Oleh: Junaidi Jamsari
Hidup manusia dipenuhi dengan tantangan, ujian, dan cobaan. Setiap suka dan duka adalah ujian bagi keimanannya.
Firman Allah yang artinya: Apakah manusia mengira cukup (begitu saja) mengatakan Kami telah beriman, sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (Al-Ankabut 1-3).
Allah tak pernah salah dalam menciptakan takdir. Kita tak pernah tahu kebaikan apa yang akan Allah limpahkan selepas kesedihan dan kesulitan yang kita rasa. Kita pun tak pernah tahu keburukan apa yang telah Allah jauhkan dari kita karena duka yang menimpa kita. Allah tak pernah keliru memilih pundak siapa yang akan diberikan ujian, karena Allah teramat paham kapasitas setiap hamba-Nya. Banyak-banyaklah bersabar; Allah saja percaya kita mampu melewatinya, lantas mengapa kita masih memilih untuk ragu dan menyerah?
Ujian Allah untuk manusia banyak macamnya. Allah berfirman: "Demi sesungguhnya kami akan menguji kamu dengan sesuatu, antara lain, ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan beri kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang yang apabila ditimpa musibah (ujian) mereka berkata, sesungguhnya kami dari Allah dan kami akan kembali kepada-Nya. (QS. Al Baqarah: 155).
Doa ini adalah peneguh iman dan keyakinan, karena dengan meresapi maknanya, hati kita akan merasa kuat dan tidak takut menghadapi peristiwa apa pun. Menyitir firman Allah SWT berikut ini:
Artinya: "Katakanlah: Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu lah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam, Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup dan Engkau beri rezeki siapa saja yang Engkau kehendaki tanpa hisab. (Ali Imran: 26-27).
Sebab turun ayat tersebut ialah setelah Nabi Muhammad SAW menaklukkan kota Mekkah, Beliau menerangkan kepada sahabat bahwa Kerajaan Persi dan Roma akan ditaklukkan.
Orang-orang munafik dan Yahudi berkata: "Mana mungkin Muhammad menaklukkan Persi dan Rum". Apakah Mekkah dan Madinah belum memadai untuk Muhammad sehingga dia masih menginginkan (tama') Persi dan Rum. Kemudian turunlah ayat tersebut.
Setiap manusia pasti pernah mengalami masa kejayaan, menjadi pemimpin, dan disegani oleh banyak orang. Namun, tidak jarang pula mereka jatuh menjadi rakyat biasa, bahkan ada yang dipenjarakan dan dihinakan setelah sebelumnya berada di puncak kekuasaan. Bagi orang yang pasrah kepada Allah, peristiwa seperti ini bukanlah hal yang luar biasa, karena semuanya berlaku atas kehendak-Nya. Mereka akan segera melakukan introspeksi, apakah peristiwa itu merupakan ujian untuk memperkuat iman atau pelajaran berharga untuk memperbaiki langkah menuju kesuksesan.
Demikian pula dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada tugas berat yang membuat kita ragu dan bahkan berputus asa. Namun, jika kehendak Allah yang berlaku, maka apa yang dianggap tidak mungkin bisa saja terjadi, dan apa yang dianggap susah menjadi mudah; apa yang dianggap mimpi kemudian menjadi kenyataan.
Allah berfirman: “Maka bersabarlah engkau (Muhammad) dengan kesabaran yang baik (jamiil – bagus)”. (QS. Al Ma'arij 5).
Ayat di atas mengingatkan pada berbagai peristiwa di mana Allah mengingatkan Nabi Muhammad tentang pentingnya kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi kesulitan dan cobaan.
Belajar dari beberapa peristiwa yang dialami Nabi Muhammad antara lain:
Peristiwa Hijrah ke Thaif, ketika Nabi Muhammad diusir dan dilempari batu oleh penduduk Thaif, Beliau menunjukkan kesabaran dan keikhlasan. Peristiwa wafatnya Abu Thalib dan Khadijah, Nabi Muhammad mengalami kesedihan yang mendalam, namun Beliau tetap sabar dan tawakkal kepada Allah.
