- Oleh: Majid Lintang
Politik Indonesia itu unik. Kadang yang paling gaduh bukan keputusan negara, melainkan satu kalimat pendek yang nyelonong masuk mikrofon saat rapat resmi.
Kali ini panggungnya ada di DPR. Suasananya formal. Presiden Prabowo Subianto baru selesai pidato ekonomi makro RAPBN 2027. Semua tampak khidmat seperti upacara bendera versi elite nasional.
Lalu terdengar suara yang diduga dari Sufmi Dasco Ahmad: “Asal jangan teriak hidup Jokowi.”
Dan seperti biasa, Indonesia langsung berubah menjadi laboratorium tafsir nasional.
Di negeri lain, orang mungkin fokus membahas RAPBN. Di sini, rakyat justru sibuk memutar ulang video sambil memakai headset volume penuh seperti agen FBI sedang menganalisis rekaman rahasia.
Media sosial pun meledak. Ada yang tertawa. Ada yang curiga. Ada yang mendadak jadi ahli membaca gerak bibir. Bahkan mungkin ada yang memutar video itu sambil memperlambat kecepatan 0,25 demi mencari makna filosofis di balik jeda napas.
Beginilah nasib politik kita: satu kalimat bisa melahirkan lebih banyak teori dibanding tugas akhir mahasiswa komunikasi.
Pengamat politik Muhammad Sholeh lalu mempertanyakan hubungan politik Dasco dengan Joko Widodo. Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi di Indonesia, pertanyaan sederhana bisa berkembang menjadi serial 40 episode.
Kelompok anti-Jokowi tentu langsung mendapat bahan bakar baru. Mereka yang sejak lama menganggap bayang-bayang Jokowi masih terlalu panjang di pemerintahan baru mulai mengelus dada sambil berkata: “Nah kan… nah kan…”
Bagi kelompok ini, Jokowi bukan lagi sekadar mantan presiden. Ia sudah seperti mantan pacar yang tetap disebut-sebut meski hubungan resminya selesai.
Sudah pindah pemerintahan, tapi namanya masih muncul di mana-mana. Kadang lebih sering daripada nama ketua RT.
Mereka khawatir politik Indonesia berubah menjadi waralaba kekuasaan. Presidennya boleh berganti, tapi pengaruhnya tetap buka cabang.
Dan memang di sinilah etika politik mulai jadi bahan renungan. Dalam demokrasi sehat, pergantian kekuasaan seharusnya memberi ruang bagi kepemimpinan baru berdiri tegak dengan kaki sendiri, bukan terus hidup dalam bayang-bayang masa lalu.
Sebab kalau semua elite masih sibuk menjaga hubungan emosional-politik dengan penguasa sebelumnya, rakyat bisa bingung: Ini pemerintahan baru atau reuni alumni?
Lucunya, di Indonesia, loyalitas politik kadang lebih rumit daripada hubungan percintaan. Hari ini saling dukung, besok saling sindir, lusa makan siang bareng sambil tersenyum di depan kamera.
Politik kita memang penuh plot twist. Tokoh yang kemarin dikritik habis-habisan bisa tiba-tiba dipeluk mesra demi stabilitas nasional.
Yang menarik sebenarnya bukan soal apakah ucapan Dasco serius atau bercanda. Tetapi kenapa publik begitu sensitif mendengar nama Jokowi disebut.
Jawabannya sederhana: karena masyarakat tahu pengaruh kekuasaan di Indonesia sering tidak pensiun tepat waktu.
Ada semacam keyakinan nasional bahwa mantan pejabat kita itu seperti password WiFi kantor lama—meski sudah diganti, entah kenapa masih bisa tersambung.
Dan akhirnya, satu ucapan kecil di ruang sidang berubah jadi cermin besar tentang etika politik Indonesia: tentang transisi kekuasaan, tentang bayang-bayang pengaruh, dan tentang elite yang kadang sulit benar-benar move on dari lingkaran kekuasaan.
Sementara rakyat?
Rakyat tetap menonton sambil ngopi, mencoba memahami apakah negara ini sedang menjalankan demokrasi… atau cuma sinetron politik dengan pemain yang itu-itu lagi.
*Penulis jurnalis senior


