-->
Cari Berita

Breaking News

Jalan Provinsi di Gedung Surian – Air Hitam Putus: Warga Bikin Jembatan dari Bambu

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Jumat, 03 April 2026



INILAMPUNGCOM --- Dibalik riuh-rendahnya konsentrasi Pemprov Lampung melalui Dinas BMBK memulai pekerjaan 29 proyek infrastruktur "bergengsi", ternyata ada persoalan serius yang luput dari perhatian.
Apa itu? Yaitu terputusnya ruas jalan provinsi yang menghubungkan Kecamatan Gedung Surian - Air Hitam, Kabupaten Lampung Barat, sejak hari Rabu (1/4/2026) lalu.
Terputusnya jalur strategis akibat longsor itu,  baru mendapat perhatian serius dari Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus,

Jum'at (3/4/2026) kemarin. 
Parosil  meninjau langsung kondisi akses jalan penghubung Kecamatan Gedung Surian menuju Air Hitam yang terputus akibat longsor tersebut.

Diketahui, pada Rabu (1/4/2026) malam lalu sekitar pukul 21.00 WIB, hujan deras mengguyur wilayah Kabupaten Lampung Barat. Tingginya intensitas hujan menyebabkan badan jalan provinsi ambles dan longsor, sehingga tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.

Dalam peninjauannya ke ruas jalan provinsi penghubung Kecamatan Gedung Surian - Air Hitam yang putus itu, Bupati Parosil  didampingi Kepala Dinas BPBD, Kepala Dinas PUPR, Kepala Dinas Kominfo, Camat, Peratin serta tokoh masyarakat setempat.
Ruas jalan Gedung Surian – Air Hitam merupakan jalur provinsi yang memiliki peran penting sebagai penghubung antarwilayah dan menjadi akses utama masyarakat dalam menjalankan aktivitas. 

Seorang warga setempat, Siswanto, mengatakan bahwa kerusakan jalan yang terjadi sangat parah, hingga menyebabkan akses terputus total.

"Saat itu kerusakan jalan cukup parah, sehingga akses benar-benar tidak bisa dilalui. Kondisinya berdampak langsung pada aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat," ujar Siswanto, Jum'at (3/4/2026) siang.

Dikatakan, sebagai upaya darurat, masyarakat bersama Dinas terkait bergotong royong membuat jembatan sementara. 

"Sebagai upaya darurat saat ini, masyarakat bergotong royong membuat jembatan sementara dari bambu dan batang pohon kelapa agar mobilitas tetap berjalan, meskipun hanya dapat dilalui kendaraan roda dua," jelasnya. 

Siswanto berharap, pemerintah segera melakukan penanganan agar akses ini bisa kembali normal.

Tanpa Menunggu
Sementara itu, Bupati Parosil Mabsus menegaskan bahwa penanganan darurat harus segera dilakukan tanpa menunggu proses pembangunan jangka panjang.
"Kita tangani ini secara darurat terlebih dahulu. Kalau menunggu pembangunan permanen, tentu butuh waktu yang lama," ucap Parosil.

Ia  menginstruksikan agar kebutuhan material segera dikoordinasikan dengan pihak peratin setempat, mulai dari paku, bambu, balok kayu hingga kawat yang diperlukan.

"Segera negosiasikan kebutuhan materialnya. Bila perlu gunakan alat berat, sewa beberapa hari untuk percepatan penanganan. Ini harus segera dikoordinasikan," lanjutnya.

Menurut Parosil, akses jalan tersebut sangat vital, karena menjadi jalur utama penghubung antarwilayah dan penunjang aktivitas masyarakat, termasuk akses menuju layanan kesehatan dan pendidikan.

Oleh karena itu, ia meminta seluruh pihak terkait, seperti BPBD, PUPR, Camat, Peratin hingga masyarakat, untuk bersama-sama bergotong royong dalam menentukan langkah penanganan yang tepat.

Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk tetap berhati-hati saat melintasi jalur darurat, mengingat curah hujan masih tinggi dan berpotensi menimbulkan risiko kecelakaan. (zal/inilampung)

LIPSUS