-->
Cari Berita

Breaking News

Mengukur Umur, Istiqomah dalam Ibadah

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Jumat, 03 April 2026

 


Oleh: Junaidi Jamsari


Umur adalah modal pokok bagi seorang muslim. Anugerah dari Allah Swt dan bersyukur atas anugerah adalah kewajiban bagi seorang musiim. Dengan mengelola waktu harian, kita berharap bisa mewujudkan agenda kebaikan yang telah kita rencanakan.


Dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Tiga hal yang akan mengantar mayit ke kubur, yaitu keluarga, harta, dan amalnya. Keluarga dan harta akan kembali ke dunia, sedangkan amalnya akan tetap menemaninya di akhirat." (HR. Muslim juz 4, hal. 2273, no. 5)


Dari Abdullah bin Busr, seorang badui bertanya: Wahai Rasulullah, siapa orang terbaik itu? Rasulullah shallallahu 'alahi wa salam menjawab: Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya. (HR. Tirmidzi No. 2251)


Oleh karena itu, mari kita manfaatkan sisa umur dan kesempatan yang masih diberikan oleh Allah untuk bertaubat dan meningkatkan amal kebaikan, sehingga kita dapat memiliki bekal yang cukup untuk hidup di akhirat kelak. Amalan yang baik adalah amalan yang diistiqomahkan dijalani secara tulus dan terus menerus.


Sabda baginda Nabi Muhammad Saw: “ Amal (kebaikan) yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu meski sedikit.” (HR. Muslim)


Istiqamah merupakan kunci penting untuk mengisi sisa umur kita dengan kebaikan. Imam Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah halaman 28 menjelaskan:


Artinya: "Dan kamu tidak akan mampu menjalankan perintah Allah (mengerjakan kebaikan-kebaikan) kecuali jika kamu dapat mengatur waktumu dan menyusun jadwal aktivitas harianmu dari pagi hingga sore. Maka, perhatikanlah sungguh-sungguh apa yang diperintahkan oleh Allah kepadamu, sejak kamu bangun dari tidurmu hingga waktu kamu kembali ke tempat tidurmu


Pengelolaan waktu yang dijelaskan Imam Ghazali tersebut bukan sekadar pengelolaan waktu dalam hal ibadah mahdhah, namun dalam pengelolaan kegiatan secara menyeluruh. Misalnya kita telah mengerjakan ketaatan dan kebaikan maka kita juga seyogyanya memiliki masa libur dan liburan, karena ini penting untuk mengembalikan semangat kita untuk menjadi produktif dan menjadi pribadi yang semangat berbuat baik.


Masa muda dan usia dewasa merupakan fase terpenting dalam kehidupan manusia. Betapa pentingnya masa muda, sebab usia muda menentukan masa tua.


Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda kepada seorang laki-laki, pada waktu itu beliau menasehatinya, "Gunakanlah lima (kesempatan) sebelum datangnya lima (kesempitan)


1. Gunakan masa mudamu sebelum datang masa tuamu,


2. Gunakan masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu,


3. Gunaan masa kayamu sebelum datang masa faqir (miskin)mu,


4. Gunakan masa longgarmu sebelum datang masa sibukmu,


5. Gunakan masa hidupmu sebelum datang kematianmu".


Masa muda dan usia dewasa merupakan fase terpenting dalam kehidupan manusia. Betapa pentingnya masa muda, sebab usia muda menentukan masa tua.


[HR. Baihaqiy dalam Syu'abul iimaan juz 7, hal.263, no. 10248]


Dan sebaik-baik orang adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya, sedangkan seburuk-buruk orang adalah yang panjang umurnya, tetapi jelek perbuatannya. Di dalam hadits disebutkan:

Dari 'Abdur Rahman bin Abu Bakrah, dari ayahnya, bahwasanya ada seorang laki-laki bertanya, "Ya Rasulullah, bagaimana orang yang paling baik itu?". Beliau bersabda, "Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya". Lalu orang tersebut bertanya lagi, "Lalu bagaimana orang yang paling buruk itu?". Beliau bersabda, "Orang yang panjang umurnya, tetapi jelek amalnya". [HR. Tirmidzi juz 3, hal. 387, no. 2432, ia berkata: Ini hadits hasan shahih]


Kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepada kita di dunia ini, di akhirat nanti akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah. Allah SWT berfirman:


Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. [QS. Al-Israa': 36]


kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang keni'matan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). [QS. At-Takaatsur: 8]


Di dalam hadits disebutkan: Dari Abu Barzah Al-Aslamiy, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah bergerak kedua tapak kaki seorang hamba (pada hari qiyamat), sehingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia mendapatkannya dan untuk apa ia belanjakan, dan tentang badannya untuk apa ia gunakan". [HR. Tirmidzi juz 4, hal. 36, no. 2532, ia berkata: Ini hadits hasan shahih]


"Hendaknya menjadi pembelajaran, bahwa bukan usia panjang yang terpenting, melainkan keberkahan usia yang ditandai dengan bagusnya amal ibadah, akhlak dan karya yang bermanfaat bagi umat. Semoga Allah Swt selalu memberi petunjuk pada kita agar mampu menggapai usia berkah dan memanfaatkan umur dengan sebaik-baiknya." Aamiin.


 *Penulis domisili di Lampung Barat.

LIPSUS