Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, SAg, MA
(Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)
Budaya modern yang semakin individualistik telah menyebabkan banyak masyarakat kehilangan kehangatan sosial. Fenomena seperti konflik antarkelompok, ujaran kebencian di media sosial, menurunnya rasa hormat kepada tamu, hingga sikap cuek terhadap lingkungan sosial menunjukkan adanya krisis empati dan krisis karakter. Dalam konteks ini, masyarakat Lampung sebenarnya memiliki warisan budaya yang sangat relevan untuk menjawab persoalan tersebut, yaitu falsafah “Nemui Nyimah”.
“Nemui Nyimah” merupakan bagian penting dari falsafah hidup masyarakat Lampung yang dikenal dengan “Piil Pesenggiri”. Nilai ini mengajarkan keramahan, kesantunan, keterbukaan, dan kemurahan hati kepada orang lain, khususnya tamu. Dalam budaya Lampung, seseorang dianggap memiliki kehormatan apabila mampu menjaga silaturahmi dan menghormati sesama manusia.
Secara psikologis, “Nemui Nyimah” bukan hanya tradisi adat, tetapi juga mekanisme pembentukan kepribadian sosial yang sehat. Nilai ini membentuk manusia yang memiliki empati, kecerdasan emosional, toleransi, dan kemampuan membangun hubungan sosial harmonis.
Menurut penelitian tentang “Nemui Nyimah” di masyarakat multikultural Lampung, budaya ini berfungsi menumbuhkan solidaritas sosial, rasa tanggung jawab, keterbukaan, dan toleransi antaretnis.
Nemui Nyimah dalam Perspektif Psikologi Sosial
Dalam kajian psikologi sosial, perilaku ramah, terbuka, dan suka membantu berkaitan erat dengan teori “prososial”. Tokoh psikologi sosial seperti David G. Myers menjelaskan bahwa perilaku prososial adalah tindakan yang dilakukan untuk memberi manfaat kepada orang lain tanpa mengutamakan kepentingan pribadi.
“Nemui Nyimah” mengajarkan seseorang untuk menghormati orang lain, memberikan pelayanan terbaik kepada tamu, menjaga komunikasi yang santun, serta menciptakan rasa aman dan nyaman dalam interaksi sosial. Dalam psikologi humanistik, Abraham Maslow tahun 1943 menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan akan cinta, penghargaan, dan rasa memiliki (belongingness). Budaya “Nemui Nyimah” memenuhi kebutuhan psikologis tersebut melalui kehangatan sosial dan penerimaan terhadap orang lain.
Sementara itu, teori “social learning” dari Albert Bandura tahun 1977 menjelaskan bahwa perilaku sosial dipelajari melalui keteladanan. Anak-anak Lampung yang terbiasa melihat orang tuanya menyambut tamu dengan ramah akan meniru perilaku tersebut hingga dewasa. Hal ini menunjukkan bahwa “Nemui Nyimah” sebenarnya merupakan sistem pendidikan karakter berbasis budaya lokal.
Nemui Nyimah dan Kecerdasan Emosional
Konsep “Nemui Nyimah” juga sangat berkaitan dengan teori “Emotional Intelligence” dari Daniel Goleman tahun 1995. Goleman menjelaskan bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga kemampuan memahami emosi diri dan orang lain. Sikap yang ramah, santun, menghargai tamu, suka berbagi, dan menjaga perasaan orang lain merupakan bentuk nyata kecerdasan emosional.
Orang yang memiliki jiwa “Nemui Nyimah” cenderung akan mudah diterima lingkungan, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, minim konflik sosial, serta lebih mudah membangun jaringan sosial dan profesional. Sebaliknya, hilangnya budaya menyapa, menghormati tamu, dan kebiasaan saling membantu dapat memicu munculnya kepribadian individualistik, antisosial, bahkan agresif.
Dalam dunia pendidikan, “Nemui Nyimah” sangat relevan dengan pendidikan karakter abad 21. Nilai ini mengandung aspek toleransi, gotong royong, sopan santun, moderasi sosial, dan empati. Penelitian mengenai pendidikan multikultural dalam budaya “Nemui Nyimah” menyebutkan bahwa budaya ini efektif menjadi media pendidikan toleransi di tengah masyarakat majemuk.
Di sekolah, implementasi “Nemui Nyimah” dapat dilakukan melalui budaya salam dan senyum, pembiasaan menghormati guru dan tamu sekolah, kegiatan berbagi sosial, forum musyawarah siswa, pembelajaran lintas budaya dan agama. Apabila diterapkan secara konsisten, “Nemui Nyimah” dapat menjadi benteng terhadap tindakan bullying, intoleransi, radikalisme, hingga kekerasan verbal di sekolah.
