K.H. Ahmad Hanafiah (1905 - 1947
INILAMPUNGCOM --- Hari Sabtu (25/4/2026) ini merupakan puncak kegiatan dan syukuran HUT ke-27 Kabupaten Lampung Timur Tahun 2026.
Sebagai "bingkisan" dan rasa syukur atas peringatan ulang tahun ke-27 Kabupaten Lampung Timur, wartawan inilampung.com, Johan mencoba membedah beberapa isi buku Pahlawan Nasional KH Ahmad Hanafiah --- yang berasal dari Lampung Timur --- mengenai apa makna dibalik kata "Sukadana Darussalam".
Dengan satu harapan: Seluruh warga Lampung Timur khususnya -masyarakat Provinsi Lampung umumnya- dapat memahami "gezah" yang ditanamkannya.
Pembedahan ini berdasarkan pada Kitab (buku) Karya KH Ahmad Hanafiah berjudul: Al-Hujjah dan Tafsir Sirr al-Dahr.
Buku tersebut ditulis dalam bahasa Arab.
Spirit yang Terkandung dalam Kitab.
Kitab-kitab KH Ahmad Hanafiah bukan sekadar teks keagamaan biasa, melainkan manifestasi pemikiran dan jiwa perjuangannya. Spirit utamanya dapat dirangkum dalam tiga kata kunci: kebenaran, waktu, dan kemerdekaan.
Berikut uraiannya:
1. Spirit Al-Hujjah: Kekuatan argumen dan keadilan.
Makna Al-Hujjah adalah bukti yang kuat atau argumen yang tak terbantahkan.
Isi kitab ini membahas hukum Islam, fikih, dan jawaban atas problematika umat.
Lalu apa spiritnya? Berpegang teguh pada kebenaran dan keadilan.
KH Ahmad Hanafiah mengajarkan bahwa setiap tindakan, baik dalam pemerintahan, ekonomi, maupun kehidupan sosial, harus memiliki dasar hukum yang jelas dan adil. Tidak boleh ada penindasan, kecurangan, atau ketidakjelasan.
Spirit ini yang kemudian menjadi landasannya dalam berjuang melawan penjajah. Karena penjajahan adalah bentuk ketidakadilan yang bertentangan dengan hukum Allah dan kemanusiaan.
2. Spirit Sirr al-Dahr: Memaknai waktu dan sejarah.
Makna Sirr al-Dahr adalah rahasia waktu atau misteri zaman.
Sebuah benda bersejarah berupa lemari besi peninggalan Belanda. Sayang benda itu dibiarkan begitu saja di sudut ruang, kantor Kecamatan Sukadana, Lampung Timur (foto: Johan/inilampung)
Bila ditelaah isi kitab ini adalah tafsir yang berfokus pada Surat Al-Asr, yang mengajarkan tentang pentingnya memanfaatkan waktu.
Dan spiritnya adalah: Jangan menjadi orang yang rugi dalam sejarah.
Dalam konteks ini, KH Ahmad Hanafiah mengingatkan bahwa hidup ini sangat singkat. Manusia akan rugi besar jika tidak mengisi waktu dengan iman, amal saleh, dan karya nyata.
Spirit ini mendorong KH Ahmad Hanafiah dan generasinya untuk bertindak cepat demi membebaskan tanah air dan membangun peradaban, sebelum waktu berlalu sia-sia.
3. Spirit perpaduan: Islam dan nasionalisme.
Intinya, dalam kedua kitab tersebut, tersirat pesan bahwa Islam dan cinta Tanah Air tidak bertentangan, melainkan justru saling melengkapi.
Hal itu dibuktikan oleh KH Ahmad Hanafiah bahwa menjadi ulama yang taat beragama tidak berarti mengabaikan kewajiban membela negara.
Mempertahankan kemerdekaan adalah bagian dari ibadah dan menjaga agar nilai-nilai Islam bisa diterapkan dengan bebas.
Soal Sukadana Darussalam
Patut diketahui mengapa KH Ahmad Hanafiah sering menyebut Sukadana Darussalam? Ternyata, ia tidak hanya menyebutnya sebagai nama atau slogan, tetapi sebagai visi dan doa yang mendalam.
Berikut bedahannya:
1. Secara bahasa dan harapan.
Darussalam artinya Negeri Damai atau Negeri Keselamatan.
KH Ahmad Hanafiah sangat menginginkan Sukadana menjadi tempat di mana penduduknya hidup dalam keamanan, ketenangan, dan berkah. Jauh dari perpecahan, kekacauan, dan penindasan.
2. Sebagai identitas dan jati diri.
Sukadana adalah tempat kelahiran KH Ahmad Hanafiah. Pusat pendidikan pesantren tertua di Lampung, dan basis perjuangan. Dengan menyebutnya "Darussalam", ia ingin menegaskan bahwa Sukadana adalah kota santri, kota ilmu, dan kota yang dijaga oleh nilai-nilai suci.
