![]() |
| Ilustrasi: Nabi Ibrahim dan Siti Hajar |
Oleh: Junaidi Jamsari
(Penulis tinggal di Lampung Barat)
Kisah Nabi Ibrahim bukan cerita tentang kekayaan atau kekuasaan. Beliau memang dikaruniai ternak melimpah dan berhadapan dengan Raja Namrud, tapi inti ajarannya jauh lebih dalam: kepasrahan total kepada Allah di atas segalanya.
1. Ibrahim: Kaya Tapi Tak Terikat, Berakal Tapi Tak Sombong.
Riwayat menyebut, Nabi Ibrahim adalah pemilik ternak banyak. Tapi kekayaan itu tidak membuatnya sombong. Beliau tetap dermawan dan pemulia tamu.
Ia juga tidak taklid buta. Saat kaumnya menyembah bintang, bulan, matahari, Ibrahim memakai akal sehat dan bimbingan wahyu untuk mencari Tuhan yang hakiki. Itu dakwah berbasis logika, bukan ikut-ikutan.
Intisari hidupnya adalah totalitas ketaatan. Dibakar hidup-hidup oleh Namrud, ditinggal di padang tandus bersama Siti Hajar dan Ismail, sampai diperintah menyembelih putra tercinta. Semua dijalani tanpa tawar.
2. Siti Hajar: Ibu, Ikhtiar, dan Mukjizat Zamzam.
Peristiwa paling ikonik justru lahir dari "arah tak terduga". Siti Hajar berlari tujuh kali antara Shafa dan Marwah. Itu ikhtiar logis, cari air di tempat tinggi.
Tapi Allah justru memancarkan Zamzam dari tempat terendah: hentakan kaki bayi Ismail. Ini bukti: kewajiban kita cuma ikhtiar maksimal, hasil urusan Allah.
Dari kepanikan seorang ibu lahir dua warisan besar:
Pertama; Ibadah Sa'i menjadi rukun Haji dan Umrah sampai kiamat.
Kedua: Simbol ketahanan perempuan yang berjuang sendirian demi anaknya.
3. Al-Baqarah 260: Iman Butuh Ketenangan Hati.
Saat Ibrahim minta Allah menunjukkan cara menghidupkan yang mati, beliau bilang: "Aku percaya, tapi agar hatiku tenang" li yathma'inna qalbi.
Para mufasir bilang: ini bukan ragu, tapi naik level dari ilmul yaqin ke ainul yaqin. Iman yang tenang karena ada pembuktian.
Allah pun mengajarkan "metode eksperimen": cincang empat burung, taruh di bukit berbeda, lalu panggil. Iman Islam sejalan dengan observasi dan akal jernih. Inilah modal Ibrahim mematahkan logika Namrud.
Penutup
Jadi, warisan Ibrahim - Siti Hajar bukan istana atau harta. Tapi ibadah, keyakinan hati, dan cara berpikir kritis yang lurus. Dari api Namrud lahir keteguhan. Dari padang tandus lahir Zamzam.
Mungkin hari ini "Namrud" kita beda bentuk: sistem zalim, hawa nafsu, atau rasa putus asa. Tapi resepnya sama: tawakal total, ikhtiar maksimal, dan hati yang tenang.
Wallahu a'lam. (*)


