Oleh: Junaidi Jamsari
Tulisan ini ungkapan keresahan melihat kader muda, sama-sama cinta NU, sama-sama tidak mau PMII menjadi organisasi museum.
Sekadar mengingatkan: Tugas kita bersama, bukan cuma menasihati yang muda, tapi juga ikut "muda" berpikirnya. Biar tidak kaget melihat anak PMII sekarang dakwah memakai CapCut.
PMII 66 tahun itu tua umurnya, tapi semangatnya harus tetap 17 tahun. Persis seperti kami sekarang. Rambut boleh putih, tapi semangatnya tetap biru-kuning membara.
Pesan buat adik-adik sahabat-sahabat PMII: Kalian punya pembina dan penasihat yang bukan cuma duduk di kursi kehormatan. Tapi yang paham TikTok, paham UMKM, paham keresahan kalian. Jangan sia-siakan. "Tempelengan" beliau itu bentuk sayang.
Setiap tahun akademik baru, ribuan mahasiswa baru NU masuk kampus dengan satu kebingungan yang sama: “Saya harus ikut organisasi apa?” Di tengah gempuran puluhan Unit Kegiatan Mahasiswa dan OKP ekstra, mereka khawatir sanad ke-NU-annya putus, khawatir salah hijrah, khawatir lulus menjadi sarjana yang hanya pandai mengkritik tapi bingung kerja.
Jawabannya sudah ada sejak 17 April 1960: Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. PMII bukan sekadar organisasi kemahasiswaan. Ia adalah kawah candradimuka yang menguji, mengajarkan, dan mengasah mahasiswa NU agar tahan banting. Di usia 66 tahun ini, PMII dituntut naik kelas, dari penjaga mimbar diskusi menjadi penjaga perut rakyat.
Kita hidup di 2026. Era di mana dakwah lewat TikTok, perang ideologi lewat FYP, dan anggaran negara di-refocusing untuk UMKM serta ekonomi syariah. Anak PMII Gen Z tidak bisa lagi hanya jago orasi. Ia harus jago membuat konten, jago berdagang, jago menyusun proposal ke BAZNAS.
Sebab tantangan kita nyata: ketidakpercayaan masyarakat pada pemerintah sedang tinggi. Rakyat apatis, kualitas kebijakan menurun, pelayanan publik sepi peminat. Di sinilah PMII harus hadir sebagai jembatan. Kalau pemerintah belum dipercaya, biar PMII yang dipercaya dulu. Dari kepercayaan ke PMII, kita bangun lagi kepercayaan ke negara.
Lalu mengapa mahasiswa baru NU wajib ber-PMII? Setidaknya ada sembilan alasan.
Pertama: PMII adalah sayap organisasi NU di bidang kemahasiswaan. Dengan aktif di PMII, sanad ke-NU-an mahasiswa tidak terputus. Membesarkan PMII sama dengan membesarkan NU, sebagaimana kita berkhidmat di IPNU-IPPNU, GP Ansor, dan banom lainnya.
Kedua: PMII mengasah kemampuan akademik. Ruang diskusinya lintas jurusan dan tidak dibatasi SKS. Kader dibekali materi inter-multidisipliner untuk membangun nalar kritis. Ketiga: PMII mempertajam skill non-akademik yang mahal: public speaking, lobi, jurnalistik, manajemen aksi, hingga leadership. Semua itu tidak didapat di kelas.
Keempat: PMII mengajarkan berjejaring. Usia 66 tahun membuat alumni PMII tersebar di semua lini strategis: kiai, akademisi, politisi, pengusaha, menteri, hingga guru ngaji. Ikatan Keluarga Alumni PMII menjadi rumah besar yang bisa dimanfaatkan kapanpun.
Kelima: PMII melatih adaptasi dengan kultur perguruan tinggi. Mahasiswa bukan lagi objek pasif. Ia dilatih berdiskusi, membaca, dan menulis tanpa canggung.
Keenam: PMII menanamkan tanggung jawab sosial. Dengan jargon dzikir, fikir, dan amal shaleh, kader dididik responsif terhadap isu kemiskinan, korupsi, dan narkoba.
Ketujuh: PMII mencetak agen perubahan. Tidak cukup kritik, kader harus solutif di lingkungannya. Kedelapan: PMII menjaga Islam moderat. Kadernya dilatih mengusung Islam yang santun dan ramah, bukan yang keras dan marah. Tak pernah ada cerita alumni PMII terlibat terorisme.
Kesembilan: Visi PMII jelas: mencetak insan ulul albab. Profil manusia yang berilmu amaliah dan beramal ilmiah, bertaqwa, cakap, dan bertanggungjawab.
Namun jujur harus diakui, hasil diklat kader PMII selama ini belum sepenuhnya dipakai untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan. Masih banyak kader hebat wacana, tapi gugup membuka usaha. Padahal slogan dan program kemandirian sudah mulai berjalan. Ke depan, satu komisariat wajib membina satu UMKM. Satu PC wajib punya aset produktif. UPZ Zakat Produktif harus ada di setiap kampus. Sebab, amal shaleh hari ini adalah memastikan tetangga kita tidak miskin lagi di 2030.
Sahabat-sahabat mahasiswa baru, kalian bukan mahasiswa biasa. Darah kalian biru, darah NU. Tugas kalian berat: jaga Aswaja, jaga Indonesia, dari kampus. Caranya? Masuk PMII. PMII akan menempa kalian. Kadang dipuji, kadang "ditempeleng". Tapi semua itu agar kalian jadi ulul albab yang siap pakai: bisa mengaji, bisa menghitung, bisa memimpin. Kegiatan seperti MAPABA ini harus berkelanjutan. Agar lahir kader yang aktif, kreatif, inovatif. Bukan ulul nganggur.
Dirgahayu PMII ke-66. Dari Lampung Barat untuk Indonesia. Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq.
Salam Pergerakan!
*Penulis Wakil Ketua PWNU Provinsi Lampung.

