Oleh : Prof. Admi Syarif, Ph.D.
Hari ini beredar sebuah video pendek di media sosial yang menyoroti perkembangan pendidikan tinggi di Lampung. Dalam narasi video tersebut disampaikan bahwa pemerintah terus mendorong kemajuan pendidikan, salah satunya melalui pembukaan Program Studi Kedokteran di Universitas Lampung. Tentu saja ini merupakan kabar menggembirakan bagi masyarakat Lampung, karena kehadiran program studi strategis seperti kedokteran diharapkan dapat memperkuat kualitas sumber daya manusia daerah.
Namun demikian, dalam penjelasan yang disampaikan oleh pimpinan Universitas Lampung (yang dalam video tersebut dikutip sebagai “Ibu Rektor Unika”), muncul sebuah kenyataan yang cukup memprihatinkan. Disebutkan bahwa jumlah mahasiswa asal Lampung yang berhasil lolos melalui seleksi nasional relatif sangat sedikit. Sebagian besar mahasiswa yang diterima justru berasal dari luar daerah.
Kondisi ini tentu menimbulkan rasa prihatin bagi kita semua. Sebab pada hakikatnya, pembukaan program-program strategis di perguruan tinggi daerah juga diharapkan menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia lokal. Jika akses putra-putri Lampung sangat terbatas, maka tujuan pembangunan daerah melalui pendidikan tinggi bisa kurang optimal tercapai.
Karena itu, saya berpandangan bahwa pemerintah daerah perlu segera membangun komunikasi yang konstruktif dengan Universitas Lampung serta perguruan tinggi strategis lainnya di Lampung, termasuk Institut Teknologi Sumatera. Salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan adalah membuka jalur khusus bagi putra-putri Lampung untuk dapat mengakses program studi unggulan seperti kedokteran, teknik, farmasi, dan bidang strategis lainnya.
Praktik seperti ini bukan sesuatu yang baru. Dua puluh tahun yang lalu, ketika saya menjadi visiting lecturer di Australian National University di Australia, saya melihat bagaimana universitas tersebut memiliki kebijakan khusus dalam penerimaan mahasiswa bagi masyarakat Aborigin sebagai penduduk asli. Kebijakan afirmatif seperti itu bertujuan memastikan bahwa kelompok masyarakat lokal tidak tertinggal dalam akses pendidikan tinggi.
Beberapa tahun lalu saya juga pernah menginisiasi sebuah langkah kecil namun bermakna: melakukan advokasi agar setiap tahun dapat diterima lima orang mahasiswi asal Jabung di Universitas Lampung. Saat itu rektornya adalah Karomani. Alhamdulillah program tersebut hingga kini masih berjalan dan manfaatnya mulai dirasakan oleh masyarakat.
Ke depan, saya terus mendorong agar Universitas Lampung dan Institut Teknologi Sumatera dapat memberikan ruang afirmasi yang lebih luas. Misalnya dengan menerima minimal satu mahasiswa dari setiap kampung tua Lampung untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi tersebut.
Langkah ini bukan sekadar kebijakan penerimaan mahasiswa, tetapi juga bagian dari tanggung jawab moral dan sosial perguruan tinggi dalam membangun daerahnya sendiri. Perguruan tinggi besar di Lampung harus tetap menanamkan keberpihakan kepada masyarakat Lampung, agar kemajuan pendidikan benar-benar menjadi milik bersama.
Jika keberpihakan ini dapat diwujudkan secara sistematis dan berkelanjutan, maka suatu hari nanti kita akan melihat lebih banyak dokter, insinyur, ilmuwan, dan pemimpin masa depan yang lahir dari kampung-kampung Lampung sendiri. Itulah investasi sumber daya manusia yang paling berharga bagi masa depan daerah.
*Penulis: Guru Besar Unila & Tukang Tulis.