Fenomena meningkatnya perundungan (bullying) di kalangan pelajar saat ini menunjukkan krisis empati sosial. Padahal, budaya “Nemui Nyimah” mengajarkan penghormatan terhadap martabat manusia. Kajian terbaru di Lampung bahkan mengaitkan penguatan nilai sosial lokal dengan upaya pencegahan kenakalan remaja dan bullying.
Perspektif Islam tentang Nemui Nyimah
Nilai “Nemui Nyimah” sangat selaras dengan ajaran Islam tentang memuliakan tamu dan menjaga silaturahmi. Allah SWT berfirman: “Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh...”(QS. An-Nisa: 36).
Ayat ini menunjukkan pentingnya hubungan sosial yang harmonis dalam kehidupan masyarakat. Dalam hadis Rasulullah SAW juga disebutkan: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut sangat sejalan dengan prinsip “Nemui Nyimah” yang menjunjung penghormatan terhadap tamu sebagai bentuk kemuliaan akhlak. Selain itu, Islam juga mengajarkan pentingnya keramahan: “Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.”
(HR. Tirmidzi).
Secara psikologis, senyum dan keramahan dapat meningkatkan hormon kebahagiaan (dopamine dan oxytocin) yang memperkuat hubungan sosial dan mengurangi stres interpersonal.
Dalam kehidupan modern, nilai “Nemui Nyimah” dapat terlihat maupun justru mulai hilang pada berbagai fenomena sosial.
Pertama: Budaya Media Sosial yang Kasar. Saat ini media sosial sering dipenuhi adanya ujaran kebencian, saling menghina, dan perpecahan politik.
Jika nilai “Nemui Nyimah” diterapkan, masyarakat akan lebih mengedepankan kesantunan digital (digital civility), menghargai perbedaan, dan menghindari provokasi,
Kedua: Konflik Antarsuku dan Intoleransi. Beberapa konflik sosial di Indonesia sering dipicu oleh prasangka antarkelompok. Padahal, falsafah “Nemui Nyimah” mengajarkan keterbukaan terhadap pendatang dan penghormatan terhadap keberagaman. Penelitian menyebut budaya ini efektif membangun toleransi multietnis di masyarakat plural.
Ketiga: Menurunnya Budaya Bertamu. Di era digital, banyak keluarga lebih sibuk dengan gawai daripada membangun komunikasi sosial. Bahkan tamu sering dianggap mengganggu privasi. Padahal, secara psikologis, silaturahmi dan interaksi hangat dapat meningkatkan kesehatan mental serta mengurangi kesepian sosial.
Keempat: Pelayanan Publik yang Tidak Ramah. Fenomena pelayanan publik yang kasar atau arogan menunjukkan hilangnya budaya penghormatan terhadap manusia. Jika semangat “Nemui Nyimah” diterapkan dalam birokrasi, pelayanan masyarakat akan lebih humanis dan berempati.
Solusi Krisis Sosial Modern
Di tengah meningkatnya individualisme global, “Nemui Nyimah” sesungguhnya merupakan terapi sosial berbasis budaya lokal. Nilai ini mampu untuk memperkuat kohesi sosial, membangun kesehatan mental masyarakat, menumbuhkan empati, dan menciptakan toleransi sosial. Budaya ini bukan sekadar tradisi adat, tetapi sistem psikologi sosial yang diwariskan leluhur Lampung untuk menjaga harmoni kehidupan.
Karena itu, revitalisasi “Nemui Nyimah” perlu dilakukan melalui jalur pendidikan keluarga, sekolah, organisasi kemasyarakatan, dakwah keagamaan, hingga media sosial. Masyarakat yang menghidupkan “Nemui Nyimah” akan lebih mudah menciptakan lingkungan yang damai, toleran, dan penuh penghormatan terhadap sesama manusia. Sebagaimana filosofi Lampung “Sang Bumi Khua Jukhai”, bumi Lampung adalah rumah bersama bagi siapa saja yang datang dengan niat baik.
Akhirnya, penting kita pahami bahwa “Nemui Nyimah” merupakan kearifan lokal masyarakat Lampung yang tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga memiliki makna psikologis dan spiritual yang mendalam. Nilai keramahan, sopan santun, kepedulian, dan penghormatan kepada sesama mampu membentuk pribadi yang empatik, toleran, serta sehat secara sosial dan emosional. Di tengah kehidupan modern yang cenderung individualistik, “Nemui Nyimah” menjadi pengingat pentingnya menjaga silaturahmi, menghargai perbedaan, dan menebarkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, nilai luhur ini perlu terus diwariskan melalui keluarga, pendidikan, dan kehidupan bermasyarakat agar tercipta generasi yang berkarakter, humanis, dan berakhlak mulia. (*)


