Oleh: Junaidi Jamsari
“Berpulangnya Sang Pejuang Necis dan Wangi”
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. “Satu bintang pergerakan pulang.”
Turut berduka cita sedalam-dalamnya sahabat Munzir. Kehilangan sahabat seperjuangan sejak LKD PMII Cabang Lampung tahun 1985, pasti berat.
Kabar itu datang Senin (20/4/2026) pagi ini. Dari WhatsApp. Menghentak. Kyai Haji Drs. Munzir Bin Akhmad Syukri telah berpulang.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. A’wan PWNU Provinsi Lampung 2023 - 2028.
Saya terdiam lama. Bayangan tahun 1985 di arena LKD PMII itu, muncul lagi. Saya buka berkas, dalam piagam penghargaan berbunyi:
"Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa lslam Indonesia (PMI) Lampung memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Nama : Munzir, Fakultas FKIP Universitas Lampung, yang telah ikut serta dalam penyelenggaraan kegatan Latihan Keder Dasar (LKD, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Lampung Bertempat di Korem 043 Garuda Hitam, Kedaton, dari tanggal 12 Januari 1985 sampai dengan tanggal 16 Januari 1985 dengan hasil baik. Dikeluarkan di Tanjungkarang, 14 April 1985.:
LKD PMII saat kita masih mahasiswa kurus, rambut gondrong, idealisme setinggi langit, kantong celana bagian belakang tebal dan dompet setipis tisu. Di tengah riuh sahabat-sahabat yang berdebat panas, ada satu sosok yang selalu tenang, dengan senyum khasnya – Munzir, yang belakangan dikenal dengan panggilan kyai Munzir.
Orangnya low profile. Tidak pernah teriak paling kencang di forum, tapi gagasannya selalu paling didengar. Tidak pernah rebutan mimbar, tapi kalau sudah bicara, semua diam. Beliau selalu bilang: "Gimana kamu orang ini".
Pakaiannya selalu necis. Kemeja rapi, peci beludru, dan minyak wangi yang khas. Ini minyak katanya dengan saya. Kata anak-anak, “Kalau kyai Munzir lewat, wangi pergerakannya kerasa.”
Tidak heran, di balik necis dan wanginya, beliau pekerja keras. Kami sama-sama begadang membikin spanduk memakai kertas warna-warni yang sering digunakan untuk membuat tulisan spanduk "Selamat Datang" atau tema kegiatan, biasanya disebut kertas asturo atau kertas manila warna, kertas stensil sampai tangan hitam.
Sama-sama keliling kampus mencari donatur untuk kegiatan PMII, ditolak sana-sini tapi tidak pernah mengeluh. Sama-sama dimarah senior itu sudah biasa.
Saya mendapatkan satu hal, berjuang tidak harus bising. Mengabdi tidak harus minta tepuk tangan. PMII besar bukan karena satu orang hebat, tapi karena ribuan orang bersih dan necis hatinya seperti beliau. Disiplin, Ikhlas, rapi kerjanya, wangi akhlaknya.
PMII 66 tahun. Munzir sudah 40 tahun lebih menanam. Kader-kader yang beliau cetak di Lampung mungkin sudah menjadi kiai, dosen, atau pejabat. Mereka semua membawa “wangi” perjuangan Munzir: santun, cerdas, dan tidak gila hormat.
Sahabat, selamat jalan. LKD kita di dunia sudah selesai. Semoga Allah panggil engkau untuk ikut MAPABA - LKD di surga. Duduk sebelahan dengan Muassis PMII, KH. Mahbub Djunaidi dan 12 muassis lainnya. Diskusinya pasti seru.
PR-mu kami teruskan. PMII akan tetap necis. Perjuangan akan tetap wangi. Sanadmu tidak akan putus.
“Satu bintang pergerakan telah berpulang.”
Semoga almarhum husnul khatimah, diampuni dosanya, diterima amalnya, keluarga yang ditinggal diberi ketabahan. Aamiin.
Lahul Fatihah.

