![]() |
| Gedung Pengadaan Barang dan Jasa Provinsi Lampung (dok/inilampung) |
INILAMPUNGCOM - Kebijakan pemerintah memberlakukan work from home (WFH) setiap hari Jum'at, salah satunya adalah untuk efisiensi atau hemat energi.
Tapi faktanya, pada Jum'at (3/4/2026) siang yang merupakan hari libur nasional, bertepatan Hari Wafat Yesus Kristus, banyak kantor di lingkungan Pemprov Lampung yang mengaktifkan -menghidupkan- lampu penerang.
Menurut penelusuran inilampung.com, sekitar pukul 14.30 WIB, beberapa kantor mengaktifkan lampu penerang. Bukan hanya pada bagian luar, tetapi juga di ruang dalam.
Misalnya di Gedung Arsip Provinsi Lampung, yang hanya berjarak sekitar 750 meter dari ruang kerja Gubernur Rahmat Mirzani Djausal.
Diketemukan lampu penerang pada bagian terasnya, menyala. Pun tampak ada lampu penerangan lain yang aktif pada bagian dalam.
Kantor Korpri yang bersebelahan dengan Gedung Arsip, pun terang benderang. Setidaknya ada empat bohlam yang menyala di tengah terik matahari Jum'at (3/4/2026) siang.
![]() |
| Gedung Arsip Provinsi Lampung (dok/inilampung) |
Sedangkan di Kantor Biro Pengadaan Barang dan Jasa Setdaprov Lampung, selain lampu teras dan parkiran, ada beberapa penerangan lainnya yang aktif pada bagian dalam.
Yang terparah terjadi di Kantor Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi Lampung. Kantor pemerintah yang berada di jalan protokol ini -Jln. Jend Sudirman, Enggal, Bandarlampung- bukan hanya lampu penerang di setiap sudut kantor yang menyala di siang bolong.
Bahkan neon-boks yang menerangi tulisan Dinas Parekraf pun menyala terang benderang.
Seorang pejabat Pemprov Lampung yang dimintai pendapatnya mengenai tetap aktifnya penerangan kantor pada siang hari dan di hari libur menyatakan: "Tulis aja hasil penelusurannya, biar Pak Gubernur Mirza tahu."
Kenapa Gubernur Mirza perlu tahu hal semacam ini? Menurut pejabat yang keberatan ditulis namanya ini, Gubernur Mirza perlu tahu agar dia mau sesekali ngecek sendiri -tanpa protokoler dan penjadwalan- apa yang terjadi di kantor OPD terkait program efisiensi.
"Kalau pak Gubernur diem-diem ngecek sendiri, baru dia tahu kalau program efisiensi energi itu hanya gembar-gembor doang, realisasinya sama sekali belum maksimal," tutur dia. (zal/inilampung)



