Oleh: Junaidi Jamsari
Salah satu kebutuhan utama dalam menjalani kehidupan yang baik adalah memiliki teladan. Dengan teladan, kita punya tolok ukur untuk menilai apakah perjalanan hidup kita sudah berada di jalur yang benar atau belum.
Karena itu, hari ini kita mengingat kembali manusia agung yang diutus Allah Swt. sebagai nabi dan rasul, yaitu Nabi Ibrahim AS. beserta keluarga Ismail As. dan Siti Hajar. Keagungan pribadinya membuat kita, bahkan Nabi Muhammad SAW, diperintahkan untuk meneladaninya. Allah Swt. berfirman:
- Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya (QS Al-Mumtahanah : 4)
Dari sekian banyak pelajaran dari Nabi Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ada satu hal yang relevan menjelang ibadah haji dan Iduladha: doa beliau agar menjadi pribadi berilmu, shalih, dan menjadi buah tutur yang baik bagi generasi setelahnya.
Dalam hal ini, saya ingin menyampaikan empat hikmah dari doa dan keteladanan Nabi Ibrahim yang bisa kita wujudkan dalam kehidupan berbangsa, bermasyarakat, dan berkeluarga.
Pertama, Tinggalkan Haram, Lakukan Halal
Ibadah haji dimulai dengan ihram dan diakhiri dengan tahallul. Saat ihram, jamaah memakai kain putih tak berjahit yang melambangkan kain kafan. Pakaian itu juga menghapus perbedaan suku, organisasi, partai, status sosial, dan ekonomi. Di hadapan Allah, yang membedakan hanya takwa.
Ihram juga melambangkan disiplin. Selama ihram, ada yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Seorang haji semestinya disiplin menjalankan syariat Islam. Karena kehormatan manusia bukan pada pakaian, tetapi pada ketakwaannya.
Bila ihram berarti pengharaman dan tahallul berarti penghalalan, maka seorang muslim harus siap meninggalkan yang diharamkan Allah dan hanya melakukan yang dihalalkan.
Sangat tercela bila seseorang ingin mendapatkan sesuatu yang haram dengan memanfaatkan jalur hukum agar terlihat halal. Keputusan hakim tidak bisa mengubah yang haram menjadi halal. Allah Swt. berfirman:
Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan janganlah kamu membawa urusan harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian harta benda orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui. (QS Al-Baqarah : 188)
Kedua, Bergerak untuk Kebaikan dan Berkorban
Ibadah haji adalah ibadah bergerak. Dari rumah ke asrama, ke bandara, ke Jeddah, ke Madinah atau Mekah, lalu wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, melontar di Mina, tawaf di Mekah, hingga tawaf wada. Puncak ujiannya adalah saat melontar jumrah yang melambangkan perlawanan terhadap setan.
Dari rangkaian ini kita belajar bahwa muslim tidak boleh pasif. Setiap muslim harus bergerak: mencari nafkah, mencari ilmu, menegakkan kebenaran, dan memberantas kemungkaran.
Tawakal bukan berarti diam menerima keadaan buruk. Tawakal adalah berserah diri kepada Allah setelah berusaha maksimal.
Ketiga, Jadikan Masjid Pusat Pergerakan
Rangkaian ibadah haji berpusat di masjid. Di Madinah, jamaah berbondong-bondong melaksanakan shalat berjamaah di Masjid Nabawi hingga target arbain.
Sebagai muslim, kita harus memiliki ikatan batin dengan masjid. Bagi laki-laki, shalat lima waktu berjamaah di masjid adalah identitas. Rasulullah Saw. bersabda:
- Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Salah satunya adalah seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid sejak ia keluar hingga ia kembali kepadanya. (HR Bukhari dan Muslim)
Aneh bila ada lelaki muslim yang tidak mau datang ke masjid. Bahkan orang munafik di zaman Nabi pun datang ke masjid, meski dengan malas. Allah Swt. berfirman:
- Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas.(QS An-Nisa : 142)
Seorang haji yang telah menyempurnakan keislamannya seharusnya menjadi contoh bagi masyarakat sekitarnya.
Keempat, Berilmu, Shalih, dan Buah Tutur Baik
Nabi Ibrahim As. berdoa agar diberi hikmah, dimasukkan ke dalam golongan orang shalih, dan menjadi buah tutur yang baik bagi generasi setelahnya. Allah Swt. berfirman:
- Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian. (QS Asy-Syu'ara : 83-84)
Dalam Tafsir Al-Mishbah, hukman dipahami sebagai amal ilmiah, yaitu amal yang baik berdasar ilmu. Sungguh mulia doa Nabi Ibrahim.
Namun disayangkan, banyak orang yang menuntut ilmu hingga gelar tinggi, tetapi mengamalkannya untuk hal yang tidak bermanfaat bahkan mendatangkan dosa. Dengan ilmu, manusia bisa masuk surga. Dengan ilmu pula, manusia bisa masuk neraka jika ilmunya digunakan untuk keburukan.
Doa ketiga Nabi Ibrahim adalah agar menjadi buah tutur yang baik. Sebagai nabi, beliau tidak pernah berucap atau bertindak buruk. Namun beliau khawatir jika ada orang yang membicarakan keburukannya.
Karena itu, gunakan kesempatan hidup yang singkat ini untuk membuat sejarah yang mulia. Agar ketika kita wafat, yang dibicarakan orang adalah kebaikan dan manfaat yang kita tinggalkan.
Manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Rasulullah Saw. bersabda:
- Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. (HR Al-Qudha'i dari Jabir ra.)
Wallahu a’lam bish-shawab.
*Penulis senior PMII, tinggal di Lampung Barat.

