-->
Cari Berita

Breaking News

Jadi Sastrawan Itu Berat Ternyata, Dilan Itu Enak Geh, Hehehe...

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Selasa, 26 Mei 2026

 Jadi Sastrawan Itu Berat Ternyata, Dilan Itu Enak Geh, Hehehe...
(Catetan Kangen Saja buat Yon Bayu Wahyono)

 

Udo Z. Karzi

  • Oleh: Udo Z Karzi

 

JADI sastrawan itu berat. Berat betul. Lebih berat daripada angkat galon sambil naik motor di jalan berlubang. Karena menjadi sastrawan di negeri ini bukan sekadar bisa menulis. Menulis mah gampang. Tinggal duduk, ngopi, garuk kepala, lalu sok murung sedikit. 


Yang susah itu pengakuannya. Nah, pengakuan inilah yang sering membuat orang lebih sibuk mengurus “siapa mengakui siapa” daripada mengurus tulisan itu sendiri.

 

Saya membaca status Yon Bayu Wahyono, teman sesama alumni Tamtama (Lampung Ekspres Plus) di Lampung, dengan perasaan campur aduk: antara senyum, manggut-manggut, dan sedikit lapar. Karena judul ini memang benar: Dilan Itu Enak. Orang Lampung lama macam Yon Bayu tentu paham arti “dilan”. Itu bukan Dilan-nya Pidi Baiq yang katanya jangan rindu, berat, biar Dilan saja. Ini dilan yang lebih membumi: terbikin dari udang yang penting untuk sambal seruit yang setidaknya bisa mengenyangkan sedikit kegelisahan eksistensial seorang penulis.

 

Yon Bayu bilang, dulu “penasbihan” sastrawan bisa lewat tiga jalan: dimuat media massa arus utama, diterbitkan penerbit mayor, dan diakui kritikus sastra mumpuni. Sekarang tampaknya ada tambahan satu lagi: pengakuan negara. Banpem dari Badan Bahasa menjadi semacam stempel resmi bahwa seseorang memang layak disebut “sastrawan”.

 

Dan saya tidak menyalahkan itu. Sama sekali tidak. Dalam hidup yang makin mahal ini, pengakuan kadang memang perlu. Setidaknya untuk menjaga kewarasan. Karena jadi penulis di Indonesia itu kadang mirip jadi tukang gali sumur di gurun pasir: kerja kerasnya nyata, hasilnya belum tentu ada.

 

Apalagi media massa tempat banyak penulis dulu “ditasbihkan” satu per satu tumbang. Rubrik budaya mengecil. Honor tulisan menghilang. Bahkan ada koran yang lebih rela memberi ruang satu halaman penuh untuk iklan obat kuat daripada satu puisi bagus. 


Maka, ketika negara datang membawa Banpem, ya wajarlah banyak orang merasa seperti mendapat pelukan setelah lama dicueki.

 

Masalahnya, saya dari dulu memang tidak serius-serius amat ingin jadi sastrawan. Sudah benarlah saya cuma tukang tulis. Tulis saja suka-suka.

 

Tidak pernah terlalu memikirkan apakah tulisan saya dimuat media arus utama atau tidak. Tidak terlalu pusing apakah diterbitkan penerbit mayor atau penerbit yang kantornya numpang di ruang tamu. Tidak juga sibuk berharap ditulisi kritikus sastra mumpuni yang kadang bahasanya lebih sulit dipahami daripada puisinya sendiri.

 

Saya juga hampir tidak pernah ikut pertemuan sastra tingkat nasional. Apalagi internasional. Bayangan saya, kalau ikut forum sastra nasional itu pasti ada sesi nongkrong serius sambil menyebut nama filsuf Prancis dengan logat setengah batuk. Saya takut salah sebut lalu ketahuan cuma tukang tulis kampung. Maka saya nyaman saja di pinggiran. 


Dulu ketika jadi redaktur opini dan redaktur budaya di pers mahasiswa lalu koran lokal, saya menulis karena memang diperintah menulis. Lama-lama keterusan. Menulis jadi kebiasaan seperti ngopi atau mengeluh soal keadaan negeri. Ketika honor penulis dihapus karena perusahaan media mulai megap-megap, ya saya tetap menulis juga. Mau bagaimana lagi? Orang yang sudah kecanduan menulis itu aneh. Tidak dibayar tetap menulis. Dibayar kecil tetap menulis. Tidak dibaca orang pun tetap menulis.

 

Untung ada Facebook.Di situlah para tukang tulis yang tersisih menemukan padang rumput baru. Orang bisa menulis panjang pendek sesuka hati. Kadang dibaca, kadang tidak. Kadang cuma dapat tiga like: satu dari istri, satu dari teman lama, satu lagi dari akun jualan herbal.

 

Belakangan, saya malah memilih menulis panjang sekalian. Karena saya sadar, tulisan pendek sekarang kalah sama video goyang tiga puluh detik. Jadi ya sudahlah. Sekalian panjang. Mau dibaca syukur, tidak dibaca juga tidak apa-apa. Toh, negeri ini memang sedang malas membaca. Orang lebih suka menyimpulkan isi tulisan dari judul dan thumbnail.

 

Lucunya, di tengah keadaan seperti itu, gelar “sastrawan” tetap terdengar angker dan mewah. Padahal, kalau dipikir-pikir, jadi sastrawan itu kadang malah merepotkan. Harus menjaga citra. Harus terlihat intelektual. Harus tampak menderita tetapi estetik. Tidak boleh salah kutip penyair besar. Tidak boleh terlihat terlalu bahagia karena nanti dianggap kurang kontemplatif.

 

Saya tidak sanggup. Saya lebih nyaman jadi tukang tulis yang bisa cengengesan kapan saja. Karena semakin ke sini, saya merasa, sastra yang terlalu sibuk mencari pengakuan kadang malah kehilangan kegembiraan. Orang jadi sibuk membangun reputasi daripada membangun tulisan. Sibuk mengejar penghargaan daripada mengejar kejujuran. Padahal, tulisan yang jujur sering kali lebih awet daripada piagam.

 

Tapi sekali lagi, saya paham perasaan Yon Bayu. Pengakuan negara memang penting. Setidaknya negara masih ingat bahwa ada orang-orang yang bertahun-tahun menulis di tengah pasar yang tidak ramah, pembaca yang makin sedikit, dan penguasa yang lebih suka influencer daripada penyair.

 

Maka, Banpem itu bukan cuma soal uang atau penghargaan. Ia semacam tanda: “Hei, kamu tidak sepenuhnya sendirian.”Dan, itu penting.

 

Sebab, di negeri ini, banyak penulis sebenarnya tidak mati karena tidak bisa menulis. Mereka mati pelan-pelan karena merasa tidak dianggap.Namun, tetap saja, buat saya pribadi, jadi sastrawan itu berat. Mending jadi tukang tulis saja. Kalau tulisan dibaca orang, syukur. Kalau tidak dibaca, ya tetap ngopi. Kalau ada penghargaan, Alhamdulillah. Kalau tidak ada, ya mending makan dilan. 


  • *Udo Z Karzi, jurnalis seniot yang lebih suka disebut tukang tulis
  •  Akitivis, dan budayawan asal Lampung Barat itu tinggal di Bandarlampung.

LIPSUS