INILAMPUNGCOM --- Beberapa hari lalu, Anshori Djausal ---tokoh masyarakat Lampung yang concern dalam kelestarian lingkungan--- mengirimkan bahan kajian pola mengatasi banjir di Kota Bandarlampung kepada inilampung.com.
Sebelumnya, Anshori Djausal juga pernah mengajak diskusi tentang mengatasi persoalan banjir di Ibukota Provinsi Lampung ini berdasarkan solusi alternatif yang sudah dia rancang dengan rancak.
Namun yang terbaru dan polanya -terurai detail dalam 26 halaman-, tampaknya yang lebih pas: Praktis -bisa dibuat pada setiap RT-, dan ekonomis alias murah meriah.
Anshori menuturkan: "Saya menawarkan konsep menjadikan Kota Bandarlampung jadi kota spons atau spons city dengan membuat kolam dalam skala kecil, berukuran maksimal 1 X 10 meter buat menyerap banjir (bioswale)."
Dengan polanya itu, dikerjakan gotong royong setiap rukun tetangga (RT), dapat membuat bioswale di titik rawan banjir lingkungannya.
Menurut Anshori, pembuatan bioswale bisa di pinggir jalan kampung yang sering tergenang dan untuk mengarahkan air dari jalan masuk ke bioswale. Namun harus dipastikan pada ujungnya terdapat saluran pembuang/overflow ke drainase utama, kalau hujan ekstrem melanda.
Anshori menguraikan, setiap bioswale bisa menampung sekitar 5000 liter air hujan per sekali hujan deras.
"Kalau satu RT bikin lima titik, sudah bisa mengurangi 25.000 liter air agar tidak langsung masuk got atau siring. Air hujan akan tertahan dan terserap, sehingga tidak luber ke mana-mana," urainya, Minggu (10/5/2026) siang.
Ditambahkan, untuk menentukan lokasi bioswale, warga setiap RT bisa bermusyawarah, sekaligus gotong royong mengerjakan dan dananya.
Mengenai desain idealnya, Anshori menjelaskan, kira-kira 1x10 meter dengan kedalaman 50-60 cm setiap RT. Prinsipnya, semakin banyak bioswale pasti semakin baik.
Bagaimana pola pengisiannya? Pengisian bioswale berlapis dari bawah ke atas, yakni:
1. Kerikil kasar 20 cm dengan diameter 2-5 cm untuk menampung air sementara, sekaligus mencegah tanah mampet.
2. Pasir kasar 15 cm untuk filtrasi. Jangan memakai pasir halus, agar tidak padat.
3. Kain geotextile menjadi opsional agar tanah tanam tidak turun ke pasir.
4. Tanah tanam ditambah kompos 20 cm yang dicampur 70 persen tanah dan 30 persen kompos/pupuk kandang matang.
5. Mulsa 5 cm berupa cacahan daun kering/batok kelapa agar tanah tidak kering dan menahan erosi.
6. Tanaman yang cocok di Bandarlampung, pilih yang kuat lembab atau becek dan kuat kering dengan ciri akarnya serabut, misalnya:
a. Rumput vetiver yang memiliki akar hingga ke dalam, untuk mencegah longsor.
b. Lili paris/Spider Plant yang murah, cepat rimbun.
c. Pandanwangi, sekalian bisa dipanen warga.
d. Bunga kana/heliconia yang bagus untuk estetika.
e. Talas/keladi hias yang memiliki daun lebar dan bagus menyerap air.
Menurut Anshori, penanaman dilakukan secara zig-zag, dengan jarak 30-40 cm. Setiap bioswale 10 meter membutuhkan 25-30 batang.
Perkiraan Biaya Material
Item volume perkiraan harga
kerikil 2-5 cm 2 m³ Rp300 ribu, pasir kasar 1.5 m³ Rp225 ribu,
tanah plus kompos 2 m³ Rp200 ribu, bibit tanaman 30 batang Rp150 ribu, pipa overflow PVC 3" satu batang Rp75 ribu. Sehingga totalnya hanya Rp
950 ribu.
"Bisa lebih murah kalau kerikil dan tanah memakai yang ada, gotong royong menggalinya," ucap dia.
Cara Bangun Singkat
1. Gali saluran 1x10 m, kedalaman 60 cm. Dasar dibuat miring 1% ke arah pembuangan.
2. Masukkan lapisan kerikil, pasir, pasang pipa overflow di ujung → tanah tanam.
3. Tanam vegetasi, beri mulsa.
4. Minggu pertama siram setiap hari agar tanaman hidup. Setelah itu biarkan, bioswale akan mengurus air hujan sendiri.
Mengenai perawatannya, Anshori Djausal menjelaskan, setiap tiga bulan sekali cabut sampah plastik dan daun yang menutupi. Setiap satu bulan sekali lakukan pemotongan tanaman yang terlalu rimbun. Setiap dua tahun sekali ganti mulsa dan cek kalau lapisan mulai padat.
Anda tertarik? Tidak ada salahnya pola ini dicoba. Biayanya juga murah meriah. (zal/inilampung)

