-->
Cari Berita

Breaking News

Sawang Sinawang dan Kelelahan Batin yang tak Terucap

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Rabu, 08 April 2026



Oleh : Dr. Aguswan Khotibul Umam, S.Ag, MA.


Dalam kehidupan, sering kali seseorang merasa teman-teman seusianya telah lebih dulu mencapai keberhasilan, baik dalam karier maupun ekonomi. Padahal, tidak semua orang mengetahui perjuangan, luka, dan kesulitan yang mereka lalui untuk sampai pada titik tersebut. Jika tidak disikapi dengan bijak, perasaan ini bisa memunculkan iri hati. 


Dalam istilah Jawa, kondisi ini dikenal sebagai sawang sinawang, sedangkan dalam psikologi dapat dijelaskan melalui Social Comparison Theory dari Leon Festinger, khususnya upward comparison, yaitu kecenderungan membandingkan diri dengan orang yang tampak lebih berhasil. 


Jika dibiarkan, hal ini dapat memicu rasa kurang, tidak puas, rendah diri, kelelahan emosional, bahkan membuat seseorang lupa mensyukuri nikmat Allah Swt. Padahal, apa yang tampak dari hidup orang lain seringkali hanyalah permukaannya saja, bukan keseluruhan cerita. 


Di balik kesuksesan seseorang, hampir selalu ada perjuangan, beban, dan problematika hidup yang tidak terlihat. Karena itu, kebahagiaan di dunia nyaris tak pernah benar-benar sempurna.

 

Pertemuan Hangat Jadi Arena Perbandingan


Pertemuan dengan teman atau saudara -semestinya- menjadi ruang melepas rindu. Namun, tanpa disadari, momen itu kadang berubah menjadi ajang saling menampilkan pencapaian hidup. Pertanyaan tentang pekerjaan, anak, rumah, atau karier memang wajar, tetapi bagi sebagian orang bisa terasa berat karena tidak semua hadir dalam kondisi hidup dan kelapangan hati yang sama. 


Ada yang tampak sukses dan tersenyum saat dipuji, padahal di balik itu bisa saja tersimpan masalah kesehatan, konflik keluarga, tekanan ekonomi, atau kelelahan mental. Karena itu, tidak semua yang terlihat baik-baik saja, benar-benar tanpa beban; sering kali, seseorang hanya sedang berusaha tetap kuat dan menjaga dirinya.


Salah satu jebakan terbesar dalam kehidupan sosial adalah membandingkan isi hidup seseorang dengan tampilan hidup orang lain. Seseorang tahu betul beban yang sedang seseorang hadapi, tetapi saat melihat orang lain, yang tampak seringkali hanya sisi luarnya yaitu senyuman, pencapaian, atau kehidupan yang terlihat rapi dan harmonis. 


Padahal, tidak ada hidup yang benar-benar tanpa beban. Orang yang tampak terbungkus sukses, sehat, atau mapan bisa jadi sedang memikul tekanan psikis, luka, atau kelelahan yang tidak terlihat. Karena itu, seringkali yang membuat batin lelah bukan hanya beratnya hidup, tetapi juga cara seseorang memandang hidup orang lain seolah semuanya lebih mudah serta lebih bahagia.

 

Sawang sinawang sangat nyata? Karena seseorang sering membandingkan kondisi hidupnya dengan tampilan hidup orang lain, padahal yang terlihat dari orang lain biasanya hanya hasilnya, penampilannya, atau bagian hidupnya yang nampak “bahagia”. Sementara yang seseorang rasakan dari dirinya sendiri adalah capeknya, bingungnya, kecewanya, kurangnya, dan beban yang tidak terlihat orang. Maka muncullah ilusi bahwa “Hidup orang lain tampak lebih baik daripada hidupnya”. 


Padahal belum tentu begitu. Dalam bahasa psikologi, ini juga berkaitan dengan cognitive bias (bias cara berpikir), terutama kecenderungan untuk mengidealkan hidup orang lain sambil membesar-besarkan kekurangan diri sendiri.

 

Perbandingan Sosial Melelahkan


Dari sudut pandang psikologi, sawang sinawang bukan sekadar iri atau minder, tetapi juga berkaitan dengan harga diri, pola pikir, dan kelelahan emosi.


