-->
Cari Berita

Breaking News

Ramadhan: Merajut Tradisi dan Spiritualitas

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Jumat, 13 Februari 2026



Oleh : Junaidi Jamsari

Menjelang bulan Ramadhan, gejala sosialisasi nilai-nilai agama semakin nampak dalam kehidupan masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan-kegiatan seperti ziarah ke makam orang tua, tradisi nyekar, dan ruwahan. 
Kesibukan-kesibukan ini menunjukkan upaya masyarakat untuk menghadapi dan menempuh bulan Ramadhan, bulan yang mulia, penuh rahmat, barokah, dan pengampunan.

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu sekalian bertakwa." (Al-Qur'an 2:183).

Jika kepada mereka yang sedang berpuasa diajukan sebuah pertanyaan: "Mengapa Anda berpuasa?" Jawaban yang diberikan oleh hati nurani yang tak mungkin bohong tentu bisa bermacam-macam. Ada yang berpuasa karena malu dengan istri, mertua, atau tetangga, ada yang sekadar ingin coba-coba merasakan seperti apa sih rasanya berpuasa, ada yang berpuasa karena sudah menjadi tradisi sejak masa kecil, dan ada yang berpuasa dengan penuh kesadaran memenuhi panggilan dan perintah Allah SWT sebagaimana yang tercantum dalam ayat 183 dari Surat Al-Baqarah yang dikutip di atas. 

Dan, yang terakhir inilah puasa yang dikehendaki oleh ajaran agama serta yang akan dapat membawa pelakunya kepada derajat orang-orang yang bertakwa.

Apa yang dimaksud takwa?
Imam Al Ghozali, seorang filosuf terkemuka di-dalam bukunya "Mukasyafatul Qulub", menggambarkan bahwa sifat-sifat takwa itu ada enam.
1. Lidahnya selalu terpelihara dari ucapan yang sia-sia, apalagi membawa bencana.
2. Hatinya akan terhindar dari sifat-sifat dengki, benci dan sebagainya.
3. Matanya tidak diarahkan pada pandangan yang terlarang.
4. Perutnya tidak memakan makanan yang haram.
5. Tangannya bersih dari segala perbuatan noda.
6. Kakinya tidak akan melangkah ke tempat maksiat.

Puasa karena Allah atau yang lain? Ibadah puasa unik, karena sifatnya yang sangat pribadi. Tidak seperti salat, zakat, dan haji yang melibatkan orang lain. Puasa hampir tak mungkin dikontrol kecuali oleh diri sendiri, sehingga niat dan kejujuran sangat penting.

Siapa yang mau tahu jika kita tidak benar-benar puasa? Seorang ibu di rumah sendirian, dengan makanan dan minuman tersedia, namun ia tidak menyentuhnya karena malu kepada Tuhan yang melihatnya. Ini menunjukkan bahwa puasa yang didorong oleh niat mengharap ridlo Allah SWT menuntut disiplin rohani tinggi dan rasa dekat dengan Tuhan, yang akan mengantarkan kita kepada sikap hidup takwa.

Ibadah puasa, sebuah momen pribadi dengan Tuhan, namun tidak berarti kita lupa orang lain! Hadits Qudsi mengatakan: "Puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang memberi balasannya." Tapi, puasa kita sia-sia jika masih berbuat kotor dan mungkar. Nabi mengajarkan, jika ada yang mengajak bertengkar, kita tidak melayaninya. Dan, bulan puasa adalah waktu untuk memperbanyak amal saleh dan sedekah. Bahkan, zakat fitrah menjadi bukti kepedulian sosial kita kepada orang lain.

Puasa itu adalah rahmatan lil'alamin. Jika ditelusuri lebih jauh, tidak satu pun ajaran Islam yang semata-mata hanya bersifat ritual. Setiap ibadah dalam Islam selalu memiliki dimensi ganda: perwujudan iman kepada Allah dan kepedulian kepada orang lain. Nabi Muhammad SAW bersabda: "Tidak termasuk orang beriman, mereka yang bisa tidur nyenyak dengan perut kenyang sementara tetangga di sebelah rumahnya tidak bisa tidur lantaran kelaparan."
Di bulan puasa, setiap muslim merasakan kelaparan, sehingga diharapkan dapat tumbuh penghayatan yang mendalam kepada mereka yang menderita. Keimanan kepada Tuhan yang dibarengi dengan kepedulian sosial harus dapat melahirkan kesadaran sosial yang tinggi. Pertanyaan yang perlu diajukan kepada diri kita adalah: Sudahkah puasa kita mampu melahirkan kepedulian dan kesadaran sosial seperti yang dituntut oleh ajaran agama? Ataukah puasa kita masih lebih bersifat ritual tanpa makna?

Namun, melihat kenyataan di sekeliling kita, hati kita terenyuh. Ibadah puasa yang kita laksanakan belum mampu melahirkan kepedulian sosial yang tinggi. 
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS) per Maret 2025, jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 23,85 juta orang atau 8,47% dari total populasi. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 0,2 juta orang dibandingkan dengan kondisi September 2024 yang mencatat 24,06 juta orang (8,57%). Kemiskinan tercatat menurun meskipun terdapat variasi antar-daerah. 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) dan laporan terkait menunjukkan terdapat jutaan anak tidak sekolah (ATS) dan putus sekolah di Indonesia, dengan angka estimasi mencapai 4,16 juta anak. Data tahun 2023 menunjukkan total anak putus sekolah dari SD hingga SMA mencapai 29,21% dari total 30,2 juta jiwa anak, dengan tren tertinggi di jenjang SMA. Karakteristik anak laki-laki cenderung lebih tinggi angka putus sekolahnya dibandingkan perempuan, terutama karena faktor pekerjaan anak.

Prevalensi stunting (kurang gizi kronis) di Indonesia pada awal 2025 tercatat sebesar 19,8%, menunjukkan penurunan dari 21,6% pada 2022. Sementara itu, sekitar 14 juta anak di Jawa Barat mengalami kekurangan gizi, dan lebih dari 60% anak-anak Indonesia hidup di garis kemiskinan, sehingga asupan gizinya kurang dari yang diharapkan. 

Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola Badan Gizi Nasional (BGN), Tigor Pangaribuan, menyatakan bahwa kondisi gizi anak-anak Indonesia masih menjadi tantangan besar, terutama karena faktor ekonomi keluarga yang berada di bawah garis kemiskinan. 

Kondisi masjid, musholla, atau madrasah yang "reyot" (rusak/tidak terawat) akibat kurangnya perhatian umat Islam merupakan masalah serius yang menyangkut manajemen dan kepedulian sosial-keagamaan. Mari kita renungkan, jika setiap muslim memiliki kepedulian sosial yang tinggi, masalah-masalah ini akan dapat diatasi. Mari kita ciptakan tradisi-tradisi baru yang bermakna sosial, seperti mengangkat anak asuh bagi anak-anak putus sekolah. 

Dengan niat yang suci, mari kita sambut bulan suci Ramadhan, semoga puasa kita menjadi rahmat bagi kita dan sesama. Aamiin.

 *Penulis adalah alumnus UIN Raden Intan, berdomisili di Lampung Barat.

LIPSUS