Oleh Denny JA
Pagi itu di Los Angeles, udara terasa berbeda. Bukan karena musim. Tapi karena emosi yang menggantung di langit kota.
Saya memang saat itu bersama rombongan sedang berada di Los Angeles. Berita cepat meluas, kota itu menyaksikan manusia bergerak seperti gelombang.
Seorang perempuan muda menangis sambil memegang poster. Di sebelahnya, seorang pria berteriak tanpa suara, hanya gerak bibirnya yang terbaca: “Cukup.”
Di kejauhan, sirene bersahut. Jalanan yang biasanya penuh mobil kini dipenuhi manusia. Mereka datang dari berbagai arah, membawa satu hal yang sama: kelelahan.
Hari itu bukan hanya milik Los Angeles. Di New York City, Washington, D.C., Houston, hingga Boston, jutaan orang turun ke jalan.
Diperkirakan lebih dari tujuh juta manusia bergerak serentak. Sebuah angka yang terlalu besar untuk disebut kebetulan.
Ini bukan sekadar protes.
Ini adalah jeritan kolektif dari bangsa yang merasa hidupnya semakin mahal, semakin berat, dan semakin jauh dari kendali mereka sendiri.
Dan di tengah semua itu, satu nama terus disebut.
Donald Trump.
-000-
Aksi ini dikenal dengan nama No Kings Movement.
Sebuah nama yang sederhana, namun sarat makna. Tidak ada raja. Tidak ada penguasa absolut. Hanya rakyat dan hak mereka untuk hidup layak.
Gerakan ini tidak lahir dari satu organisasi besar. Ia tumbuh dari jaringan akar rumput yang tersebar di seluruh Amerika. Aktivis, buruh, mahasiswa, ibu rumah tangga, hingga pekerja gig economy menjadi bagian dari denyutnya.
Media sosial menjadi tulang punggung.
Dalam hitungan hari, pesan menyebar dari satu kota ke kota lain. Tidak ada komando pusat. Tidak ada panggung tunggal. Justru di situlah kekuatannya.
Setiap kota menjadi episentrum.
Di sebuah sudut kota, para relawan No Kings Movement duduk melingkar di lantai dingin gedung komunitas, merancang poster sederhana bertuliskan: “Harga Naik, Harapan Turun, Kami Tidak Diam.”
Di Washington, D.C., ribuan orang memenuhi Lincoln Memorial, membawa poster yang menuntut penghentian perang dan pembatasan kekuasaan presiden.
Di New York City, Times Square berubah menjadi lautan manusia. Polisi menutup jalan, bukan karena parade, tetapi karena kemarahan.
Di Minnesota, kematian dua warga akibat operasi imigrasi federal menjadi pemantik luka yang lebih dalam. Dari sana, protes menjalar seperti api.
Mengapa bisa serentak. Karena penderitaan yang dirasakan juga serentak.
Kenaikan harga, kebijakan imigrasi yang keras, dan perang di luar negeri menyatu menjadi satu rasa bersama. Kehilangan kendali atas hidup sendiri.
Ini bukan sekadar gerakan. Ini adalah delegitimasi diam terhadap kekuasaan yang dianggap tak lagi mewakili.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, rakyat Amerika menemukan satu bahasa universal. Protes.
Bahkan di luar negeri, di Paris, London, dan Lisbon, warga Amerika ikut turun ke jalan. Ini bukan lagi gerakan lokal.
Ini adalah resonansi global dari keresahan nasional.
-000-
Mengapa Demonstrasi Terjadi Serentak di Seluruh Negeri
1. Krisis biaya hidup sebagai pengalaman kolektif nasional
Kenaikan harga bukan lagi isu statistik, tetapi pengalaman sehari-hari yang dirasakan serentak oleh jutaan rumah tangga. Dari bahan bakar hingga makanan, tekanan ekonomi hadir di meja makan setiap keluarga.
Ketika penderitaan menjadi seragam, respon pun menjadi seragam. Tidak perlu komando pusat untuk memobilisasi massa, karena realitas hidup sudah menjadi panggilan aksi.
