-->
Cari Berita

Breaking News

Dekat Biasa, Jauh Jadi Istimewa: Psikologi Penilaian dalam Relasi Keluarga

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Sabtu, 11 April 2026

 


Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag, MA.

 

Dalam relasi keluarga, sering muncul fenomena yang tampak sederhana tetapi berdampak psikologis cukup dalam, yaitu anggota keluarga yang dekat justru kerap dianggap biasa, sedangkan yang jauh lebih dipandang istimewa.


Anak yang tinggal dekat, yang sehari-hari mengurus orangtua di usia senja, atau yang paling sering hadir, justru lebih banyak menerima tumpuhan kesalahan.


Sebaliknya, anak yang tinggal jauh, yang tidak terlibat langsung dalam pengasuhan, sering kali dinilai lebih berbakti, bahkan dalam beberapa situasi menjadi pihak yang lebih banyak memberi penilaian dan kritik terhadap saudaranya yang merawat.


Fenomena ini tidak hanya persoalan jarak, tetapi juga menyangkut persepsi, beban psikologis, dan dinamika relasi yang kompleks dalam keluarga.

 

Ketika Kedekatan Terlihat “Biasa”


Dalam psikologi, terdapat kecenderungan proses “habituation”, dimana sesuatu yang sering hadir akan terasa biasa. Anak yang setiap hari merawat orangtua, menemani, membantu kebutuhan dasar, hingga menghadapi perubahan emosi dan kondisi fisik orangtua, perlahan dianggap menjalankan “hal yang memang sudah seharusnya”. Akibatnya, pengorbanan yang besar justru kehilangan makna di mata orang lain.


Sebaliknya, anak yang jauh hadir dalam frekuensi terbatas, maka kehadirannya menjadi peristiwa istimewa, bukan sebuah rutinitas.


Dalam kajian psikologi, kondisi ini dikenal sebagai konsep “unequal caregiving burden” yaitu ketimpangan beban pengasuhan orangtua yang tidak seimbang antar anggota keluarga (Arlie Hochschild). Anak yang tinggal dekat orangtua akan memikul beban pengasuhan secara fisik dan emosional. Ia menghadapi beberapa hal, yaitu pengasuhan harian terkait kesehatan orangtua, perubahan sikap dan perilaku orangtua akibat penuaan, manajemen waktu dan tanggung jawab pribadi dan pengasuhan orangtua, serta kelelahan batin yang sering tidak terlihat (caregiver burnout).


Pada sisi lain, anak yang jauh tidak mengalami kondisi tersebut secara langsung, yang kemudian bisa melahirkan cara pandang dan sikap yang berbeda, baik orangtua kepada anaknya, maupun anak kepada orangtuanya, terutama pada aspek perasaan kasih sayang. Jika tidak bijak dalam menyikapinya, bisa menjadi sumber keretakan anggota keluarga.


Bias psikologis dalam keluarga di mana anak yang merawat justru menjadi “tumpuan kesalahan” dapat dijelaskan melalui konsep psikologi sosial oleh Lee Ross “fundamental attribution error”. Orang cenderung menilai perilaku orang lain sebagai cerminan karakter, tanpa mempertimbangkan tekanan situasi. 


Contohnya, ketika anak terlihat lelah saat mengasuh orangtua dianggap kurang sabar, ketika ada kekurangan dalam perawatan maka dianggap kurang totalitas dan kurang ikhlas. Padahal, realitas suasana lingkungan fisik dan psikis yang dihadapi sangatlah kompleks dan belum tentu diketahui saudranya yang lain. Di sisi lain, anak yang jauh sering mengalami “distance bias”, karena tidak mengalami langsung, maka ia melihat situasi dari sudut pandang ideal dan kelaziman.


Dari sinilah kritikan mudah muncul, bukan selalu karena niatan jelek, tetapi karena keterbatasan pemahaman. Ironisnya, jika posisi pengasuhan orangtua ditukar, belum tentu hasilnya akan lebih baik.

 

Dampak Psikologis Anak yang Mengasuh 


Anak yang merawat orangtua dalam jangka panjang, rentan mengalami kondisi kelelahan emosional (burnout), perasaan tidak dihargai, capek fisik dan luka batin karena sering disalahkan. Konflik internal antara kewajiban dan kebutuhan diri, pasangan dan anak-anak. Jika tidak dikelola, kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan mental dan kualitas relasi dan keharmonisan dalam keluarga.