3. Sebagai tujuan akhir perjuangan.
Sejarah membuktikan bahwa KH Ahmad Hanafiah berperang dan berjihad bukan untuk kekuasaan semata, tetapi agar tercipta kondisi di mana rakyat bisa beribadah dengan tenang, berdagang dengan jujur, dan hidup berdampingan dengan rukun. Itulah definisi sebenarnya dari Darussalam.
4 Pilar Penting.
Berdasarkan kitab dan tindakannya, konsep Sukadana Darussalam adalah sebuah model peradaban yang berdiri di atas empat pilar utama. Apa saja itu?
1. Kota ilmu dan kebenaran.
Sukadana harus menjadi pusat pendidikan dan penyebaran ilmu yang benar, berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah.
Seperti ajaran dalam Al-Hujjah, masyarakatnya harus cerdas, berakal, dan mampu membedakan mana yang haq dan mana yang batil. Pesantren dan masjid menjadi jantungnya kota.
2. Kota yang adil dan berhukum. Hukum harus ditegakkan di Sukadana tanpa pandang bulu. Pejabat dan rakyat sama di mata hukum. Tidak ada korupsi, tidak ada penindasan terhadap yang lemah.
Ekonomi berjalan dengan jujur, seperti semangat Serikat Dagang Islam yang ia pimpin; bebas dari riba dan penipuan.
3. Kota yang bersatu dan aman.
Masyarakat Sukadana hidup rukun, saling menghormati, dan solid. Keamanan terjamin sehingga orang bisa beraktivitas dengan tenang siang dan malam.
Persatuan ini adalah modal utama untuk bertahan dan maju, sebagaimana ia mempersatukan rakyat untuk melawan musuh.
4. Kota yang produktif dan bermanfaat. Berdasarkan spirit Sirr al-Dahr, warga Sukadana adalah orang-orang yang memanfaatkan waktu untuk bekerja keras, berkarya, dan beramal jariyah.
Sukadana tidak hanya kota yang diam, tetapi kota yang bergerak maju, menghasilkan manfaat bagi daerah sekitarnya, dan meninggalkan jejak baik dalam sejarah.
Kitab-kitab KH Ahmad Hanafiah mengajarkan kepada kita bahwa Sukadana Darussalam bukan sekadar mimpi, melainkan sebuah keniscayaan yang harus diperjuangkan. Spiritnya adalah kebenaran yang tegas dan waktu yang tidak boleh disia-siakan.
Konsepnya adalah membangun kota yang berilmu, beradab, adil, dan sejahtera.
Maka, tugas kita sekarang adalah mewujudkan visi KH Ahmad Hanafiah tersebut dalam pembangunan fisik maupun mental masyarakat, agar Sukadana benar-benar menjadi Negeri Damai yang diberkahi Allah SWT.
Sejarah Singkat Ahmad Hanafiah
Dalam.catatan, KH Ahmad Hanafiah adalah putra pertama dari KH Muhammad Nur, dan lahir di Sukadana.
Seorang ulama dan pendekar di medan juang itu gugur dieksekusi penjajah di Sungai Ogan, sekitar Baturaja. Dia disebutkan disiksa sebelum diikat dalam karung lalu ditenggelamkan ke Sungai Ogan tak jauh dari tempat Pangkalan Militer Belanda di Baturaja.
Atas perjuangannya, tahun 2023, Ahmad Hanafiah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2023. Surat tanda kepalawanan Ahmad Hanafiah di teken Presiden Joko Widodo, melalui Kepres Nomor 115/TK Tahun 2023, Tanggal 6 November 2023.
Keluarga Ahmad Hanafiah adalah pendiri pesantren Istishodiyah--ponpes pertama yang ada di Lampung kala itu.Tumbuh di lingkungan agamis, sejak kecil Ahmad Hanafiah sudah akrab dengan pendidikan keagamaan. Setelah menuntut ilmu di pesantren yang diasuh ayahnya, dia pun berpetualang ke pesantren-pesantren lain hingga puncaknya beribadah haji seraya mendalami ilmu agama di Makkah.
Ahmad Hanafiah muda dalam perjalanan ke Mekkah sempat singgah di India dan mendalami Ilmu tarekat. Dia tiba di Tanah Suci pada 1930, dan bermukim untuk belajar ilmu agama di sana hingga 1936. Dalam catatan sejarah, dia menjadi Ketua Himpunan Pelajar Islam Lampung di kota Mekkah, Arab Saudi selama dua tahun. Di Mekkah, ia tidak hanya kuliah, namun juga mengajar ilmu pengetahuan agama Islam di Masjidil Haram.
Ketika kembali ke Indonesia, Ahmad Hanafiah --- seperti yang ditulis dalam Epos KH Ahmad Hanafiah, Ulama Lampung yang Menjadi Pahlawan Nasional" ----sepulang ke Lampung, menjadi Ketua Serikat Dagang Islam (SDI) di wilayah Kawedanan Sukadana pada 1937-1942. (johan/inilampung)