![]() |
| Ketua Komisi II DPRD Lampung, Ahmad Basuki. (ist/inilampung) |
INILAMPUNGCOM - Pemprov Lampung bersama Kementerian Pertanian dan PT PTPN I melakukan groundbreaking Program Pengembangan Hilirisasi Ayam Terintegrasi di Kebun Kedaton Trikora PTPN I Regional 7, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, Jum'at (6/2/2026) siang kemarin.
Ketua Komisi II DPRD Provinsi Lampung, Ahmad Basuki, hadir dalam groundbreaking program pengembangan Proyek Strategis Nasional (PSN) hilirisasi ayam terintegrasi tersebut.
Legislator asal PKB ini mewanti-wanti agar program itu benar-benar mampu mengerek perkembangan ekonomi peternak lokal.
"Jangan sampai peternak lokal malah cuma jadi penonton adanya PSN itu," kata Ahmad Basuki yang beken disapa Abas.
Apalagi kata mantan Wakil Ketua DPRD Lampung Timur tersebut mengenai program hilirisasi ayam terintegrasi? Berikut petikan wawancara inilampung.com dengan Ketua Komisi II DPRD Lampung itu, Sabtu (7/2/2026) siang:
Anda kemarin hadir di acara groundbreaking proyek strategis nasional hilirisasi ayam terintegrasi, apa pandangan Anda atas proyek ini?
Pembangunan PSN hilirisasi ayam terintegrasi itu menurut saya bukan sekadar seremoni, melainkan titik balik bagi petani dan peternak Lampung untuk naik kelas dalam rantai industri pangan nasional.
Anda melihat ada prospek peternak lokal naik kelas dengan adanya program ini?
Iya, tentu saya optimis. Ke depan ini, Lampung harus berhenti hanya menjadi pemasok bahan mentah. Dengan hilirisasi yang kuat dan terintegrasi, nilai tambah akan tinggal di daerah.
Konkretnya..?
Peternak dan petani tidak lagi berada di hilir rantai keuntungan, tetapi menjadi bagian utama dari ekosistem industri. Ini peluang besar yang tidak boleh disia-siakan.
Mengenai penunjukan Lampung sebagai lokasi program?
Penunjukan Lampung sebagai salah satu lokasi PSN hilirisasi ayam terintegrasi merupakan bentuk kepercayaan besar dari pemerintah pusat terhadap potensi daerah. Dengan dukungan lahan, sumber daya, serta posisi strategis sebagai gerbang Sumatera, Lampung dinilai siap menjadi simpul produksi dan distribusi unggas nasional.
Sepengetahuan Anda, program ini dirancang bagaimana?
Program tersebut dirancang membangun rantai produksi terpadu, mulai dari pembibitan, pakan, budidaya, pemotongan, pengolahan hingga distribusi. Skema terintegrasi ini diyakini mampu memutus ketergantungan pada pola lama yang membuat peternak rentan fluktuasi harga serta minim margin keuntungan.
Prospektif sekali program itu ya?
Iya. Kalau ekosistemnya terbangun utuh, efek bergandanya akan sangat besar. Industri pakan tumbuh, serapan tenaga kerja meningkat, UMKM pengolahan berkembang, hingga sektor distribusi dan logistik ikut bergerak.
Jadi program itu bukan sekadar soal ayam dong?
Iya bener. Ini bukan hanya soal ayam, tapi soal perputaran ekonomi Lampung.
Bagaimana dengan peternak lokal?
Nah, ini yang harus kita tekankan. Yaitu pentingnya keterlibatan peternak lokal sebagai mitra utama dalam pengembangan proyek tersebut. Intinya, jangan sampai peternak lokal sekadar menjadi penonton atas adanya program hilirisasi ayam terintegrasi itu.
Apa yang dilakukan DPRD agar program ini sukses dengan tidak menjadikan peternak lokal sekadar penonton?
DPRD Lampung siap mengawal kebijakan daerah agar sejalan dengan agenda besar hilirisasi, termasuk kemudahan perizinan, pembangunan infrastruktur pendukung, serta akses pembiayaan. Dan tentu mengawasi keterlibatan peternak lokal juga.
Kembali ini, Anda optimis hilirisasi ayam terintegrasi berdampak positif bagi ekonomi petani peternak?
Tentu saja saya optimis. Dengan basis pertanian dan peternakan yang selama ini sudah kuat, dukungan hilirisasi dari pemerintah pusat dan daerah saya yakin akan menciptakan multiplier effect signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat.
Pernyataan terakhir mengenai program ini?
Hilirisasi harus menjadi mesin akselerasi. Petani sejahtera, peternak berdaya, dan Lampung melesat kemajuan ekonominya. (zal/inilampung)


