-->
Cari Berita

Breaking News

Memaknai Tradisi Punggahan Menyambut Ramadhan

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Minggu, 15 Februari 2026



Oleh : Junaidi Jamsari 

Ramadhan 1447 H/2026 M sudah di depan mata. Bulan penuh ampunan yang dinanti umat Islam di seluruh dunia. Kehadiran "tamu agung" ini membawa berkah yang akan singgah di rumah dan lingkungan kita selama sebulan.

Puasa Ramadhan, salah satu rukun Islam, diwajibkan bagi umat Islam, seperti firman Allah dalam Surat Al Baqarah ayat 183. Tujuannya? Mencapai taqwa, derajat tertinggi bagi hamba Allah.

Punggahan (atau Munggahan) menyambut datangnya bulan suci Ramadhan pada akhir bulan sya’ban, masih menjadi tradisi yang keren di banyak daerah di Indonesia, umat muslim di berbagai penjuru Nusantara. Caranya mungkin beda-beda, tapi tujuannya sama; berdoa agar ibadah Ramadhan lancar. 
Punggahan berasal dari kata munggah, yang memiliki arti naik. Maksudnya, tradisi ini diharapkan mampu menaikkan derajat manusia dalam menghadapi bulan puasa, baik secara lahiriyah maupun batiniyah.

Tradisi punggahan biasanya digelar di masjid, musala, atau rumah warga. Acaranya termasuk membaca tahlil dan doa bersama. Kalau di masjid, orang-orang biasanya membawa makanan dari rumah. Namun kalau acaranya di rumah warga, makanannya disiapkan oleh tuan rumah.

Semacam tradisi yang keren lainnya, menikahkan anak atau mengkhitankan anak sebelum puasa, menempati rumah baru, bertujuan "mengantarkan" mereka ke bulan suci dengan status yang lebih baik, dan sebagai cara untuk "membersihkan diri" dan keluarga sebelum memasuki bulan Ramadhan. 

Punggahan juga menjadi bentuk rasa syukur kepada Allah, sarana untuk mempererat silaturahmi dengan sesama, serta momen untuk mengirimkan doa kepada mereka yang telah berpulang.

Tradisi punggahan ini bukan sekadar acara seremonial, tetapi juga menjadi momen untuk mempererat silaturahmi, membersihkan hati, dan mempersiapkan diri secara spiritual menghadapi bulan penuh berkah. 
Dalam budaya Islam Nusantara, punggahan sering diisi dengan kegiatan seperti doa bersama, ziarah makam, hingga makan bersama keluarga dan kerabat.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah "munggah" merujuk pada hari terakhir bulan Ruwah, yakni sehari sebelum dimulainya puasa Ramadhan.

Sementara itu, "munggahan" diartikan sebagai tradisi berkumpul dan makan bersama dengan keluarga atau kerabat untuk menyambut bulan Ramadhan. Pemaknaan tradisi munggahan atau punggahan bisa berbeda di setiap daerah.

Istilah "munggahan" dalam bahasa Jawa berarti "naik." Maknanya, tradisi ini menggambarkan proses menaikkan puasa atau peralihan dari bulan Sya'ban menuju bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan.

Perpindahan ke bulan suci ini menunjukkan bahwa Ramadhan menjadi puncak dari dua bulan sebelumnya yang juga istimewa, yaitu Rajab dan Sya'ban. Ada juga yang memaknainya sebagai momen untuk meningkatkan keimanan sebelum memasuki bulan Ramadhan. 
Namun, secara umum, punggahan merupakan tradisi masyarakat untuk menyambut bulan suci dengan berdoa kepada Allah.

Sebelum Ramadhan, banyak orang mengisi waktu dengan doa bersama, makan bersama (botram) bersama keluarga, kerabat, tetangga, atau teman kerja, serta pengajian untuk menyambut Ramadhan. Syukuran dan doa bersama dilakukan agar ibadah puasa lancar dan mendapat berkah.

Pengurus masjid tak luput memperhatikan perbaikan masjid, mulai dari membersihkan, memperbaiki pengeras suara, hingga menyusun jadwal imam, muazin, dan bilal.

Yang lebih penting adalah niat dan kesungguhan, karena niat menentukan kualitas ibadah (ikhlas atau tidak), sedangkan kesungguhan menunjukkan komitmen dan usaha.

Dalam Islam, niat yang ikhlas dan usaha yang sungguh-sungguh menjadi kunci diterimanya ibadah. 

Dalam berdoa yang dimohonkan, biasanya:
Ampunan dosa, kemudahan beribadah di bulan Ramadhan, 
Kesehatan dan kekuatan, diterima amalan dan puasanya. Pun perlindungan dari godaan

Ya Allah, aku mohon ampunan atas dosa-dosaku. Bimbing aku menjalani Ramadhan dengan ibadah yang khusyuk dan diterima. Berikan aku kesehatan dan kekuatan. Jadikan puasa dan amalku diterima. Amin.

 *Penulis tinggal di Lampung Barat.

LIPSUS