Dalam kondisi ini, protes bukanlah gerakan terorganisir, melainkan refleks sosial. Ia muncul dari kebutuhan yang sama, dari rasa sesak yang sama, dan dari kesadaran bahwa masalah ini bukan milik satu kota, tetapi milik seluruh bangsa.
-000-
2. Media sosial sebagai akselerator kesadaran kolektif
Jika di masa lalu kemarahan membutuhkan waktu untuk menyebar, hari ini ia bergerak dalam hitungan jam. Media sosial menghapus jarak geografis dan menyatukan pengalaman individu menjadi kesadaran bersama.
Video seorang ibu yang kesulitan membeli susu di Los Angeles bisa menjadi cermin bagi keluarga di Ohio atau Texas. Algoritma memperkuat emosi, mempercepat resonansi, dan menciptakan perasaan bahwa semua orang mengalami hal yang sama pada saat yang sama.
Inilah yang membuat demonstrasi tidak hanya meluas, tetapi juga terjadi secara simultan, tanpa pusat komando, namun dengan arah yang sama.
-000-
3. Menurunnya legitimasi kepemimpinan secara bersamaan
Protes besar tidak hanya membutuhkan penderitaan, tetapi juga kehilangan kepercayaan. Ketika publik merasa bahwa pemerintah tidak mampu atau tidak mau merespons krisis, kemarahan berubah menjadi aksi.
Dalam konteks ini, kepemimpinan Donald Trump dipersepsikan tidak selaras dengan realitas rakyat. Penurunan tingkat persetujuan publik memperkuat persepsi tersebut.
Ketika legitimasi melemah secara nasional, maka respon masyarakat juga terjadi secara nasional. Protes menjadi cara rakyat mengisi kekosongan kepercayaan yang tidak lagi mampu dipenuhi oleh institusi formal.
-000-
Perang dengan Iran menjadi bayangan besar di balik semua ini.
Konflik yang melibatkan Amerika dan Iran bukan hanya soal geopolitik. Ia menjadi mesin yang mendorong kenaikan harga secara brutal.
Ketika ketegangan meningkat di Timur Tengah, pasar energi bereaksi. Harga minyak melonjak. Jalur distribusi terganggu. Risiko meningkat.
Dan semua itu berujung pada satu hal. Inflasi.
Harga bensin naik. Harga pangan ikut terdorong. Biaya transportasi meningkat. Tagihan listrik membengkak.
Bagi rakyat biasa, perang itu tidak terlihat. Tidak terdengar. Tapi dampaknya terasa setiap hari.
Seorang ibu di Los Angeles berkata, “Saya tidak peduli siapa menang perang itu. Saya hanya tahu saya tidak bisa lagi membeli susu dengan harga lama.”
Di situlah kemarahan menemukan bentuknya. Perang yang jauh menjadi penderitaan yang dekat.
Trump mungkin melihat konflik sebagai strategi geopolitik. Namun rakyat melihatnya sebagai sumber penderitaan ekonomi.
Dan ketika dapur mulai terasa sempit, ideologi kehilangan makna. Yang tersisa hanya satu. Bertahan hidup.
Dalam minggu-minggu setelah konflik Iran memanas, angka mulai bicara.
Sebuah survei Reuters/Ipsos menunjukkan persetujuan publik atas kinerja Trump turun ke sekitar 36 persen, terendah sejak ia kembali ke Gedung Putih.
Hanya seperempat responden yang puas terhadap cara ia menangani biaya hidup.
Dalam jajak pendapat Economist/YouGov, hanya sekitar 36 persen warga Amerika yang menyetujui cara ia menangani konflik Iran, sementara 55 persen menolak.
Mayoritas yakin perang ini menaikkan harga bensin, bukan menurunkannya.
Dari Gedung Putih, legitimasi turun ke 36 persen. Di jalanan, kemarahan naik tanpa batas.
-000-
Dua buku penting memberi kedalaman intelektual pada fenomena ini.
