INILAMPUNG.COM, Kotabumi --Presentasi koreografi "Sebangun Tiga Sudut" karya Ayu Permata Sari sukses digelar pada Minggu, 26 April 2026 pukul 19.00 WIB di Gedung Korpri, Kotabumi, Lampung Utara.
Menurut Yulizar Lubay sebagai pembicara bahwa melalui relasi antara tubuh penari, material pecah belah, dan bunyi, "Sebangun Tiga Sudut" menghadirkan pembacaan kritis terhadap gagasan stabilitas yang selama ini dianggap utuh. .
"Karya ini justru menyingkap bahwa stabilitas bersifat rapuh, dinegosiasikan, dan senantiasa berada dalam kemungkinan retak," kaya cerpenis Lampung itu, Kamis 30 April 2026.
Material pecah belah dalam karya ini tidak sekadar menjadi elemen visual, melainkan simbol yang berakar pada tradisi masyarakat Lampung Pepadun, khususnya konsep sesan—seperangkat benda domestik rumah tangga yang dibawa pengantin perempuan sebagai bekal kehidupan berumah tangga.
Namun, lanjut Yulizar, alih-alih meneguhkan harmoni, karya ini membaca ulang sesan sebagai representasi struktur relasi yang sarat oposisi, hierarki, dan potensi pergeseran makna.
Berangkat dari konsep “Tubuh, Struktur, dan Residu”, karya ini memposisikan tubuh sebagai arsip sosial yang menyimpan jejak nilai, norma, dan relasi kuasa. Struktur berpasangan laki-laki dan perempuan dipertanyakan sebagai fondasi yang tidak selalu setara, melainkan membentuk batasan peran yang kerap menempatkan perempuan dalam orbit domestik.
Konsep ini kemudian diperluas melalui pembacaan terhadap prinsip Tungku Tiga Batu, yang secara umum dipahami sebagai simbol keseimbangan. Dalam karya ini, keseimbangan tersebut diungkap sebagai konstruksi yang menyimpan ketegangan dan distribusi peran yang tidak sepenuhnya setara.
Secara koreografis, tujuh penari menghadirkan dinamika tubuh sebagai medan negosiasi antara kepatuhan dan resistensi. Lima penari aktif membangun struktur menggunakan objek pecah belah, sementara dua lainnya hadir sebagai “residu”—bayangan yang tidak sepenuhnya terserap dalam sistem, namun terus memengaruhi keseluruhan komposisi koreografis.
Relasi ini menciptakan ketegangan dramaturgis yang subtil, di mana struktur tidak pernah benar-benar utuh, melainkan selalu berada di antara yang tampak dan yang tersisa. Bunyi pecah, tekstur suara yang retak, serta komposisi ruang turut memperkuat pengalaman sensorik yang tidak stabil.
Karya dari Penerima Hibah Seni Penciptaan Karya Kreatif Inovatif oleh Dana Indonesiana 2025 ini juga menempatkan teks sebagai material yang setara dengan tubuh dan objek. Teks tidak berfungsi sebagai penjelas, tetapi sebagai praktik artikulasi yang membuka medan semantik dan penafsiran yang luas. Narasi yang dihadirkan berangkat dari pengalaman tubuh perempuan yang kerap dilabeli "rentan" dan diolah sebagai strategi untuk menggugat batasan norma yang mapan.
Sebangun Tiga Sudut pada akhirnya hadir sebagai ekosistem performatif yang mempertemukan tubuh, objek, bunyi, dan ruang dalam kondisi yang terus berubah. Karya ini tidak menolak tradisi, melainkan mengajaknya berdialog, membuka kemungkinan untuk membaca ulang budaya sebagai sesuatu yang hidup dan dinamis.
Pasca pementasan, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Diskusi Karya yang menghadirkan tiga penanggap yang terdiri dari praktisi tari, teater, dan akademisi. Diskusi ini dilaksanakan pada Senin, 27 April 2026 pukul 13.00 WIB, serta Pameran Instalasi yang berlangsung dari 27 hingga 29 April 2026, terbuka untuk umum setiap pukul 10.00–16.00 WIB. Kegiatan ini memperluas pengalaman apresiasi dengan menghadirkan ruang dialog antara karya, seniman, dan publik di mana para pengunjung diperbolehkan menyusun material pecah belah yang sedang dipajang.
