-->
Cari Berita

Breaking News

Menyigi Labirin Tanya Ketika Edi Malas Menjawab

Dibaca : 0
 
Kamis, 21 Mei 2026




Catatan Kurator: CHAVCHAY SYAIFULLAH


Pameran Tunggal "Konfigurasi Senirupa" Edi Bonetski menghadirkan sebuah ruang percobaan visual yang dekat dengan denyut keseharian. Menjadi bagian dari praktik distribusi makna dalam proyek #bonetskicode, pameran ini tidak hadir sebagai ruang estetik yang steril dan berjarak, melainkan membumi di tengah ruang komunal: Kedai Kopi Menbar, Kota Tangerang, pada Jumat-Minggu, 22–24 Mei 2026. 

Memasuki karya-karya Edi Bonetski serasa memasuki labirin, sebuah lorong tanya visual yang berliku, meliuk-liuk, berputar-putar, atau (bahkan) tak ada ujung. Tidak ada bentuk yang benar-benar utuh. Fragmen figur, potongan simbol, garis-garis yang berbelok liar, hingga warna-warna yang saling mendesak hadir bersamaan seperti serpihan pikiran yang sedang mencari tubuhnya sendiri. 

Tatapan pengunjung dan apresiator terus digiring berhijrah. Pada satu sisi kita merasa menemukan jejak makna, tetapi pada sisi lain makna itu kembali dipecah dan dibiarkan tercerai-berai. Edi seperti sengaja menolak menghadirkan jawaban tunggal. Ia membiarkan karya-karyanya hidup sebagai ruang tafsir yang cair, bahkan kadang membingungkan. 

Justru di situlah denyut karya-karya Edi Bonetski bekerja. Ada semacam ijtihad bahwa kehidupan modern memang dipenuhi tanda-tanda yang saling bertabrakan: informasi, identitas, ingatan, kegelisahan, dan suara-suara yang datang bertumpuk tanpa pernah benar-benar selesai dipahami. Edi tidak berupaya merapikan kekacauan itu. Ia justru membiarkannya tumbuh sebagai bahasa visual yang mentah, spontan, dan jujur. 

Pilihan media anyaman bilik bambu menjadi bagian penting dari pembacaan tersebut. Permukaan yang tidak rata, celah antarbilah, serat-serat kasar, serta urat alami bambu tidak diperlakukan sebagai hambatan visual. Edi justru membiarkan karakter material itu tetap berbicara. 

Cat dan tinta tampak menyusup ke pori-pori bambu, mengikuti arah serat alamiahnya. Garis-garis hitam yang muncul di atas permukaan anyaman terasa bukan sekadar hasil menggambar, melainkan hasil dialog intuitif antara tubuh seniman dan tubuh material. Dari situ lahir kesan bahwa karya-karya ini tidak hanya dikerjakan di atas media, tetapi tumbuh bersama medianya. 

Melalui #bonetskicode, pria berbintang Libra ini secara konsisten berusaha meruntuhkan batas antara seni dan ruang hidup sehari-hari. Pilihannya menghadirkan karya di kedai kopi, ruang jalanan, hingga ruang terbuka memperlihatkan kecenderungan praktik seni yang lebih komunal dan membumi. Seni tidak lagi ditempatkan sebagai barang eksklusif yang hanya hidup di ruang galeri, tetapi sebagai pengalaman bersama yang dapat ditemui di tengah lalu lalang warga. 

Secara visual, karya-karya Edi terasa memiliki kedekatan dengan semangat Neo-Ekspresionisme dan Art Brut: liar, mentah, distortif, serta menolak kepatuhan terhadap estetika yang terlalu rapi. Garis-garis agresif, tabrakan warna, simbol yang bertumpuk, serta pecahan figur yang tidak selesai membentuk semacam labirin tanya visual yang terus bergerak dan sulit dijinakkan. 

Namun kekuatan karya Edi bukan semata terletak pada keberanian visualnya. Yang terasa paling hidup justru keberaniannya membiarkan tafsir tetap terbuka. Ia tidak tergesa menjelaskan makna kepada pengunjung dan apresiator. Karya-karyanya seperti sengaja dibiarkan menjadi ruang percakapan yang tidak pernah final. 

Barangkali di titik itulah kenakalan Edi Bonetski bekerja paling kuat. Ia terus menembakkan tanya-tanya visual, sementara apresiator sibuk merakit jawabannya sendiri. Ketika satu tafsir mulai terasa mapan, ia kembali mengacaknya melalui simbol lain, garis lain, atau (juga) media lain yang muncul tiba-tiba: dari kanvas hingga bilik bambu, dari tas hingga gitar, dari kartu pos hingga peti mati. 

Akhir kalam, jelaslah bahwa Edi Bonetski tidak pernah tertarik mendedah jalan kesimpulan. Ia malas menjawab segudang tanya visualnya sendiri. Ia justru membiarkan kita tersesat lebih lama di dalam labirin yang ia bangun tanpa ampun.(*/bd/inilampung)

____
Sastrawan dan Dai Kultural. Pembina Pesantren Kreatif Adh Dhamir, Pemimpin Majelis Zikir An Naafi' dan Wasekjen Persaudaraan Muslimin Indonesia

LIPSUS