Agar relasi tetap sehat, diperlukan sikap yang lebih adil, empatik dan bijak dari semua pihak. Bagi anak dan pasangannya yang mengasuh hendaknya menyadari bahwa kelelahan adalah hal manusiawi, berani meminta dukungan, menjaga keseimbangan diri agar tidak kehilangan kesehatan mental, meneguhkankan niat bahwa ini adalah bentuk bakti, bukan sekadar beban dan hal ini menjadi jalan menuju Ridha Allah SWT serta keberkahan hidup.


Bagi anak yang jauh, hendaknya menahan diri dari penilaian dan kritik sepihak, mendukung secara nyata (emosional, finansial, atau kehadiran), mengapresiasi bahwa peran merawat orangtua bukan hal ringan, berupaya sering terlibat langsung dalam proses pengasuhan untuk memahami realitas sebenarnya. 


Bagi anggota keluarga lain untuk menghindari membandingkan peran antar anak, bijak dalam berstatement, memberikan apresiasi kepada yang merawat, serta membangun komunikasi terbuka, adil dan mengutamakan kemaslahatan keluarga.

 

Dalam Perspektif Islam


Dalam Islam, merawat orangtua di usia senja adalah amal yang sangat mulia dan bernilai tinggi. Allah SWT berfirman: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang…” (QS. Al-Isra: 24). Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Celakalah seseorang yang mendapati kedua orangtuanya di usia tua, namun tidak menjadikannya sebagai jalan masuk surga.”(HR. Muslim). 


Ayat dan hadits ini menunjukkan bahwa kedekatan dengan orangtua di masa tua bukan sekadar keadaan, tetapi kesempatan istimewa. Anak yang diberi amanah untuk mengasuh orangtuanya maka sejatinya ia sedang didekatkan pada pintu surga, diberi ladang pahala yang luas, dan dilatih kesabaran, keikhlasan, dan cinta sejati. 


Pada giliran nantinya, para anaknya akan memberikan pengasuhan yang setara ketika masa tuanya dan membutuhkan pengasuhan dari anaknya.


Memang, merawat orangtua tidak selalu menghadirkan kenyamanan. Ada lelah, ada air mata, bahkan terkadang ada rasa tidak dihargai. Namun di balik itu, ada kebahagiaan yang tidak semua anak rasakan, yaitu tingkat kedekatan emosional yang mendalam dengan orangtua, kesempatan berbakti secara langsung, doa-doa dan harapan tulus orangtua yang lahir dari interaksi harian, mendapatkan kenangan yang utuh, yang kelak menjadi penguat batin dan sprititual.


Ini adalah bentuk kebahagiaan yang sunyi, tetapi sangat bermakna serta belum tentu dirasakan oleh setiap individu dalam bentuk kebaktian kepada orangtuanya.


Keluarga yang sehat bukan hanya yang saling terhubung, tetapi juga yang mampu melihat dengan adil. Yang dekat tidak boleh dianggap biasa. Yang jauh tidak boleh hanya menjadi penilai dan ahli kritik

Karena pada akhirnya, setiap peran anak adalah ujian yaitu yang dekat diuji dengan kesabaran sedangkan yang jauh diuji dengan simpati dan empati. Semuanya diuji dengan kekuatan kelapangan dada dan ikhtiar maksimal dalam mereduksi segala hal yang bisa menggangu kehamonisan keluarga.


 Akhirnya, fenomena “dekat jadi biasa, jauh jadi istimewa” mengajarkan, bahwa persepsi manusia sering kali tidak seimbang. Karena itu, yang dibutuhkan dalam keluarga bukan sekadar kehadiran, tetapi juga penghargaan dan pemahaman. 


Jangan sampai yang paling banyak berkorban justru paling sedikit dihargai. Dan bagi mereka yang sedang merawat orangtua, harus meneguhkan bahwa tugas pengasuhan orangtua adalah tugas yang sangat mulia. Boleh jadi lelahmu tidak selalu dipahami manusia, tetapi tidak pernah luput dari penilaian Allah SWT dan insyaallah menjadi media ampuh dalam mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah.

 

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا جَمِيعًا مَحَلَّ رِضَاكَ وَرِضَا وَالِدَيْنَا، وَارْزُقْنَا الْعَدْلَ وَالْمَحَبَّةَ وَالْبِرَّ فِي أُسَرِنَا.


Ya Allah, jadikanlah kami semua tempat turunnya ridha-Mu dan ridha kedua orangtua kami, serta karuniakanlah kepada keluarga kami keadilan, kasih sayang, dan kebaktian.

Amien ya Allah ya mujibassailin. 


*Penulis: Dosen UIN Jurai Siwo Lampung.

LIPSUS