-->
Cari Berita

Breaking News

Suara Pinggiran: Polisi Kilat, Keadilan Lambat

Dibaca : 0
 
INILAMPUNG
Sabtu, 23 Mei 2026

LOleh: Majid Lintang 


Di negeri +62, ada dua hal yang bergerak sangat cepat: diskon tanggal kembar di marketplace dan polisi kalau korbannya sesama polisi. Selebihnya? Ya, kita tahu sendiri. Bahkan mie instan saja masih butuh tiga menit untuk matang, sementara beberapa kasus kriminal bisa bertahun-tahun direbus tanpa pernah jadi hidangan bernama “keadilan”.

Polda Lampung baru saja menuai pujian. Tim Tekab 308 hanya perlu enam hari untuk menggulung komplotan curanmor bersenjata api yang menewaskan Bripka Arya Sumpena. Enam hari. Bukan enam purnama. Bukan enam musim tanam jagung. Enam hari saja. Cepat sekali sampai-sampai masyarakat mungkin berpikir Tekab 308 ini bukan polisi, tapi kurir ekspres dengan layanan same week delivery.

Publik tentu lega. Di tengah maraknya begal, curanmor, dan kriminal jalanan yang kadang lebih rajin patroli daripada RT setempat, ketegasan aparat memberi rasa aman. Apalagi satu pelaku ditembak mati karena melawan. Pesannya jelas: kalau melawan aparat, risikonya bukan cuma masuk berita, tapi juga masuk liang lahat lebih cepat.

Tepuk tangan pun bergemuruh. Netizen mendadak kompak. Yang biasanya ribut soal sambal mie instan kini sepakat memuji polisi. Jarang-jarang ada persatuan nasional selain saat Timnas main atau server TikTok Shop error.

Tapi seperti biasa, di balik tepuk tangan selalu ada suara kecil yang berbisik: “Kalau bisa secepat ini, kenapa yang lain masih mandek?”

Nah, di sinilah nama Riyas Nuraini kembali mengetuk nurani publik.

Kasus pembunuhan ibu rumah tangga sekaligus pedagang online asal Lampung Timur itu seperti sinetron yang kehilangan penulis skenario. Dimulai tragis, penuh teka-teki, lalu berputar-putar tanpa ending. Riyas ditemukan tewas mengenaskan di dalam karung pada Juli 2024. Jasadnya tergeletak di atas motor di kebun jagung. Sebuah adegan yang bahkan film kriminal televisi pun mungkin menolak karena terlalu kelam.

Masalahnya, kasus ini bukan tanpa petunjuk. Polisi sudah memeriksa 19 saksi. Dari suami, keluarga, tetangga, sampai saksi di lokasi. Perhiasan korban masih utuh, sehingga motif perampokan hampir otomatis gugur. Ada pula temuan forensik berupa cairan misterius yang diuji laboratorium. Artinya, bahan penyelidikan bukan nol. Ini bukan mencari jarum di dasar laut sambil mata ditutup.

Tapi anehnya, pelaku tetap seperti jin. Ada kabarnya, tapi tak ada wujudnya.

Publik akhirnya mulai bertanya dengan nada setengah curiga: apakah mesin kecepatan polisi hanya aktif kalau korbannya aparat? Jangan-jangan ada dua mode kerja: “turbo” dan “hemat baterai”.

Ini tentu persepsi yang berbahaya. Sebab hukum mestinya tidak memakai sistem kasta. Nyawa Bripka Arya berharga. Tapi nyawa Riyas Nuraini juga berharga. Anak Bripka Arya kehilangan ayah. Anak Riyas kehilangan ibu. Air mata mereka sama-sama asin. Kesedihan tidak mengenal pangkat.

Masalah terbesar institusi penegak hukum sering kali bukan kurang personel atau kurang senjata, melainkan kurang konsistensi. Polisi kita kadang seperti tukang cukur yang hebat mencukur sebelah kepala, tapi lupa menyelesaikan sisi lainnya. Publik jadi bingung: ini memang belum selesai atau sengaja dibiarkan gondrong?

Padahal keberhasilan mengungkap kasus Bripka Arya justru membuktikan bahwa Polda Lampung punya kemampuan luar biasa. Mereka bisa bergerak cepat, terukur, dan efektif kalau semua energi dikerahkan. Artinya persoalannya bukan “bisa atau tidak bisa”, melainkan “mau sekeras apa”.

Dan masyarakat sekarang tidak sekadar butuh polisi yang sigap saat kamera menyorot. Publik ingin polisi yang tetap gigih bahkan ketika trending topic sudah lewat. Sebab keadilan bukan konten media sosial yang hilang setelah 24 jam.

Kasus Riyas Nuraini jangan sampai menjadi lemari arsip berdebu yang hanya dibuka saat ada tekanan publik. Jangan sampai masyarakat menghafalnya sebagai “kasus dingin”, sementara pelakunya bebas menyeruput kopi tiap pagi sambil melihat berita penyelidikan yang tak kunjung selesai.

Karena sesungguhnya, apresiasi terbesar untuk polisi bukanlah tepuk tangan atas penangkapan kilat. Melainkan kepercayaan bahwa siapa pun korbannya—anggota polisi atau pedagang online—negara akan mengejar keadilan dengan napas yang sama panjangnya.

Kalau tidak, masyarakat bisa mulai percaya bahwa di negeri ini, keadilan bekerja seperti WiFi kantor kelurahan: kencang kalau pejabat datang, lemot kalau rakyat biasa yang memakai.

 *Penulis jurnalis senior.

LIPSUS