Oleh: Junaidi Jamsari
Sebagai manusia, kita berusaha untuk senantiasa menjaga keberlangsungan hidup di dunia dengan beragam upaya. Salah satunya dengan bekerja atau mencari penghidupan.
Dengan bekerja, seseorang akan mendapatkan penghasilan untuk memenuhi segala hajatnya dan mempertahankan eksistensinya.
Tidak ada yang salah jika kamu menjadikan uang sebagai orientasi bekerjamu. Tentu saja, karena bagaimana pun uang merupakan aspek terpenting untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sayangnya, jika kamu menjadikan uang sebagai orientasi utama, maka kamu tak akan bekerja sepenuh hati. Kamu pun bahkan akan sulit ikhlas dalam memberikan segala usahamu untuk bekerja.
Ikhlas dan bekerja separuh hati adalah dua sikap yang berlawanan dalam pendekatan terhadap pekerjaan dan kehidupan secara umum.
Perbedaannya adalah Ikhlas (Keikhlasan): Keikhlasan berarti melakukan sesuatu dengan tulus, tanpa pamrih, dan semata-mata karena ingin melakukan yang terbaik atau memenuhi kewajiban, seringkali tanpa mengharapkan imbalan materi atau pujian langsung. Fokusnya adalah pada kualitas tindakan, niat murni, dan kepuasan batin, menjadikan ridho sebagai tujuan utama.
Bekerja Separuh Hati: Sikap ini menunjukkan kurangnya komitmen, motivasi, atau antusiasme. Seseorang melakukan tugasnya hanya sebatas yang diperlukan untuk "menyelesaikan pekerjaan", seringkali menghasilkan kualitas yang kurang baik, efisiensi rendah, dan perasaan tidak puas secara pribadi.
Ikhlas berakar pada niat positif dan dedikasi penuh, sedangkan bekerja separuh hati mencerminkan sikap apatis dan keterlibatan minimal.
Dalam Islam telah dijelaskan secara gamblang di dalam Al-Qur’an dan hadits Rasul. Keduanya memberikan penjelasan dan panduan bagi kita dalam bekerja dan mencari ma’isyah /penghidupan.
Berikut di antara ayat-ayat al-Qur’an membahas tentang bekerja. “Dialah yang menjadikan malam untukmu (sebagai) pakaian dan tidur untuk istirahat. Dia menjadikan siang untuk bangkit berusaha” (Q.S. al-Furqan: 47). “Apabila salat (Jumat) telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung” (Q.S. al-Jumu’ah : 10)
Perlu diingat semua yang kita lakukan berada dalam pengawasan dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Karena itu, diperingatkan kepada kita untuk bekerja dengan sebaik-baiknya, maksimal dan penuh totalitas.
dan Katakanlah:, “Bekerjalah kamu, Maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga rasul-Nya dan orang-orang mukmin dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S. at-Taubah : 105).
Di dalam beragam riwayat juga diterangkan bahwa Rasulullah memberikan tuntunan di dalam mencari penghidupan. Rasulullah bersabda: “Barang siapa mencari (kenikmatan) dunia secara halal untuk menjaga diri dari meminta-minta; untuk memenuhi kebutuhan keluarganya; dan untuk berderma kepada tetangganya maka di hari kiamat ia akan bertemu Allah sedang wajahnya bersinar terang laksana bulan purnama.”. (H.R al-Baihaqi dalam Syu’abul iman, juz 13, no. hadist 9890).
Beberapa hal yang dapat kita jadikan pijakan dalam hidup adalah sebagai berikut. Pertama, tuntunan untuk mencari sumber penghasilan yang halal, baik objeknya maupun proses mendapatkannya. Kedua, tuntunan untuk menjauhkan diri dari sikap meminta-minta atau membebani orang lain. Ketiga, tuntunan untuk mencari penghasilan guna memenuhi kebutuhan diri dan keluarga. Keempat, tuntunan untuk saling membantu tetangga dan lingkungan sekitar yang membutuhkan bantuan. Untuk menjaga keberlangsungan kehidupan, baik sebagai individu maupun makhluk sosial, maka tuntunan ajaran Rasulullah di atas penting untuk dilaksanakan.
“Tidak ada seseorang yang memakan satu makanan pun yang lebih baik dari makanan hasil usaha tangannya (bekerja) sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Allah Daud as. memakan makanan dari hasil usahanya sendiri” (HR. Bukhari, no 1966).
Representasi dari beberapa istilah yang begitu familiar di telinga kita, seperti kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, kerja ikhlas, profesional, dan profesionalisme, dimaknakan sebagai berikut:
Kerja keras adalah sikap yang menunjukkan kesungguhan dan dedikasi tinggi dalam mencapai tujuan, melibatkan pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran. Kerja cerdas adalah cara bekerja efektif dan efisien dengan memanfaatkan keterampilan, teknologi, dan waktu secara optimal. Kerja tuntas adalah sikap untuk menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya, tidak setengah-setengah, dan sesuai standar operasional.
Kerja ikhlas adalah mengerjakan tugas dengan tulus dan tanpa pamrih, murni karena niat kebaikan dan pengabdian. Profesionalisme dalam bekerja lahir dari iman kepada Allah, yang melahirkan kejujuran dan tanggung jawab dalam melaksanakan amanah.
Wallahu a'lam bisshowab.
*Penulis berdomisili di Lampung Barat.


