INILAMPUNG.COM, Bandar Lampung -- Merayakan Hari Perempuan Sedunia, Komunitas Dongeng Dakocan membicarakan narasi tubuh perempuan dalam puisi dan cerpen di Panggung Seni Di bawah Pohon Rindang (DPR) Komplek Taman Budaya Lampung, Senin 9 Maret 2026 petang.
Acara yang dilanjutkan buka puasa bersama itu menghadirkan dua pembicara perempuan, penulis dan akademisi Fitri Angraini, S.S., M.Pd. dan penyair & anggora FAMM Indonesia Iin Zakaria. Sementara moderator dikendalikan James Reinaldo Rumpia. Audiens dari kalangan seniman, mahasiswa UIN Raden Intan Lampung, Universitas Teknokrat Indonesia (UTI), Komunitas Penulis Muda Lampung (KPML), dan pemerhati sastra.
Kedua pembicara mendedah sastra – puisi dan cerpen – khususnya Indonesia dalam perspektif gender, antropologi sastra dan budaya. Dimulai dari karya Marah Roesli dalam “Siti Nurbaya” yang sangat terkenal itu, hingga sastra muasir.
Fitri menegaskan bahwa perjuangan menulis juga bagian dari perjuangan perempuan. Dalam sastra feminis umumnya berfungsi sebagai media kritik dan perlawanan terhadap budaya patriarki, sekaligus menjadi sarana untuk memperjuangkan kesetaraan gender.
Melalui cerita, tokoh, dan pengalaman perempuan yang dihadirkan, lanjut Direktur Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS ini, sastra feminis membuka ruang bagi pemahaman yang lebih luas mengenai identitas, kebebasan, dan hak-hak perempuan dalam masyarakat.
Fitri yang dikenal pegiat sastra dan sehari-hari sebagai dosen itu, mendedah karya-karya sastra yang “menyuarakan perempuan”. Suara perempuan dalam sastra Indonesia menunjukkan perubahan zaman di masa tertentu. “Dari ‘suara perempuan’ yang inferior atau tersisih menuju kesetaraan di sisi lelaki,” katanya.
Fitri menyebut karya-karya Hartoyo Andangjaya, Djenar Maesa Ayu, Sapardi Djoko Damono, untuk menyebut sastrawan masa kini.
Sementara, menurut IIn, tubuh perempuan dalam karya puisi dan cerpen merupakan representasi yang kompleks karena melibatkan dimensi budaya, sosial, dan politik.
“Dalam banyak teks sastra, tubuh
perempuan sering diposisikan sebagai objek estetika dan simbol moralitas yang dikontrol
oleh norma patriarki,” lanjut Iin yang juga dikenal pendongeng itu.
Namun, imbuh dia, perkembangan sastra modern menunjukkan munculnya narasi yang lebih kritis dan reflektif. Banyak penulis perempuan mulai menampilkan tubuh sebagai ruang pengalaman
dan resistensi terhadap konstruksi sosial.
Dengan demikian, kajian terhadap narasi tubuh perempuan dalam sastra tidak hanya penting
bagi studi sastra, tetapi juga bagi pemahaman yang lebih luas tentang relasi gender dalam masyarakat.(bdy/inilampung)
