Oleh: Junaidi Jamsari
TONG TONG, Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus, Kamis 12 Februari 2026 akan mencanangkan kekuhan (kentongan) sebagai simbol identitas, warisan historis yang terjaga sampai saat ini.
Apa itu, program kejutan awal tahun ini adalah memasyarakatkan kekuhan atau kentongan. Bukan karena sebentar lagi ummat Islam akan memasuki bulan suci Ramadhan, tetapi program ini sebagai peringatan dini berbasis kearifan lokal, plus sebagai salah satu upaya mewujudkan Kabupaten Lampung Barat sebagai kabupaten tangguh bencana, yang menjadi komitmen Bupati Parosil Mabsus.
Taglinenya: PM SIAGA (Program Mitigasi, Masyarakat Siap dan Tanggap).
PM SIAGA digagas oleh Bupati Lampung Barat untuk membangun ekosistem tangguh bencana, dengan tujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dan ketahanan daerah dalam menghadapi bencana.
Apa targetnya? Terbentuknya Pekon Tangguh Bencana (Destana), terbentuknya SPAB (Satuan Pendidikan Aman Bencana), Puskesmas Aman Bencana, dan Kecamatan Aman Bencana (Kencana).
Tak urung, kegiatan kolaborasi antara BPBD dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Barat serta dukungan seluruh stakeholders. Padang Priyo Utomo, Kepala BPBD, Tati Sulastri, Kepala Disdikbud, ikut memutar kepalanya.
Pada launching kekuhan/kentongan serentak yang dipusatkan di SMP Negeri 1 Liwa, juga akan diberikan penghargaan kepada satuan Pendidikan Aman Bancana (SPAB) dari tingkat TK, SD, SMP dan Puskesmas.
Setelah itu, akan ditindaklanjuti dengan Surat Edaran Bupati Lampung Barat tentang Penggunaan Kekuhan (Kentongan) Sebagai Sistem Peringatan Dini Berbasis Kearifan Lokal.
Bagi masyarakat Liwa, kekuhan bukan hal baru. Karena penggunaan kentongan di wilayah Lampung (termasuk Lampung Barat), sebagai warisan budaya.
Pada jaman dahulu, kekuhan dikenal sebagai alat komunikasi darurat, seperti; bahaya, bencana atau penanda waktu dimulainya kegiatan -- gotong royong atau musyawarah.
Pergeseran fungsi membuat kekuhan jarang digunakan, karena digantikan teknologi modern.
Tantangan dalam melestarikan kekuhan sebagai bagian dari identitas budaya di tengah modernisasi, kalau selama ini berfungsi sebagai bagian dari permainan rakyat, alat tradisional, atau simbol identitas lokal, yang sudah jarang digunakan di era modern, tetapi tetap dirawat sebagai warisan historis. Kebijakan Bupati menjadi jawabannya.
Kekuhan atau kentongan dikenal sebagai sebuah peralatan tradisional yang terbuat dari bambu atau kayu, kini bukan hanya dikenal sebagai alat komunikasi darurat, tetapi juga sebagai simbol budaya yang mendalam bagi masyarakat lokal.
Meskipun zaman telah berkembang pesat dan teknologi komunikasi semakin maju, kekuhan tetap dipertahankan dan dihargai sebagai bagian dari identitas budaya yang sangat penting dalam kehidupan sosial masyarakat di Lampung Barat.
Di masa lalu, kentongan digunakan sebagai alat utama untuk mengirimkan pesan atau memberi peringatan dalam situasi tertentu, terutama di daerah pedesaan yang belum sepenuhnya terjangkau oleh teknologi komunikasi modern.
Suara kentongan yang nyaring dan mudah didengar dari jarak jauh membuatnya menjadi alat yang efektif untuk menghubungkan masyarakat dalam keadaan darurat maupun dalam kegiatan sosial.
Kekuhan seringkali digunakan untuk memberi peringatan saat terjadi hal-hal yang membahayakan, seperti kebakaran, serangan, atau bencana alam. Ketika ada ancaman yang mendesak, kentongan dibunyikan dengan keras, dan seluruh warga desa tahu bahwa mereka harus segera bersiap dan bertindak untuk menjaga keamanan bersama. Sistem komunikasi ini mengutamakan kepentingan bersama dan kerja sama untuk mengatasi masalah dengan cepat.
Selain itu, kentongan juga menjadi alat yang sangat efektif untuk memanggil warga dalam berbagai kegiatan sosial, seperti rapat desa, kerja bakti, atau upacara adat.
Suara kentongan menjadi sinyal yang menyatukan masyarakat, mengingatkan mereka akan pentingnya partisipasi bersama dalam kegiatan komunitas. Ini memperkuat rasa kebersamaan dan gotong royong, yang menjadi ciri khas kehidupan masyarakat lokal.
Kekuhan atau kentongan adalah simbol gotong royong dan kebersamaan, membangkitkan solidaritas sosial masyarakat untuk bertindak bersama.
Kentongan adalah warisan budaya yang tak lekang oleh zaman, mengajarkan gotong royong dan kebersamaan, serta melestarikan tradisi leluhur di era modern.
Melalui pelestarian kekuhan, masyarakat tidak hanya menjaga alat komunikasi tradisional, tetapi juga menghormati dan mewariskan nilai-nilai leluhur yang telah membentuk karakter dan identitas.
Dengan demikian, kentongan tetap menjadi simbol yang memperkuat ikatan sosial dan budaya di tengah kemajuan zaman. Tangguh bencana bukan hanya penanganan saat darurat, tapi juga mitigasi dan pengurangan risiko bencana. Semoga!
*Penulis berdomisili di Lampung Barat.



