![]() |
| Jamaah Haji tahun 2026 |
Oleh: Junaidi Jamsari
(Catatan untuk Jamaah Haji 2026)
Panggilan haji kembali menggema. Bandara dipenuhi tangis haru. Keluarga melepas, tetangga mendoakan. Doa yang dipanjatkan sama: "Semoga selamat pergi, mabrur pulang."
Lalu, apa yang ditunggu keluarga saat jamaah haji pulang?Menunggu zamzam di bandara.
Haji Bukan Oleh-oleh
Jujur saja. Selain keselamatan, yang paling ditunggu tetangga dan sanak saudara adalah sebotol air zamzam. Katanya, jika belum dapat zamzam, rasanya jamaah belum pulang.
Air zamzam seolah menjadi "stempel" bahwa haji kita sah, bahwa kita sudah bertemu Ka’bah. Padahal, jatah air zamzam jamaah haji Indonesia hanya 5 liter. Aturan penerbangan internasional membatasi cairan.
Tidak jarang, koper diacak-acak, air zamzam disita, lalu kecewa. Ribut di grup WhatsApp: "Haji kok tidak bawa zamzam?"
Pertanyaannya: semudah itukah memaknai haji? Semurah itukah hasil dari perjalanan 40 hari di Tanah Suci?
Perjalanan haji itu melelahkan. Setiap orang punya ceritanya. Ada yang harus menjadi mahram dadakan. Ada yang sakit di Mina. Ada yang tersesat di Jamarat. Ada yang berdesakan masuk Raudhah.
Satu regu dipimpin ketua regu (karu), beberapa regu dipimpin ketua rombongan (karom), dan beberapa rombongan dipimpin ketua kloter. Sistemnya rapi, tetapi manusianya tetap manusia: capek, emosi, rindu rumah.
Waktu di Makkah jauh lebih lama daripada di Madinah. Di sinilah ujian sesungguhnya: bisakah kita khusyuk?
Banyak jamaah fokus pada ibadah mahdhah: tawaf, sa'i, tahallul, lempar jumrah. Selesai. Target ceklis. Namun, lupa ada ibadah ghairu mahdhah yang lebih panjang: sabar saat antre, ikhlas saat makanan telat, menahan marah saat tersenggol, menolong teman seregu yang pingsan.
Padahal, inti haji itu bukan di Ka’bah. Inti haji ada di Bukit Shafa dan Marwah. Belajar dari Siti Hajar.
Sa’i Warisan Tawakal
Di tengah jutaan manusia, ada satu rukun haji yang semua orang pasti melewati: sa’i. Berjalan cepat dari Shafa ke Marwah, tujuh kali.
Namun, berapa banyak yang sadar, sa’i itu napak tilas perjuangan seorang ibu?
Semua bermula ketika Nabi Ibrahim AS diperintah Allah SWT meninggalkan Siti Hajar dan bayi Ismail di lembah tandus Makkah. Tidak ada air. Tidak ada manusia.
Siti Hajar bertanya: "Apakah ini perintah Allah?"
Dijawab Nabi Ibrahim: "Iya."
Lalu dengan tenang ia berkata: "Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami."
Itu tawakal tingkat tertinggi.
Lalu air habis. Ismail menangis. Apa yang dilakukan Siti Hajar? Ia tidak duduk diam menunggu mukjizat. Ia berlari. Dari Shafa ke Marwah. Bolak-balik tujuh kali. Mencari tanda kehidupan. Ikhtiar total.
Baru setelah ikhtiarnya maksimal, pertolongan Allah datang. Malaikat Jibril menghentak tanah, lalu memancarlah air zamzam. Dari ikhtiar seorang ibu, lahirlah sumber air yang menghidupi Makkah sampai kiamat.
Pelajaran dari Siti Hajar
1. Tawakal bukan pasrah.
Siti Hajar yakin Allah tidak akan menelantarkan, tetapi kakinya tetap berlari. Banyak jamaah hari ini pasrah. Sudah takdir kalau tidak khusyuk, namanya juga ramai. Padahal, khusyuk itu diusahakan.
2. Sa’i mengajarkan bahwa hasil itu milik Allah, tetapi proses itu kewajiban kita.
Kita tidak disuruh menciptakan air zamzam. Kita disuruh berlari. Soal air keluar atau tidak, itu urusan Allah.
3. Perempuan bisa mengubah sejarah.
Allah mengabadikan lari seorang ibu menjadi rukun haji. Artinya, Islam memuliakan ikhtiar perempuan. Bukan hanya laki-laki yang bisa menjadi teladan.
Pulang Haji Bawa Apa?
Kalau hanya membawa air zamzam 5 liter, air mineral di toko juga banyak.
Yang harus dibawa pulang adalah “mental Siti Hajar”:
1. Yakin saat diuji sendiri.
Banyak pensiunan, janda, atau orang yang merasa ditinggal dunia. Siti Hajar mengajarkan: jika ini ketetapan Allah, tenang saja. Allah tidak akan menyia-nyiakan.
2. Tetap ikhtiar saat buntu.
Sudah berlari enam kali, air belum ada. Apakah berhenti? Tidak. Lari lagi yang ketujuh. Di situlah pertolongan datang. Banyak dari kita berhenti di ikhtiar ketiga, lalu menyalahkan takdir.
3. Menghidupkan orang lain.
Air zamzam itu bukan untuk Siti Hajar saja, melainkan untuk seluruh penduduk Makkah, sampai hari ini.
Haji yang mabrur itu pulangnya menghidupkan kampung: menjadi penengah, dermawan, penyejuk, bukan orang yang baru pulang langsung meminta dipanggil "Pak Haji".
Siti Hajar dahulu berlari mencari air untuk anaknya. Sebagian orang hari ini hatinya keras. Ada yang menelantarkan anak. Ada yang menyalahgunakan Dana Desa. Ada yang menjual tanah wakaf.
Padahal kita setiap umrah dan haji napak tilas Siti Hajar. Berlari di tempat yang sama. Namun, pulang-pulang, tawakalnya tidak terbawa. Ikhtiarnya tidak dicontoh.
Maka, jamaah haji, mohon diingat. Jika pulang hanya membawa air zamzam, kurma, dan sajadah, itu belum haji. Itu baru oleh-oleh.
Haji mabrur itu pulang membawa tiga hal:
1. Tawakal Siti Hajar. Tenang saat diuji.
2. Ikhtiar Siti Hajar. Tidak diam saat susah.
3. Air Zamzam Siti Hajar menjadi manfaat untuk orang banyak.
Jika tiga hal ini tidak dibawa, berarti kita baru berwisata ke Arab. Belum mampir ke “sekolah” Siti Hajar.
Semoga yang berangkat haji tahun ini pulang bukan sebagai “turis”, melainkan sebagai “Siti Hajar” dan “Ibrahim” versi kampung masing-masing. Yang sanggup berlari tujuh kali demi menghidupi orang lain.
Karena sejatinya, zamzam terbaik bukan yang di galon. Zamzam terbaik adalah diri kita yang pulang menjadi mata air kebaikan untuk keluarga dan tetangga.
Wallahu a’lam bish-shawab.
*Penulis tinggal di Lampung Barat.


