INILAMPUNGCOM --- Mulutmu adalah harimaumu. Begitu yang diajarkan nenek moyang. Kini, akibat perkataan menjurus pada ancaman atas keselamatan jiwa seseorang, Kepala Dinas PSDA Provinsi Lampung, Febrizal Levi Sukmana, bakal berhadapan dengan hukum.
Wartawan yang diancamnya, Wildan Hanafi, Kamis (30/4/2026) ini bakal melaporkan tebaran ancaman yang dilontarkan dari mulut Levi -panggilan beken Kadis PSDA Lampung- ke Polresta Bandarlampung.
"Besok pagi inshaAllah saya akan melaporkan ancaman terhadap keselamatan saya ke Polresta. Mohon doa dan pengawalannya," kata Wildan Hanafi melalui pesan WhatsApp yang dikirimkan kepada inilampung.com, Rabu (29/4/2026) malam.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, persoalan ini bermula ketika acara FGD Penanganan Banjir di Bandarlampung tengah berlangsung di Aula Rektorat IBI Darmajaya, Labuhan Ratu, Bandarlampung, Selasa (28/4/2026) pagi. Karena merasa terhalang oleh keberadaan wartawan, Levi melontarkan "teguran" kepada wartawan bersangkutan.
"Teguran" Levi yang cukup keras, membuat wartawan itu pun merasa hak peliputannya dihalang-halangi. Persoalan ini naik ke permukaan.
Dalam perkembangannya, begitu dikutip dari analisis.co.id, pernyataan Kepala Dinas PSDA Provinsi Lampung, Febrizal Levi Sukmana, saat dikonfirmasi awak media, justru memicu polemik baru.
Dalam percakapan melalui sambungan telepon dengan jurnalis, Levi menyampaikan keberatannya terkait posisi wartawan yang disebutnya menghalangi pandangan saat forum berlangsung.
“Gua itu duduk di situ, gua ini kan tamu. Tapi kan dihalangi pandangan, di depan kan wartawan semua. Gua mau lihat itu,” ujarnya saat dikonfirmasi awak media melalui telepon Whatsapp Selasa, (28/4/2026) kemarin.
Levi menjelaskan bahwa dirinya ingin melihat jalannya forum, termasuk timer yang digunakan untuk mengatur durasi pembicara.
“Pembicara itu Bunda Eva, Roy, itu kan mau lihat timer. Tapi nggak kelihatan karena dihalangi,” lanjutnya.
Menebar Ancaman
Namun, pernyataan Levi tidak berhenti pada penjelasan tersebut. Dalam percakapan yang sama, mantan Kadis ESDM Provinsi Lampung itu juga menyebut nama salah satu jurnalis, Wildan Hanafi, dengan nada yang dinilai keras.
“Bukan Wildan saja, tapi kampang Wildan itu… gua gebuk bener Wildan, gua suruh cari Wildan, wartawan mana dia ha Kandidat” ucap Levi dengan nada tinggi.
Tidak hanya itu. Levi -mantan Pj Bupati Mesuji- juga mengaku akan mengerahkan orang untuk mencari yang bersangkutan (Wildan, red).
“Gua cari, nanti gua suruh Septa, gua gerakin orang-orang gua… malam ini gua cari dia, biar dia tahu,” lanjutnya.
Tetapi, Levi juga membantah bahwa dirinya yang secara langsung mengusir wartawan dari posisi tersebut.
“Yang ngusir juga bukan gua. Gua duduk di situ aja. Tapi pandangan gua tertutup,” jelasnya.
Meski demikian, pernyataan lanjutan Levi kembali menuai sorotan karena dinilai bernada ancaman.
“Suruh minta maaf sama gua, suruh buat klarifikasi. Kalau enggak, awas dia,” tegas Levi bernada mengancam.
Pernyataan tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan jurnalis, terutama terkait keamanan dan kebebasan dalam menjalankan tugas peliputan.
Terkait persoalan ini, seorang anggota DPRD Provinsi Lampung meminta Gubernur Mirza untuk mengambil tindakan berupa pembinaan kepada Kadis PSDA Febrizal Levi Sukmana.
"Gubernur jangan cuma diam. Segera ambil tindakan. Sangat tidak etis seorang pejabat pimpinan tinggi pratama melontarkan ancaman seperti itu. Ini sudah masuk ranah pidana, mengancam keselamatan jiwa seseorang," kata anggota DPRD Lampung yang keberatan dituliskan namanya itu.
Menurut dia, terlepas dari profesi, sudah sewajarnya bila yang diancam oleh Kadis PSDA melaporkan kasus tersebut kepada APH.
Yang pasti, hingga berita ini ditayangkan, belum didapat klarifikasi lanjutan dari pihak terkait mengenai maksud dan konteks pernyataan tersebut.
Peristiwa ini menjadi perhatian publik, mengingat pentingnya menjaga hubungan profesional antara pejabat publik dan insan pers dalam menjamin keterbukaan informasi kepada masyarakat. (zal/inilampung)

