dan menjadi gerakan bersama yang kuat dan berkesinambungan.


Literasi tidak cukup hanya dengan teori dan membuat proposal yang ditenteng kemana-mana, tapi harus tampak dalam aksi nyata. Literasi tidak butuh definisi secara ilmiah, tapi harus dimulai dari dalam diri untuk mencari dan menemukan segala hal yang diinginkan. Relawan literasi juga tidak mengenal usia, pangkat, kedudukan, status untuk berliterasi. Karena bila dibatasi dengan usia, maka saya salah satu diantaranya yang harus dibuang dari komunitas relawan literasi.


Bahkan, literasi tidak pernah memberi batas atau sekat yang menghalangi seseorang untuk menemukan segala informasi melalui buku, media cetak, media elektronik dan media apapun. Pendek kata, tidak ada satu pun pembelajaran tanpa literasi, karena semua ilmu yang diajarkan saling berkaitan satu dengan yang lain. Untuk saling memahami satu materi dengan materi lain, maka literasi merupakan sumbu untuk menyalakan semua ilmu. 


Jujur diakui, sudah banyak lembaga yang dinaungi pemerintah yang memiliki tugas pokok meningkatkan literasi. Namun gerakan mereka seringkali terhambat oleh ketergantungan anggaran dari pemerintah. Hal ini membuat mereka kurang mandiri dan kurang inovatif, sehingga kegiatan literasi tidak berkelanjutan dan tidak efektif dalam meningkatkan kesadaran literasi di masyarakat. 


Maka perlu ada perubahan mindset dan strategi untuk meningkatkan kemandirian dan inovasi dalam gerakan literasi, sehingga kegiatan ini dapat berjalan secara berkelanjutan dan efektif.


Dalam konteks ini, Forum Literasi kabupaten dan kota yang sudah terbiasa mandiri, harus bisa menjadi contoh yang berbeda, yakni dengan mencari sumber dana yang lebih beragam dan tidak terlalu bergantung pada pemerintah. Mereka dapat lebih fokus pada tujuan utama, yakni meningkatkan kesadaran literasi bagi masyarakat, bukan hanya pada kepentingan administratif atau birokratis.


Jika gerakan literasi hanya bergantung pada bantuan pemerintah, diyakini kegiatan literasi hanya akan berjalan ketika ada dana saja. Dalam konteks ini, kemandirian Forum Literasi tidak berarti bahwa Bupati dan Walikota tidak perlu memberi dukungan. Justru sebaliknya, dukungan dari pemerintah daerah sangat penting untuk meningkatkan efektivitas Forum Literasi. Bupati dan Walikota dapat memberikan dukungan dalam bentuk kebijakan dan sumber daya. Dengan demikian, Forum Literasi dapat lebih kuat dan efektif dalam meningkatkan literasi di daerah. Kerja sama yang baik antara Forum Literasi dan pemerintah daerah sangat penting untuk mencapai tujuan bersama. Dengan telah dilantik dan dikukuhkannya Forum Literasi kabupaten dan kota yang merupakan wadah berhimpunnya relawan literasi, penting untuk menjaga transparansi dan koordinasi dengan pihak terkait, khususnya dengan Bupati dan Walikota serta Bunda Literasi.


Langkah pertama, melapor keberadaan Forum Literasi kepada Bupati dan Walikota dan memastikan bahwa upaya literasi yang dilakukan sejalan dengan program dan kebijakan daerah. Dengan melapor, diharapkan kepala daerah dan Bunda Literasi kabupaten/kota dapat memberikan dukungan dan sumber daya yang dibutuhkan untuk meningkatkan efektivitas program literasi. Jika semua pihak memiliki komitmen sama, maka Forum Literasi dapat dimanfaatkan sebagai ujung tombak dalam merealisasikan program kerja pemerintah, mengingat gerakan para relawan ini melibatkan masyarakat secara langsung, tanpa birokrasi yang terkadang bertele-tele. 

Mungkin mereka dapat lebih kreatif dan inovatif dalam mencari sumber daya dan solusi untuk meningkatkan kesadaran literasi di masyarakat. Dan yang tidak kalah penting, kehadiran Forum Literasi hendaknya tidak dilihat sebagai pesaing bagi organisasi perangkat daerah maupun lembaga yang memiliki tugas pokok dan fungsi untuk membangun literasi.

Tapi harus dilihat sebagai mitra strategis yang dapat membantu meningkatkan efektivitas gerakan literasi di daerah. Dengan bekerjasama dan berkolaborasi, Forum Literasi dan organisasi perangkat daerah dapat saling melengkapi dan meningkatkan dampak program literasi. Forum Literasi mungkin dapat membantu meningkatkan inovasi dengan membawa ide-ide baru dan kreatif. Dengan demikian, kehadiran Forum Literasi dapat menjadi aset berharga bagi organisasi perangkat daerah dalam meningkatkan literasi di daerah. Diharapkan Forum Literasi yang telah terbentuk di 15 kabupaten dan kota se-Provinsi Lampung ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam meningkatkan kesadaran literasi dan menciptakan masyarakat yang lebih berpengetahuan dan berdaya saing. Salam Literasi!!!


*Penulis: Pengamat pendidikan dan Dewan Pakar Forum Literasi Lampung.

LIPSUS