Pertama, The Price of Inequality karya Joseph E. Stiglitz (2012).
Buku ini menjelaskan bagaimana ketimpangan ekonomi menciptakan tekanan sosial yang perlahan menumpuk hingga akhirnya meledak.
Stiglitz menunjukkan bahwa ketika kebijakan ekonomi gagal melindungi mayoritas, ketidakpuasan akan berubah menjadi kemarahan kolektif.
Dalam konteks protes ini, kenaikan harga bukan sekadar angka statistik. Ia adalah simbol dari sistem yang dianggap tidak adil.
Rakyat merasa mereka menanggung beban yang tidak mereka ciptakan. Ketika harga naik akibat perang dan kebijakan global, sementara pendapatan stagnan, frustrasi menjadi tak terhindarkan.
Protes bukan kejadian spontan. Ia adalah akumulasi panjang dari ketimpangan yang dibiarkan tumbuh.
Kedua, Why Nations Fail karya Daron Acemoglu dan James A. Robinson (2012).
Buku ini menyoroti pentingnya institusi yang inklusif dalam menjaga stabilitas negara.
Ketika kebijakan negara tidak lagi mencerminkan kepentingan rakyat luas, legitimasi akan terkikis.
Dalam kasus ini, perang dan kenaikan harga memperlihatkan bagaimana keputusan besar dapat menghantam kehidupan kecil sehari hari.
Jika negara gagal meredam dampak tersebut, kepercayaan publik runtuh.
Protes menjadi tanda bahwa institusi sedang diuji.
Stabilitas bukan hanya soal kekuatan. Ia adalah soal keadilan yang dirasakan.
-000-
Apakah perang Iran akan diakhiri oleh Trump. Sejarah memberi satu pelajaran sunyi.
Banyak perang tidak berakhir karena kemenangan militer. Tapi karena tekanan domestik.
Dan dalam konteks ini, tekanan itu memiliki satu wajah yang sangat konkret. Harga.
Harga minyak naik karena gangguan pasokan dan ketegangan geopolitik. Kenaikan ini merembet ke seluruh sektor.
Inflasi meningkat. Daya beli turun. Kemarahan tumbuh.
Ini bukan teori. Ini adalah realitas sehari hari.
Jika protes terus membesar, tekanan politik akan meningkat. Dukungan publik akan melemah. Keputusan strategis akan berubah arah.
Trump mungkin tidak dikalahkan oleh Iran.
Tapi ia bisa dipaksa mundur oleh rakyatnya sendiri.
Bukan oleh bom.
Tapi oleh harga.
Dalam demokrasi, legitimasi adalah fondasi. Ketika fondasi itu retak karena tekanan ekonomi, kekuasaan menjadi rapuh.
Dan di situlah jalanan menjadi penentu sejarah.
-000-
Pada akhirnya, ini bukan hanya cerita tentang Amerika. Ini adalah cerita tentang manusia.
Tentang batas kesabaran. Tentang harga yang terlalu tinggi. Tentang suara yang akhirnya tidak bisa dibungkam.
Di jalanan Los Angeles, saya melihat sesuatu yang lebih dari sekadar protes. Saya melihat harapan yang tersisa, berusaha bertahan di tengah tekanan.
Sejarah berulang kali membuktikan, setinggi apa pun menara kekuasaan dibangun, ia akan runtuh jika fondasi ekonomi rakyatnya keropos.
Pemimpin mungkin memenangkan perang di peta. Namun ia akan kalah di meja makan warga yang kosong.
Dan mungkin, di sanalah masa depan sedang ditulis. Bukan oleh para pemimpin. Tapi oleh mereka yang berdiri di jalan, membawa suara yang tak lagi bisa diabaikan.***
Los Angeles, 30 Maret 2026
______
REFERENSI
1. The Price of Inequality, Joseph E. Stiglitz, W.W. Norton & Company, 2012
2. Why Nations Fail, Daron Acemoglu & James A. Robinson, Crown Business, 2012