Saat seseorang terlalu sering menilai dirinya dari pencapaian orang lain, nilai dirinya perlahan bergantung pada ukuran luar, sehingga mudah merasa kurang meski sebenarnya sedang bertumbuh dan berkembang. 


Perasaan ini juga dapat memicu distorsi berpikir, seperti merasa hidup orang lain pasti lebih bahagia atau menganggap diri paling bermasalah. Padahal, itu belum tentu sesuai kenyataan. 


Pada akhirnya, kondisi ini bisa menimbulkan kelelahan batin, bukan hanya karena masalah hidup, tetapi juga karena tekanan untuk terus bisa menyamai level kesuksesan orang lain.


Di tengah budaya yang mudah menilai hidup dari tampilan luar, Islam mengajarkan bahwa nilai manusia bukan ditentukan oleh rupa, harta, atau citra sosial, melainkan oleh hati dan amal.


Karena itu, orang yang tampak biasa di mata manusia bisa jadi sangat mulia di sisi Allah SWT karena kesabaran, kejujuran, dan keteguhannya dalam menghadapi ujian hidup. 


Islam juga melarang iri terhadap karunia orang lain. Seseorang boleh menjadikan keberhasilan orang lain sebagai motivasi, tetapi jangan sampai perbandingan itu berubah menjadi iri, rendah diri, dan melupakan rasa syukur atas jalan hidup yang Allah tetapkan. 


Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. An-Nisa’: 32, agar manusia tidak iri terhadap kelebihan orang lain, melainkan berusaha dan memohon karunia-Nya.

 

Pertemuan yang Sehat 


Di tengah budaya saling membandingkan, seseorang perlu belajar menghadirkan pertemuan yang lebih manusiawi. Tidak semua obrolan harus berisi pencapaian atau ukuran-ukuran duniawi. 


Kadang, yang lebih dibutuhkan seseorang bukan pertanyaan tentang gaji, rumah, atau keberhasilan, melainkan sapaan yang hangat, perhatian yang tulus, dan doa yang menenangkan.


Sebab, yang paling dirindukan banyak orang bukan sekadar dipuji karena terlihat lebih sukses, tetapi diterima tanpa harus menjelaskan semuanya. 


Pertemuan yang sehat adalah pertemuan yang membuat orang pulang dengan hati yang lebih hangat, bukan lebih lelah oleh tekanan batin.


Sawang sinawang mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang. Selama manusia masih melihat dan merasakan, akan selalu ada godaan untuk membandingkan hidup sendiri dengan hidup orang lain. 


Namun, seseorang bisa belajar memandang semuanya dengan lebih adil bahwa seseorang bukan sedang kalah, hanya berada di fase hidup yang berbeda; bahwa yang tampak indah belum tentu ringan dijalani; dan bahwa tidak semua yang berharga harus terlihat hebat di mata manusia. 


Allah SWT mengingatkan bahwa bersama kesulitan selalu ada kemudahan (QS. Ash-Sharh: 5–6). Artinya, setiap orang punya ujian masing-masing, dan selalu ada ruang untuk berharap dalam setiap perjalanan hidup.


Pada akhirnya, sawang sinawang mengajarkan satu kenyataan yang sering terlambat, yaitu seseorang harus menyadari bahwa hidup orang lain memang sering terlihat lebih indah, dan orang lain tidak tahu akan beban dan problematika hidupnya. 


Maka, ketika bertemu teman, saudara, atau kerabat, seseorang tidak terlalu cepat untuk menyimpulkan bahwa hidup orang lain pasti lebih bahagia, lebih sukses, atau lebih nyaman.


Karena yang tampak cerah belum tentu tanpa mendung. Yang tampak tenang belum tentu tanpa cemas. Yang tampak bahagia belum tentu tanpa air mata. 


Mungkin semua kita memang sedang belajar hal yang sama; bahwa bagaimana bertemu tanpa saling mengukur, bercerita tanpa saling menjatuhkan, dan menjalani hidup tanpa merasa diri kalah dari siapa pun.


Sebab pada akhirnya, hidup ini bukan soal siapa yang paling tampak berhasil, melainkan siapa yang tetap tulus bertahan, bersyukur, dan terus berjalan meski batinnya lelah serta yakin mendapatkan ridha Allah SWT. Wallahu a’lam bisshowab.


 *Penulis Dosen UIN Jurai Siwo Lampung.

LIPSUS