Oleh: Junaidi Jamsari
Bencana Itu Kita yang Undang
Bencana banjir, tanah longsor, jembatan putus, sampah menumpuk, tanah tidak subur, anak batuk sebulan tidak sembuh. Itu bukan azab. Itu tamu yang kita undang sendiri. Karena rumah kita ya rumah bumi. Kalau ruang tamu bumi kita kotorin, jangan salahkan jika banjir datang bertamu.
Kebiasaan Kecil, Kuburan Massal
Kita pikir menjaga bumi itu tugasnya Menteri LHK sama aktivis. Padahal, yang "membunuh" bumi itu kita. Sedotan plastik satu, AC menyala padahal keluar rumah, air wudhu mengucur kayak air terjun.
Satu orang membuang puntung rokok ke selokan kelihatan sepele. Tapi bila 270 juta orang yang membuang, tentu bukan hal sepele. Jadlah banjir bandang. Itu matematika: dosa kecil berjamaah = bencana besar.
Nggak Kehabisan Air, Kehabisan Akal
Sungai yang dulunya bening. Sekarang coklat. Kenapa? Hutan hulu dibabat untuk dibuat kebun, resapan hilang, air hujan langsung lari ke kampung membawa lumpur.
Musim kemarau, sumur kering. Kita salahin kemarau. Padahal, yang salah kita. Menebang pohon tapi tidak menanam gantinya. Bumi itu bank. Kita menarik terus tidak pernah nabung. Ya bangkrut.
Data KLHK 2025: Deforestasi Indonesia 110 ribu hektare setahun. Setara 200 ribu lapangan bola hilang. Fungsi hutan sebagai spons raksasa hilang. Makanya jangan kaget kalau hujan 2 jam, terjadi longsor. Jembatan putus. Itu bukan takdir. Itu rumus: Tidak ada akar, tidak ada tanah. Tidak ada tanah, tidak ada kampung.
Asap knalpot, asap pabrik, asap bakar sampah. ISPA naik, anak-anak batuk sebulan tidak sembuh-sembuh. Kita beli tabung oksigen, tapi menebang pohon penghasil oksigen. Logika kita yang sesak, bukan cuma napas.
Menyikapi Hari Bumi Gimana?
Jangan cuma upacara. Jangan hanya pasang baliho: “Selamat Hari Bumi” tapi besoknya tetap membuang oli bekas ke sungai. Perbuatan itu yang konsisten, bukan yang seremonial
Menebang tidak menanam, selokan menjadi tong sampah.
Cuma satu plastik kok membawa botol minum ke masjid.
Wudhu satu ember, sikat gigi air ngucur.
Motor ke warung jarak 200 m. Gowes ke masjid kalau di bawah satu km. Sehat badan, sehat bumi.
Kalau alarm kebakaran bunyi, kita tidak selfie. Kita siram api. Bumi sudah menjerit-jerit: banjir, longsor, panas tidak karuan. Itu alarmnya. Tobatnya, ubah kebiasaan kecil, mulai hari ini, mulai dari rumah kita.
"Bangga jika anak-anak desa punya taman untuk belajar mencintai alam."
Nabi bersabda: "Jika kiamat terjadi, sedang di tangan kalian ada bibit kurma, tanamlah."
Kata Gus Dur: “Tuhan tidak perlu dibela. Yang perlu dibela itu yang lemah.”
Hari ini yang paling lemah itu bumi. Dan kalau bumi mati, kita ikut mati.
Menjaga bumi bukan pilihan. Itu syarat supaya anak cucu kita masih bisa membaca dan menulis. Wallahu a'lam bish-shawab.
*Penulis tinggal di Lampung Barat.