Peristiwa Isra' Mi'raj, Nabi Muhammad menerima perintah sholat lima waktu, namun Beliau menunjukkan kesabaran dan ketaatan kepada Allah.
Peristiwa Perang Uhud, Nabi Muhammad mengalami kekalahan dan cidera, namun Beliau tetap sabar dan tidak menyerah.
Dalam peristiwa-peristiwa tersebut, Nabi Muhammad SAW menunjukkan kesabaran dan ketabahan yang luar biasa, sehingga menjadi contoh bagi umat Islam.
Apapun kesulitan kita, semoga dapat selalu kita sikapi dengan sikap optimis. Bahwa itulah jalan terbaik yang Allah berikan kepada kita. Orang-orang yang tabah, akan mendapatkan pahala terbaik.
Allah berfirman, "Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. An-Nahl: 96).
Seorang ulama mengungkapkan; "Orang yang diciptakan untuk masuk surga, pasti akan merasakan banyak kesulitan. Musibah yang sesungguhnya adalah yang menimpa agama seseorang. Sementara musibah-musibah selain itu merupakan jalan keselamatan baginya. Ada yang berfungsi meningkatkan pahala, ada yang menjadi pengampun dosa. Orang yang benar-benar tertimpa merana adalah mereka yang terhalang dari mendapatkan pahala."
Semoga kerisauan dengan kesulitan yang dihadapi dapat terobati, sejauh kita tetap beriman dan tetap semangat.
Hadits khusus dari Baginda Nabi untuk kesulitan seperti yang banyak kita alami, Sabda Rasulullah: "Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan, atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap baik (ihsan) dalam pergaulan dengan mereka, dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa, serta bertanggungjawab, maka baginya surga."
Hadits tersebut dapat menyemangati kaum ibu untuk terus merawat anak-anak dengan penuh kasih sayang. Tak perlu khawatir, karena Allah secara khusus menjanjikan surga.
Ini kisah dari Ummu Al-Ala', dia berkata, "Rasulullah SAW menjengukku tatkala aku sedang sakit, lalu Beliau berkata, 'Gembiralah wahai Ummu Al-Ala'. Sesungguhnya sakitnya orang muslim itu membuat Allah menghilangkan kesalahan-kesalahan, sebagaimana api yang menghilangkan kotoran emas dan perak." (HR Abu Daud)
Dari Atha' bin Abu Rabbah, dia berkata, "Ibnu Abbas pernah berkata kepadaku, 'Maukah kutunjukkan kepadamu seorang wanita penghuni surga?' Aku menjawab, "Ya. Dia (Ibnu Abbas) berkata, "Wanita berkulit hitam itu pernah mendatangi Nabi SAW, seraya berkata, 'Sesungguhnya aku sakit ayan dan (auratku) terbuka. Maka berdoalah bagi diriku.' Beliau berkata, 'Apabila engkau menghendaki, maka engkau bisa bersabar dan bagimu adalah surga. Dan, apabila engkau menghendaki, bisa berdoa sendiri kepada Allah hingga Dia memberimu afiat (kesembuhan). Lalu wanita itu berkata, 'Aku akan bersabar. Wanita itu berkata lagi, 'Sesungguhnya (auratku) terbuka. Maka berdoalah kepada Allah bagi diriku agar (auratku) tidak terbuka. Maka Beliau pun berdoa bagi wanita tersebut." (HR Bukhari dan Muslim).
Sebagaimana diketahui, doa adalah cetusan suara kata hati yang diucapkan dengan penuh khusyu' dan tawadhu', serta dengan penuh keyakinan akan mendapat perkenan dari Allah, karena Allah tidak pernah menyalahi janji. Semoga Allah meneguhkan kesabaran kita dan memudahkan segala urusan, sehingga kita dapat mencapai kebahagiaan sejati. Aamiin ya rabbal 'alamin.
*Penulis berdomisili di Lampung Barat.


