![]() |
| RA Kartini (ist/inilampung) |
Oleh: Junaidi Jamsari
Setiap 21 April, nama Raden Ajeng Kartini kembali dipanggil. Anak sekolah pakai kebaya, kantor lomba masak, medsos banjir ucapan. Semua baik. Tapi ada saja suara ganjil beredar: “Teladan Kartini adalah sabar, ikhlas, ridho jadi istri. Semoga Kartini muda tidak ribut soal poligami.”
Ini bukan soal fiqh poligami. Ini soal kejujuran membaca sejarah.
1. Kartini Menolak Poligami, Bukan Meneladankannya:
Mari buka sumber primer: surat-surat Kartini. 1 November 1899, Kartini tulis ke Rosa Abendanon: _“Hatiku hancur memikirkan akan dipoligami... Aku tidak mau menjadi nomor dua, tiga, atau empat.”_ 6 November 1899: “Poligami adalah sumber penderitaan perempuan Jawa.”
Kartini akhirnya menikah dengan Bupati Rembang 12 November 1903. Tapi 4 hari setelah menikah, dia menulis lagi: “Sudah nasib... tapi hatiku tetap menangis.”
Pernikahan itu taktik agar bisa buka sekolah, bukan cita-cita. 10 bulan kemudian Kartini wafat. Status Kartini sebagai istri ke-4 adalah kecelakaan sejarah, bukan teladan.
Jadi secara historis, Kartini adalah korban sistem poligami dan feodal yang dia lawan seumur hidup. Soal dalil poligami, itu wilayah fiqh yang punya ahlinya. Tapi, memakai nama Kartini sebagai “dalil” poligami adalah kekeliruan sejarah. Itu cherry picking sejarah.
2. Lalu Apa Teladan Kartini yang Asli?
Baca _Habis Gelap Terbitlah Terang_, tiga gagasan ini yang diulang ratusan kali: Pendidikan untuk Perempuan, Lawan Adat yang Menindas, dan Kebebasan Menentukan Nasib.
“Aku ingin perempuan tidak dipaksa kawin.”
3. Kartini Indonesia: Masih Gelap
Kalau Kartini hidup hari ini, dia tidak akan debat poligami di seminar hotel. Dia akan tanya data:
1. Putus Sekolah: Data BPS 2025, angka putus sekolah anak perempuan usia 16-18 tahun secara nasional masih 4,21%. Artinya 1 dari 24 anak perempuan tidak tamat SMA.
2. Perkawinan Anak: Data Bappenas & BPS 2024, 1 dari 9 perempuan Indonesia menikah sebelum usia 18 tahun. Target RPJMN 2024 sebesar 8,74% belum tercapai.
3. Kematian Ibu Muda: AKI Indonesia 2023 masih 189 per 100.000 kelahiran hidup, salah satu tertinggi di ASEAN. Banyak karena menikah muda dan kurang gizi.
Ini “gelap” yang belum “terbit terang”. Inilah medan juang Kartini hari ini. Bukan di panggung lomba fashion, tapi di desa, di PAUD, di Puskesmas.
4. Sabar, Ikhlas, Ridho Ala Kartini: Untuk Lawan Kebodohan.
Maka “Kartini muda” cirinya: A. Sabar mengurus PAUD tanpa honor.
B. Ikhlas jadi guru honorer belasan tahun.
C. Ridho sekolah sampai doktor, ridho jadi Presiden, Gubernur, Bupati/walikota kalau mampu.
Bukan sabar-ikhlas-ridho untuk jadi istri ke-4. Itu wilayah privat dan fiqh.
Jangan Bebani Kartini Lagi
Poligami silakan dibahas di forum fiqh. Tapi jangan bebani Kartini lagi. Beliau sudah cukup menderita. Tugas kita, Kartini-Kartono: pastikan tidak ada anak perempuan Indonesia dipaksa kawin sebelum khatam SMA.
Selamat Hari Kartini. Mari lanjutkan suratnya, bukan lukanya.
*Penulis Alumni UIN Raden Intan Lampung, tinggal di Lampung Barat


