![]() |
Lapangan Sepak Bola Babakan Tanara, Pangalengan, Kabupaten Bandung. Foto: Ist. |
INILAMPUNGCOM -- Kabut tipis masih menyelimuti Lapangan Sepak Bola Babakan Tanara, Pangalengan, Kabupaten Bandung, Minggu subuh (26/4/2026). Namun, lapangan yang berada di kawasan PTPN I (Persero) Regional 2 itu sudah ramai. Puluhan pedagang tampak menata berbagai dagangan untuk dijajakan.
Hari itu merupakan Hari Kalangan, sebutan bagi pasar temporer yang hanya digelar sepekan sekali dengan durasi sekitar enam jam.
Kalangan merupakan istilah lama yang tumbuh dari kebiasaan masyarakat di sekitar kawasan perkebunan sejak masa kolonial. Istilah itu berkaitan dengan tradisi transaksi masyarakat saat pekerja perkebunan menerima cengkolongan, yakni pinjaman upah tengah bulanan sebelum gaji dibayarkan penuh pada akhir bulan.
Tradisi pasar pekanan semacam ini juga dikenal dengan nama berbeda di sejumlah daerah, seperti pasar tiban, pasar kaget, hingga pasar mingguan. Di beberapa tempat, istilah Pasar Minggu, Pasar Kliwon, Pasar Legi, atau Pasar Rebo disebut berkembang dari pola hari pasaran serupa yang semakin intensif seiring pertumbuhan ekonomi kawasan.
Seiring berkembangnya akses ekonomi dan hadirnya toko modern maupun pasar harian, tradisi Kalangan mulai memudar di banyak wilayah. Namun, kondisi berbeda terlihat di kawasan Kebun Teh Malabar yang masih mempertahankan tradisi tersebut.
“Kalangan seperti yang masih ada di Malabar ini merupakan potret atau indikator ekonomi lokal di masa lalu. Namun sekarang, Kalangan telah bergeser menjadi semacam oasis bagi warga dan pendatang untuk menikmati nostalgia masa lalu. Unsur kuliner tradisional kini justru lebih dominan dibanding kebutuhan lainnya,” ujar Direktur Utama PTPN I (Persero) Teddy Yunirman Danas.
Menurut Teddy, keberadaan Kalangan menjadi bukti historis kuatnya peran perusahaan perkebunan negara dalam membangun ekonomi masyarakat sekitar. Pasar pekanan itu tumbuh secara alamiah mengikuti waktu para pekerja menerima upah.
“Fenomena hari pasaran yang bertepatan dengan hari gajian karyawan menunjukkan bahwa PTPN memiliki pengaruh besar terhadap ekonomi kawasan. Artinya, PTPN memiliki sejarah kuat dalam pertumbuhan ekonomi daerah. Ini harus menjadi catatan sejarah kita,” katanya.
Suasana nostalgik masih terasa di Kalangan Malabar. Para pedagang menjajakan aneka kebutuhan mulai dari sayuran segar, ikan, pakaian, perabot rumah tangga, hingga kuliner tradisional seperti bakso, nasi uduk, dan jajanan pasar. Pengunjung bukan hanya warga sekitar, tetapi juga datang dari luar daerah.
Kawasan milik PTPN I (Persero) Regional 2 itu kini menjadi pusat gravitasi ekonomi masyarakat sekitar. Deretan kendaraan tampak mengular di sepanjang jalan menuju lokasi, menandakan tingginya antusiasme warga. Banyak pengunjung yang semula hanya berolahraga pagi kemudian mampir berbelanja kebutuhan harian.
Pasar Kalangan dinilai bukan sekadar tempat transaksi, melainkan warisan hidup dari era K.A.R. Bosscha yang terus dirawat. Keberadaannya kini menjadi potret kemandirian ekonomi masyarakat di sekitar kawasan hutan dan perkebunan teh.
“PTPN I berkomitmen agar kemajuan perusahaan berjalan selaras dengan peningkatan taraf hidup warga. Pasar Kalangan adalah bukti nyata bagaimana aset perkebunan dapat dioptimalkan menjadi ruang ekonomi yang inklusif,” ujar Teddy.
Peran aktif perusahaan juga terlihat dari kebijakan merelokasi area pasar ke lapangan yang lebih luas dan representatif. Langkah itu dilakukan untuk menampung jumlah pedagang dan pembeli yang terus meningkat, sekaligus menjaga kenyamanan serta kelancaran aktivitas ekonomi lokal.
Dampaknya dirasakan langsung para pedagang. Asep, pedagang pakaian asal Banjaran, mengaku mampu meraih omzet Rp5 juta hingga Rp8 juta dalam satu hari berjualan.
Sementara itu, Kartini (54), warga setempat, mengaku dapat memperoleh pendapatan hingga Rp1 juta setiap pekan dari berjualan nasi uduk dan gorengan. Pendapatan tersebut digunakan untuk membantu biaya pendidikan anaknya.
Selain itu, PTPN I (Persero) juga melibatkan Karang Taruna dalam pengelolaan parkir, sehingga membuka sumber pendapatan tambahan bagi organisasi kepemudaan desa.
Melalui Pasar Kalangan Malabar, perusahaan menunjukkan bahwa pengelolaan lahan perkebunan dan pemberdayaan masyarakat dapat berjalan beriringan, menjaga warisan masa lalu sekaligus membangun fondasi ekonomi masa depan yang lebih kuat bagi Bumi Priangan. (mfn/rls)

