![]() |
| Toni Ferdiansyah, Kadis Parekraf Provinsi Lampung |
INILAMPUNGCOM --- Potensi kepariwisataan di Provinsi Lampung amat sangat prospektif bagi peningkatan ekonomi masyarakat dan daerah. Hal ini pun mendapat perhatian serius dari Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dan Wagub Jihan Nurlela.
Dan petang nanti, di Ruang Rapat Utama (Rupatama) Kantor Gubernur Lampung di Telukbetung, digelar rapat koordinasi pengembangan destinasi wisata unggulan guna membentuk Kawasan Wisata Terpadu (KWT) di Lampung. Bagaimana konsep yang dimiliki Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Lampung terkait hal itu?
Secara khusus Kadis Parekraf Lampung, Toni Ferdinansyah, membeberkannya dalam wawancara dengan inilampung.com, Selasa (12/5/2026) pagi. Berikut petikannya:
Sejauhmana kesiapan melahirkan KWT di Lampung sampai saat ini?
Begini. Kita harus pahami dulu bahwa Kawasan Wisata Terpadu atau KWT itu merupakan upaya nyata membangun pariwisata terpadu, berkelanjutan, dan berdampak bagi masyarakat. Jadi konkret arahnya.
Oke, mengenai penyusunan rencana KWT sendiri bagaimana?
Penyusunan rencana induk Kawasan Pariwisata Terpadu (KWT) di Lampung fokusnya pada tiga kabupaten, yaitu Lampung Selatan, Pesawaran, dan Tanggamus. Tiga wilayah itu diarahkan untuk membangun pariwisata Lampung secara lebih terintegrasi, terencana, berdaya saing, dan memberi manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
Mengapa harus ada KWT?
KWT itu untuk memastikan bahwa pengembangan pariwisata tidak berjalan sendiri-sendiri. Melalui rencana induk ini, potensi pantai, pulau-pulau kecil, desa wisata, ekowisata, budaya lokal, kuliner, amenitas, aksesibilitas, dan investasi akan dirangkai dalam satu sistem destinasi yang saling terhubung.
Kalau untuk Lampung Selatan, alur KWT diarahkan kemana?
Di Lampung Selatan, penyusunan KWT diarahkan untuk memperkuat peran Kalianda dan sekitarnya sebagai kawasan strategis yang dekat dengan pusat ekonomi nasional dan pintu gerbang Sumatra.
Tujuan atau target yang hendak dicapai?
Tujuan utamanya adalah meningkatkan waktu kunjungan dan belanja wisatawan, memperkuat keterpaduan tata ruang dan kebijakan pembangunan, serta menarik investasi pariwisata yang mampu meningkatkan kesejahteraan secara berkelanjutan.
Kalau di Pesawaran?
Di Pesawaran, KWT disusun untuk mengintegrasikan wisata bahari, pulau-pulau kecil, pantai, desa wisata, dan wisata alam daratan dengan dukungan konektivitas yang kuat dari Bandarlampung sebagai pasar utama.
Menurut Anda, apa keunggulan yang dimiliki Pesawaran?
Pesawaran memiliki keunggulan komparatif sebagai kawasan wisata pesisir dan kepulauan. Termasuk keberadaan 38 pulau, sehingga membutuhkan pengelolaan yang lebih terpadu, tidak hanya tumbuh secara organik.
Bagaimana dengan Tanggamus?
Di Kabupaten Tanggamus, KWT diarahkan untuk merumuskan pengembangan kawasan wisata yang terintegrasi, berdaya saing, dan berkelanjutan dengan menghubungkan potensi bahari, pesisir, desa wisata, dan ekowisata.
Keunggulan yang ada di Tanggamus itu apa?
Tanggamus memiliki diferensiasi kuat melalui lanskap pesisir dramatis, ekowisata, geowisata, Teluk Kiluan, serta koridor menuju Gigi Hiu. Ini semua berpotensi menjadi penguat ekonomi lokal dan koridor wisata selatan-barat Lampung.
Pesan yang ditargetkan dari penetapan KWT ini sebenarnya apa?
Secara keseluruhan, penyusunan KWT di tiga kabupaten tersebut mengusung pesan utama: Pariwisata Lampung Harus Naik Kelas.
Konkretnya seperti apa?
Kumpulan objek wisata menjadi sistem kawasan wisata yang terkoneksi, tertata, ramah investasi, berbasis masyarakat, dan menjaga keberlanjutan lingkungan. (zal/inilampung)


