Oleh: Junaidi Jamsari
Usai sebulan berpuasa di bulan Ramadhan, umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri dengan sukacita. Menurut Ibnu ‘Arabi, Idul Fitri disebut "id" karena momen itu selalu hadir pada setiap tahun dan disambut dengan rasa gembira.
Mari jadikan momen Idul Fitri ini tidak hanya sebagai hari kebahagiaan pribadi, tetapi juga sebagai kesempatan untuk berbagi kebahagiaan dengan sesama, terutama mereka yang membutuhkan.
Kebahagiaan Idul Fitri akan terasa lebih istimewa jika bisa membuat orang lain turut merasakan kebahagiaan yang sama.
Dari surah al-Baqarah [2] ayat 220 dan kisah perhatian Nabi Muhammad SAW terhadap anak yatim di Hari Raya Idul Fitri, kita dapat memahami bahwa dalam Islam, manusia diajarkan untuk memperhatikan dan menyantuni anak yatim dengan baik. Sebab, mereka adalah anak-anak yang rentan mengalami kekerasan, kecurangan, dan kesengsaraan. Tanpa perlindungan, mereka akan sulit untuk bertahan hidup apalagi bermanfaat bagi orang lain.
Surah al-Baqarah [2] ayat 220 menegaskan: Mengurus urusan mereka secara patut adalah lebih baik. Maksudnya, mereka harus mendidik, bergaul, memelihara, dan mengembangkan harta mereka dengan sewajarnya. Sikap semacam inilah yang diinginkan oleh ajaran Islam terhadap para penanggung jawab anak yatim (Tafsir Ibnu Katsir [1] 578).
Syekh Utsman bin Hasan bin Ahmad as-Syakir al-Khuwairy dalam kitab Durratun Nasihin menjelaskan salah satu hadits riwayat Anas bin Malik yang mengisahkan tentang seorang anak yatim yang bersedih di Hari Idul Fitri hingga membuat Rasulullah SAW merasa iba.
Suatu pagi saat Idul Fitri, Rasulullah SAW keluar rumah untuk melaksanakan shalat Id. Jalanan Madinah dipenuhi kebahagiaan. Anak-anak kecil berlarian mengenakan pakaian baru, tertawa, dan bermain bersama orang tua mereka.
Di tengah keriuhan itu, Rasulullah SAW melihat seorang anak kecil (dalam beberapa riwayat berusia sekitar 4 tahun) yang duduk menyendiri di sudut jalan. Anak itu tampak sedih, menangis, pakaiannya lusuh/robek, dan kakinya telanjang. Tidak ada pakaian baru di tubuhnya, dan ia tidak ikut bermain.
Rasulullah pun menghampiri anak tersebut, duduk di sampingnya, dan mengelus kepalanya dengan penuh kasih sayang. Beliau bertanya; "Wahai anak kecil, mengapa engkau menangis? Mengapa tidak bermain bersama teman-temanmu?"
Anak itu tidak mengenali bahwa yang berbicara adalah Nabi Muhammad SAW. Ia menjawab dengan pilu:
"Ayahku gugur dalam sebuah peperangan (dalam beberapa riwayat: pertempuran bersama Rasulullah). Ibuku kemudian menikah lagi dan mengambil semua harta serta rumah kami. Ayah tiriku mengusirku. Aku tidak punya baju baru, tidak punya makanan, dan tidak punya ayah lagi."
Mendengar cerita itu, Rasulullah SAW menangis dan ikut bersedih. Beliau berkata kepada anak itu; "Sudahlah jangan menangis. Apakah engkau ridha jika aku menjadi ayahmu? Aisyah menjadi ibumu? Fatimah menjadi kakakmu? Ali menjadi pamanmu? Serta Hasan dan Husein menjadi saudara laki-lakimu?"
Anak itu spontan terkejut dan menyadari bahwa orang yang membelainya adalah Nabi Muhammad SAW. Ia menjawab dengan bahagia: "Tentu saja, ya Rasulullah! Bagaimana mungkin aku tidak ridha?"
Rasulullah SAW kemudian membawa anak itu ke rumahnya, memandikannya, memberi pakaian terbaik, wangi-wangian, dan makanan yang lezat hingga kenyang.
Anak tersebut kemudian keluar rumah dengan ceria dan ikut bermain bersama teman-temannya. Saat ditanya teman sebayanya mengapa dia berubah begitu gembira, dia menjawab:
"Tadi aku sangat lapar, tapi sekarang aku kenyang. Tadi aku tak punya baju, sekarang aku punya baju baru. Tadi aku yatim, sekarang Rasulullah adalah ayahku!”
Teman-temannya heran melihat perubahan anak itu. Ia menjelaskan bahwa dulu ia lapar dan berpakaian buruk, tetapi sekarang kenyang dan berpakaian bagus. Dulu ia yatim, tetapi sekarang Rasulullah adalah ayahnya dan ia memiliki keluarga yang menyayanginya.
Anak-anak pun lain menjadi iri dan berharap ayah mereka juga meninggal di perang agar bisa diasuh Rasulullah.
Setelah Rasulullah wafat, anak itu kembali menjadi yatim hingga kemudian diasuh oleh Abu Bakar RA, sahabat Rasulullah, sepanjang hidupnya.
Hikmah dari kisah Rasulullah yang mengasuh anak yatim pada hari Raya Idul Fitri adalah bahwa Rasulullah sebagai pemimpin visioner, sangat peduli dengan kebutuhan dan kesedihan anak yatim yang menjadi korban perang. Tindakan Beliau untuk memberikan kesejahteraan kepada anak yatim tersebut adalah contoh inspiratif bagi umat Islam untuk mencintai, merawat, dan mengurus anak yatim di sekitar kita.
Dalam hadits riwayat Imam al-Bukhari, Rasulullah bersabda: "Aku dan orang yang mengurus anak yatim memiliki kedudukan di surga seperti ini," sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah yang sedikit terbuka, menandakan kedekatan yang sangat erat.
Kisah ini menegaskan betapa tingginya kedudukan anak yatim dalam Islam dan kewajiban umat Muslim untuk membahagiakan mereka, terutama pada hari raya. Wallahu a'lam.
*Penulis tinggal di Lampung Barat.


