Oleh : Maskut Candranegara
Hobi manusia memang beragam, dan sering kali menjadi warna tersendiri dalam perjalanan hidup seseorang.
Ada yang begitu mencintai hobinya hingga rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan materi. Tak jarang, seseorang bisa lupa makan hanya karena terlalu asyik dengan aktivitas yang ia sukai. Bahkan, demi menyalurkan hobi, isi dompet pun bisa ikut “terkuras” tanpa terasa.
Sebagian orang menyalurkan hobinya melalui olahraga, seperti sepakbola, bulutangkis, atau lari maraton. Ada pula yang gemar memancing, menikmati ketenangan alam sambil menunggu kail disambar ikan. Di sisi lain, hobi touring dengan sepeda motor juga menjadi pilihan banyak orang yang mencintai petualangan dan kebebasan di jalan raya.
Namun, setiap orang tentu punya pilihan hobi yang berbeda. Bagi saya, ada tiga hobi utama yang mewarnai perjalanan hidup: berenang, menulis, dan berorganisasi. Ketiganya bukan sekadar kegiatan pengisi waktu luang, tetapi telah menjadi bagian penting dalam membentuk karakter dan arah hidup.
Hobi berorganisasi menjadi yang paling menonjol sejak masa mahasiswa. Dunia organisasi mulai saya tekuni ketika aktif di organisasi mahasiswa ekstra kampus, yakni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU). Dari sanalah saya belajar tentang kepemimpinan, manajemen, dan pentingnya jaringan sosial.
Perjalanan organisasi di masa mahasiswa tentu tidak selalu mulus. Saya pernah dipercaya menjadi Ketua Rayon Fakultas Syariah PMII Raden Intan. Namun, ketika mencoba melangkah lebih jauh untuk menjadi Ketua Komisariat, langkah tersebut harus terhenti karena belum berhasil meraih kepercayaan penuh.
Meski demikian, pengalaman tersebut justru menjadi bekal berharga untuk melangkah lebih jauh. Ketika memasuki dunia organisasi kepemudaan, saya bergabung dengan Gerakan Pemuda Ansor. Di sinilah perjalanan organisasi mulai menunjukkan arah yang lebih luas dan penuh tantangan.
Di GP Ansor, saya mendapat kepercayaan sebagai Sekretaris PW GP Ansor Provinsi Lampung selama dua periode. Tak berhenti di situ, saya juga dipercaya menjadi Wakil Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat GP Ansor selama dua periode hingga tahun 2010, mendampingi Ketua Umum Saifullah Yusuf (Gus Ipul).
Pengalaman tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan organisasi saya. Hobi berorganisasi tidak lagi sekadar aktivitas, tetapi telah menjadi “candu” yang membentuk pola pikir, cara bertindak, dan cara melihat kehidupan. Dari organisasi, saya belajar bahwa pengabdian adalah nilai utama.
Setelah tidak lagi aktif di Pimpinan Pusat GP Ansor, kesempatan baru kembali datang. Saya dipercaya sebagai Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) PWNU DKI Jakarta pada masa kepemimpinan Djan Farid. Ini menjadi pengalaman baru yang memperluas wawasan di bidang pemberdayaan masyarakat.
Selanjutnya, saya juga mendapat amanah sebagai Wakil Sekretaris PWNU Provinsi Lampung periode 2018–2023. Peran ini semakin memperkuat keterlibatan dalam organisasi keagamaan dan sosial, sekaligus memperluas jaringan hingga ke berbagai lapisan masyarakat.
Momentum besar terjadi saat Muktamar NU ke-34 digelar di Lampung pada akhir tahun 2021. Setelah perhelatan tersebut, saya dipercaya menjadi Wakil Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI PBNU) untuk periode 2022–2027.
Membuka Peluang
Aktif di organisasi kemasyarakatan ternyata membuka banyak peluang lain, termasuk di dunia politik. Pada masa awal reformasi tahun 1998, ketika banyak partai baru bermunculan, saya sempat terlibat di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebagai Wakil Bendahara DPW PKB Lampung dan kemudian dipercaya di tingkat pusat sebagai Ketua Departemen Penghubung Ulama dan Pesantren DPP PKB.
Namun, perjalanan politik tidak selalu berjalan lurus. Pada tahun 2005, saya memutuskan untuk tidak lagi aktif di partai karena alasan tertentu. Meski begitu, pada tahun 2007 saya kembali mendapat kepercayaan untuk bergabung dengan Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi), sayap keislaman PDI Perjuangan, dan menjabat sebagai Ketua Bidang Remaja dan Pemuda.
Perjalanan itu berlanjut hingga pada Kongres PDI Perjuangan tahun 2010 di Bali, saya dipercaya menjadi fungsionaris DPP PDI Perjuangan sebagai anggota Departemen Kebudayaan. Di sisi lain, sejak 2016 saya juga aktif di Majelis Ulama Indonesia (MUI), baik di tingkat Provinsi Lampung maupun pusat, hingga kini menjadi anggota Komisi Pesantren MUI Pusat periode 2025–2030.
Selain organisasi, hobi menulis juga menjadi bagian penting dalam hidup saya. Sejak mahasiswa, saya sudah aktif di dunia jurnalistik, mulai dari media cetak seperti tabloid, majalah, dan koran, hingga merambah ke media radio dan online. Menulis bukan hanya sarana ekspresi, tetapi juga media untuk menyampaikan gagasan dan pengalaman.
Hobi menulis ini kemudian berkembang menjadi aktivitas menulis buku. Beberapa buku yang pernah ditulis, baik secara individu maupun bersama tim, antara lain “Taufik Kiemas di Mata Tokoh Islam” (2007), “Mereka Bicara Mega” (2009), “Kiat Sukses Memperoleh Adipura” (2011), hingga “Mengenang Kampung Halaman” (2024).
Setiap buku menjadi jejak pemikiran dan kontribusi kecil dalam dunia literasi.
Di luar organisasi dan dunia tulis-menulis, saya juga pernah mengabdi di berbagai lembaga pemerintahan. Di antaranya sebagai Tenaga Ahli Bupati Tulang Bawang Barat, Tenaga Ahli Ketua DPRD Provinsi Lampung, Manajer Unila Media, serta sebagai Guru Agama Islam di SMA YP Unila Bandarlampung hingga saat ini.
Pada akhirnya, hobi bukan sekadar kesenangan. Ia bisa menjadi jalan hidup, bahkan ladang pengabdian. Dari berenang, menulis, hingga berorganisasi, semuanya memberikan pelajaran berharga bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang dijalani dengan passion, dedikasi, dan keikhlasan.
*Penulis Pengurus PBNU.

