![]() |
| Ponton membelah Way Seputih, Minggu (1/2/2026) petang. (ist/inilampung) |
INILAMPUNGCOM - Sarana dan prasarana transportasi menuju wilayah Kecamatan Dente Teladas, Kabupaten Tulang Bawang (Tuba), selama ini memang cukup parah. Apalagi bila ditempuh dari Kota Menggala melalui kawasan perkebunan milik anak perusahaan PT Sugar Group Company (SGC) yang kini telah dicabut HGU-nya.
Perlu perjuangan ekstra untuk bisa melalui jalan tanah sepanjang area kebun kebu puluhan kilometer itu. Apalagi di musim penghujan seperti saat ini.
Lebih dari setengah perjalanan sepanjang 80 Km itu mesti ditempuh penuh perjuangan. Beceknya jalan berlumpur, acapkali membuat kendaraan tergelincir hingga berbalik arah.
Dari Km 69 berbelok ke arah kanan pun, ruas jalan -meski cukup lebar- tetap saja penuh kubangan. Masuk kawasan perkampungan penduduk hingga Pasar Pasiran Jaya, kondisi jalan memang tidak becek parah lagi. Karena sebagiannya berbalut aspal yang telah terkelupas disana-sini. Namun, tetap saja didominasi kubangan.
Laju kendaraan roda empat tidak bisa lebih dari 10 Km/jam.
Praktis dari wilayah Kota Menggala hingga Pasar Pasiran Jaya, Dente Teladas, sedikitnya membutuhkan waktu empat jam.
Memasuki kawasan Bratasena, Dente Teladas, kondisi jalan tidak lebih baik. Meski berbatu, namun tetap saja penuh kubangan. Dan itulah satu-satunya sarana jalan yang bisa digunakan warga sekitar. Yang dalam pantau Minggu (1/2/2026) sore kemarin, cukup tinggi pergerakan warga setempat. Baik yang menaiki sepeda motor maupun mobil.
Bagaimana "menyingkat waktu" untuk keluar dari wilayah Kecamatan Dente Teladas? Ada ponton yang siap melayani warga selama 24 jam.
Posisinya di kawasan Hasan Bulan. Dari Pasar Pasiran Jaya setidaknya dibutuhkan waktu hingga satu jam untuk sampai ke pangkalan ponton dan perahu itu.
Tentu harus melewati jalan berkubangan yang tiada jaraknya lagi. Infrastruktur jalannya memang rusak parah.
Di pangkalan Hasan Bulan, calon penumpang ponton yang membawa kendaraan roda empat harus merogoh kocek Rp85.000 untuk melewati Way Seputih. Sedangkan sepeda motor dikenai tarif Rp20.000 sekali jalan.
Tidak perlu berlama-lama. Cukup 10 menit saja untuk keluar dari wilayah Dente Teladas yang begitu parah kondisi jalannya sampai ke Sadewa, Bandar Surabaya, Lampung Tengah.
![]() |
| Kendaraan di atas ponton 10 menit saja. (ist/inilampung) |
Seturun dari ponton di pangkalan Sadewa, jalanan beraspal yang relatif baik -bahkan rigid beton- bisa dilewati.
Menurut pengelola ponton, setiap harinya sekitar 70 kali bolak-balik sarana transportasi membelah Way Seputih itu menjalankan kegiatannya.
Ponton yang mampu menampung enam kendaraan sekali jalan itu didorong dengan perahu. Yang jumlahnya disesuaikan dengan banyaknya muatan.
"Kalau ponton bawa empat mobil, perahu yang mendorongnya ya empat. Sesuai muatan aja," kata pengemudi perahu sambil menjelaskan, sekali jalan ia mendapat upah Rp25.000.
Keberadaan ponton di Hasan Bulan dan Sadewa yang telah beroperasi sejak lima tahun terakhir ini menjadi pilihan utama warga Dente Teladas yang berkegiatan di luar wilayah tersebut.
Meski harus merogoh kocek dengan jumlah lumayan besar, bagi warga -apalagi pedagang-, bukan persoalan.
"Karena cuma 10 menit kita naik ponton, bisa cepet jual dagangan ke Bandar Surabaya. Begitu juga kalau kita mau belanja. Ketimbang ke Menggala lewat area perkebunan perlu waktu paling sedikit empat jam, " kata Somad, pedagang barang pecah belah yang Minggu (1/2/2026) kemarin menumpang ponton.
Kenyataan ini mengajarkan kepada kita: bahwa dibalik rusak parahnya sarana infrastruktur jalan, tetap ada perekonomian masyarakat yang berputaran. (kgm-1/inilampung)



