-->
Cari Berita

Breaking News

Air Mata Cikeas Mengiringi Kepulangan Sang Jenderal Perang Semesta

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Minggu, 31 Mei 2026

 


Oleh: Ma'ruf Abidin \ (Sekretaris PW Muhammadiyah Provinsi Lampung)


Suasana haru dan duka mendalam menyelimuti Perumahan Puri Wira Bhakti, Cikeas, Bogor, sore hari ini, Minggu (31/5/2026). 


Ratusan pelayat dari kalangan militer, pejabat negara, hingga tetangga sekitar tampak berdiri terpekur di depan rumah duka. Mereka semua datang dengan satu rasa kehilangan yang sama atas berpulangnya Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu.


Mantan Menteri Pertahanan dan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) itu mengembuskan napas terakhirnya di RSPAD Gatot Subroto pukul 14.03 WIB dalam usia 76 tahun. 


Bagi keluarga besar dan para sahabat, kepergian sang jenderal bukan sekadar hilangnya seorang tokoh bangsa, melainkan pudarnya salah satu lentera ketegasan dan cinta tanah air yang paling benderang.


Pria kelahiran Palembang ini adalah sosok yang menghabiskan seluruh detak jantungnya untuk menjaga kedaulatan Indonesia. 


Langkah pengabdiannya di dunia militer dimulai sejak lulus dari Akabri Darat pada tahun 1974. Dengan seragam lorengnya yang tegas, Ryamizard menapaki tangga karier yang cemerlang dari bawah sebagai Komandan Peleton di Kodam XII/Tanjungpura (1976), hingga dipercaya memegang tongkat komando kewilayahan sebagai Panglima Kodam V/Brawijaya pada tahun 1999.


Nama Ryamizard semakin terpatri dalam sejarah bangsa saat beliau menjabat sebagai Panglima Kodam Jaya/Jayakarta (1999–2000). Di tengah badai transisi politik yang memanaskan situasi ibu kota kala itu, ketegasan dan tangan dinginnya sukses meredam potensi benturan massa horizontal, menjaga Jakarta tetap aman dan kondusif. 


Dedikasi tanpa kompromi tersebut mengantarkannya menduduki posisi strategis sebagai Panglima Kostrad (2000–2002), sebelum akhirnya mencapai puncak kepemimpinan matra darat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) periode 2002–2005.


Di balik ketegasan taktik militernya, Ryamizard dikenal sebagai figur yang sangat mencintai rakyatnya. Keyakinannya yang tak pernah goyah bahwa kekuatan terbesar bangsa ini adalah bersatunya TNI dan rakyat, tertanam dalam setiap doktrin Sishankamrata yang selalu ia dengungkan, termasuk saat beliau dipercaya mengemban amanah sebagai Menteri Pertahanan RI (2014–2019).


"Bela negara itu bukan tentang mengangkat senjata, tapi tentang bagaimana kita mencintai dan membangun tanah air ini," kenang salah seorang kolega, mengutip pesan yang selalu diulang almarhum saat menginisiasi program Bela Negara. 

Ucapan itu kini menjadi warisan berharga yang ditinggalkannya bagi generasi muda Indonesia.


Di mata rekan-rekan sejawatnya, Ryamizard dikenal sebagai sosok prajurit tulen yang memiliki kesetiaan tinggi pada kawan dan komitmen tanpa batas untuk republik. Menhan RI ke-26, Prabowo Subianto, yang melanjutkan tongkat estafet kepemimpinannya di Kementerian Pertahanan, kerap memuji dedikasi ilmiah dan praktis sang jenderal, terutama saat menghadiri penganugerahan gelar Doktor Kehormatan militer beliau di Universitas Pertahanan pada 2021 silam. Kolega militernya di Korps Marinir juga selalu mengenang Ryamizard sebagai pemimpin operasi lapangan yang andal, khususnya saat memimpin misi perdamaian ke Kamboja hingga beliau diangkat sebagai Warga Kehormatan Korps Marinir.


Atas rangkaian dedikasi, pengorbanan, dan kesetiaannya yang tak pernah luntur, negara telah menyematkan deretan tanda kehormatan tertinggi di dadanya. Di antaranya adalah Bintang Mahaputera Adipradana (2020) dan Bintang Mahaputera Utama (2005) yang dianugerahkan oleh Presiden RI, serta Bintang Dharma dan Bintang Yudha Dharma Utama atas jasa luar biasanya melampaui panggilan tugas militer. Beliau juga mengantongi Bintang Kehormatan Veteran Tertinggi dari Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) atas komitmennya merawat sejarah perjuangan bangsa.


Hingga tulisan ini dibuat, kesenyapan mulai merayap di Cikeas, suasana khidmat masih terasa kental. Karangan bunga duka cita terus berdatangan memenuhi halaman rumah. Sementara itu, pihak Kementerian Pertahanan dan perwakilan keluarga masih berkoordinasi erat untuk mempersiapkan upacara penghormatan terakhir secara militer bagi sang jenderal.


Selamat jalan, Jenderal. Pengabdian lurusmu telah usai, namun api nasionalisme yang kau nyalakan di hati jutaan anak bangsa akan tetap abadi. (*)

LIPSUS