Oleh: Junaidi Jamsari
Anak adalah harapan masa depan yang perlu mendapat perlindungan dan kasih sayang dari lingkungan sekitarnya. Sayangnya, tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk merasakan kehangatan keluarga.
Di tengah realitas ini, santunan anak yatim/piatu di sekolah menjadi salah satu bentuk nyata dari kepedulian sosial yang diwujudkan melalui pendidikan.
Anak yatim piatu harus mendapatkan perlindungan hak-hak alamiah mereka, bukan malah menjadi korban.
Pembelajaran nilai kemanusiaan melalui program santunan anak yatim/piatu di sekolah merupakan upaya untuk memperkenalkan dan memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, seperti kasih sayang, empati dan solidaritas, sehingga siswa dapat belajar untuk peduli terhadap sesama yang membutuhkan dan menyadari pentingnya berbagi rezeki dengan orang lain, serta membangun kesadaran sosial di kalangan siswa untuk mengenali dan memahami realitas kehidupanyang lebih luas diluar lingkungan mereka sendiri, serta menghargai berbagai tantangan dan kesulitan yang dihadapi oleh anak-anak yatim piatu.
Pahala menyantuni anak yatim selanjutnya yaitu akan diberikan rezeki berlimpah dan kemuliaan oleh Allah SWT.
Sebagaimana yang tertulis di dalam surat Al-Fajr ayat 15 hingga 17, berikut artinya: "Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberinya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku’. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata, ‘Tuhanku menghinaku’. Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim.” (Surat Al-Fajr ayat 15-17).
Menyantuni anak yatim/piatu menjadi contoh nyata dari kebaikan dan kepedulian yang dapat menginspirasi tindakan serupa di lingkungan sekitar. Melalui contoh ini, kita dapat membangun masyarakat yang lebih peduli dan responsif terhadap kebutuhan sesama. Sebab santunan anak yatim/piatu di sekolah bukan hanya tentang memberikan bantuan individual, tetapi juga dapat mendorong perubahan sosial yang lebih luas.
Dengan meningkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam membantu anak-anak yang membutuhkan, kita dapat bergerak menuju masyarakat yang lebih inklusif dan berdaya.
Al-Qur’an secara tegas menjelaskan bahwa anak yatim adalah anak yang harus dipelihara, diperhatikan, dan diberi kasih sayang. Berikut ini firman Allah SWT terkait keutamaan menyayangi anak yatim:
“Mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakan lah “Memperbaiki keadaan mereka adalah baik.”(QS. Al-Baqarah [2]: 220).
Sementara Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau, serta agak merenggangkan keduanya.” (HR. Bukhari).
Keutamaan menyantuni anak yatim selanjutnya ini tertuang di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh radhiyallahu 'anhu. Pada hadits tersebut tertulis bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:
“Barangsiapa mengusap kepala anak yatim piatu laki-laki atau perempuan karena Allah, adalah baginya setiap rambut yang diusap dengan tangannya itu terdapat banyak kebaikan.”
“Orang yang memelihara anak yatim di kalangan umat muslimin, memberikannya makan dan minum, pasti Allah akan masukkan ke dalam surga, kecuali ia melakukan dosa yang tidak bisa diampuni.” (HR. Tirmidzi dari Ibnu Abbas).
Demikian, keutamaan menyantuni anak yatim yang sangat sayang jika kita lewatkan begitu saja, karena ada banyak keutamaan dan pahala yang akan kita dapatkan.
Program santunan anak yatim/piatu di sekolah bertujuan memperkenalkan nilai-nilai kemanusiaan seperti kasih sayang, empati, solidaritas, serta membangunkesadaran sosial siswa untuk peduli terhadap sesama dan menghargai tantangan hidup orang lain. Didalamnya terdapat kekuatan untuk mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik bagi semua anak-anak.
*Penulis domisili di Lampung Barat.

